Pengantar Surah Al-Maidah
Surah Al-Maidah (سورة المائدة), yang berarti "Alat Hidangan" atau "Perjamuan", adalah surah ke-5 dalam Al-Qur'an. Surah ini termasuk golongan surah Madaniyah dan merupakan salah satu surah terpanjang, membahas berbagai aspek penting dalam kehidupan sosial, hukum, dan ritual keagamaan umat Islam setelah hijrah. Nama "Al-Maidah" diambil dari kisah permintaan kaum Hawariyyin kepada Nabi Isa AS agar Allah menurunkan hidangan dari langit.
Surah ini kaya akan aturan-aturan syariat, mulai dari ketentuan makanan halal dan haram, hukum hudud (hukuman pidana), pentingnya menepati janji dan akad, hingga kisah-kisah kenabian. Pemahaman mendalam terhadap terjemahan Surah Al-Maidah sangat krusial karena mencakup landasan-landasan hukum yang mengatur interaksi Muslim dengan sesama Muslim maupun non-Muslim.
Contoh Terjemahan Ayat Pilihan (Ayat 1-3)
Hai orang-orang yang beriman, penuhilah segala janji (kontrak) dan perjanjian (akad). Dihalalkan bagimu binatang ternak, kecuali yang akan dibacakan kepadamu (dilarang), sedang yang lain halal di luar apa yang disebutkan. Sesungguhnya Allah menetapkan hukum menurut apa yang dikehendaki-Nya.
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan (mengganggu) kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) hadyu (hewan korban), jangan (mengganggu) qalā'id (unta atau hewan lain yang diberi tanda sebagai kurban), dan jangan pula mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan Tuhannya. Dan apabila kamu telah selesai berihram, maka burulah (binatang buruan). Dan janganlah sekali-kali kebencian (alasan) sesuatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, daging hewan yang disembelih atas nama selain Allah, yang dicekik, yang dipukul, yang jatuh (dari ketinggian), yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas, kecuali binatang yang sempat kamu menyembelihnya sebelum mati, dan (diharamkan bagimu) binatang yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan) mengundi nasib dengan anak panah. (Mengundi nasib dengan anak panah) itu adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan bagimu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan tanpa berdosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
Pentingnya Memahami Konteks Hukum
Surah Al-Maidah secara spesifik memberikan penekanan kuat pada aspek keadilan dan kepatuhan terhadap hukum ilahi. Ayat 8 dari surah ini adalah salah satu ayat yang paling sering dikutip mengenai keharusan bersikap adil, bahkan terhadap mereka yang kita benci: "Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan karena Allah bila menjadi saksi; dan janganlah kebencianmu terhadap sesuatu kaum mendorongmu untuk tidak berlaku adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa..."
Terjemahan Surah Al-Maidah juga menyajikan kisah tentang "hidangan" (Al-Maidah) yang diturunkan sebagai mukjizat bagi pengikut Nabi Isa AS. Kisah ini, sebagaimana tercantum dalam ayat 112-115, mengingatkan umat beriman tentang pentingnya menjaga integritas iman setelah menerima nikmat atau mukjizat. Ketika mukjizat telah terbukti dan ajaran telah sempurna, tantangannya beralih dari pembuktian ke ketaatan.
Regulasi dan Etika dalam Al-Maidah
Selain penetapan hukum makanan (Ayat 3), Al-Maidah juga mengatur tata cara pernikahan, ketentuan dalam peperangan, dan batasan dalam bersumpah. Surah ini menunjukkan kedewasaan komunitas Muslim di Madinah yang memerlukan kerangka hukum yang komprehensif untuk mengatur seluruh aspek kehidupan.
Penyempurnaan agama yang disebutkan dalam Ayat 3 merupakan penegasan bahwa ajaran Islam telah utuh dan tidak memerlukan tambahan dari luar setelah wahyu ini diturunkan. Oleh karena itu, mempelajari terjemahan surah ini bukan sekadar memahami narasi, melainkan menginternalisasi prinsip-prinsip syariat yang mencakup etika, sosial, dan ritual. Memahami setiap kata dan makna dalam terjemahan Surah Al-Maidah membantu seorang Muslim menavigasi tantangan kehidupan modern dengan berpegangan teguh pada petunjuk yang telah ditetapkan.
Total keseluruhan ayat dalam Surah Al-Maidah berjumlah 120 ayat. Membaca dan merenungkan terjemahan lengkapnya memberikan wawasan luas tentang bagaimana Islam mengatur kehidupan yang seimbang antara dunia dan akhirat, senantiasa menekankan keadilan, kejujuran, dan ketakwaan kepada Allah SWT.