Bagi sebagian pria, pengalaman tidak dapat mengeluarkan sperma (ejakulasi) saat berhubungan seksual atau mencapai orgasme bisa menimbulkan kebingungan, kecemasan, bahkan kekhawatiran tentang kesehatan atau kesuburan. Fenomena ini dikenal secara medis sebagai anejakulasi atau ejakulasi tertunda (delayed ejaculation). Penting untuk dipahami bahwa ini adalah kondisi yang cukup bervariasi dan memiliki berbagai penyebab, mulai dari faktor psikologis hingga kondisi medis yang memerlukan perhatian.
Ejakulasi adalah proses kompleks yang melibatkan stimulasi saraf, kontraksi otot, dan pelepasan cairan mani dari uretra. Ketika seorang pria mengalami orgasme tetapi cairan mani tidak keluar, ini bisa disebabkan oleh terhentinya salah satu tahapan dalam proses tersebut. Tidak keluarnya sperma tidak selalu berarti tidak ada produksi sperma, namun lebih merujuk pada kegagalan proses pengeluaran.
Penyebab mengapa seseorang tidak mengeluarkan sperma saat berhubungan sangat beragam. Mengidentifikasi akar masalah adalah langkah pertama menuju penanganan yang tepat. Beberapa faktor pemicu utama meliputi:
Kesehatan mental memainkan peran signifikan dalam fungsi seksual. Stres, kecemasan kinerja (performance anxiety), depresi, atau ketegangan dalam hubungan intim dapat menekan sistem saraf yang bertanggung jawab atas ejakulasi. Jika pikiran terlalu fokus pada kekhawatiran, tubuh mungkin gagal memicu respons fisik yang diperlukan.
Salah satu penyebab medis yang paling umum adalah efek samping dari beberapa jenis obat resep. Obat-obatan tertentu, terutama antidepresan golongan SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors) yang digunakan untuk mengobati depresi dan gangguan kecemasan, seringkali memiliki efek samping berupa penundaan atau bahkan penghambatan ejakulasi total.
Ejakulasi bergantung pada fungsi saraf yang baik. Kerusakan saraf akibat kondisi seperti diabetes jangka panjang, cedera tulang belakang, atau penyakit neurologis tertentu (misalnya, penyakit Parkinson atau sklerosis multipel) dapat mengganggu sinyal saraf dari otak ke organ reproduksi, sehingga menghambat proses ejakulasi.
Tingkat hormon yang tidak seimbang, terutama testosteron rendah (hipogonadisme), meskipun lebih sering dikaitkan dengan penurunan libido, terkadang juga dapat mempengaruhi fungsi ejakulasi.
Ini adalah kondisi di mana cairan mani masuk ke kandung kemih alih-alih keluar melalui penis. Selama orgasme, otot sfingter leher kandung kemih gagal menutup sepenuhnya. Meskipun orgasme dirasakan, air mani akan keluar melalui urin saat buang air kecil berikutnya. Kondisi ini sering terjadi pada pria pasca operasi prostat atau mereka yang menderita diabetes.
Seiring bertambahnya usia, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai ejakulasi bisa meningkat secara alami. Selain itu, konsumsi alkohol berlebihan dan kebiasaan merokok juga dapat berdampak negatif pada kesehatan pembuluh darah dan saraf, yang esensial untuk fungsi seksual yang optimal.
Jika kondisi tidak mengeluarkan sperma terjadi sesekali, mungkin tidak perlu dikhawatirkan, terutama jika Anda sedang mengalami stres tinggi. Namun, jika kondisi ini terjadi secara konsisten dan menyebabkan tekanan emosional atau mengganggu hubungan intim Anda, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter, khususnya spesialis urologi atau andrologi.
Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh, yang mungkin mencakup:
Penanganan akan sangat bergantung pada penyebabnya. Jika disebabkan oleh obat, dokter mungkin menyesuaikan dosis atau mengganti jenis obat. Jika faktornya psikologis, terapi perilaku atau konseling seksual mungkin diperlukan. Dengan diagnosis yang tepat, banyak kasus anejakulasi dapat dikelola atau diatasi.
Penting: Artikel ini bertujuan memberikan informasi umum. Informasi kesehatan harus selalu dikonsultasikan dengan tenaga medis profesional untuk diagnosis dan penanganan yang akurat sesuai kondisi spesifik Anda.