Ilustrasi perjalanan malam suci.
Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surah ke-17 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Surah ini memiliki kedudukan istimewa karena memuat kisah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW (Isra' Mi'raj) dan berbagai prinsip penting dalam akidah, hukum, serta etika kehidupan sosial. Mempelajari dan menuliskan surah ini adalah sebuah ibadah yang mendalam.
Pembukaan Surah Al-Isra (ayat 1) langsung menyinggung mukjizat terbesar dalam sejarah Islam, yaitu perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, dan kemudian dilanjutkan ke Sidratul Muntaha (Mi'raj). Ayat ini menegaskan kesucian Allah (Subhanahu wa Ta'ala) yang Maha Kuasa:
Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Setelah menjelaskan peristiwa agung tersebut, Allah SWT mengingatkan tentang kedudukan Nabi Musa AS dan bagaimana wahyu diturunkan kepadanya. Kemudian, surah ini beralih membahas perintah-perintah dasar yang harus dipegang teguh oleh umat manusia.
Salah satu bagian paling fundamental dari Surah Al-Isra adalah sepuluh perintah utama yang sering disebut sebagai "Sepuluh Perintah Allah" (Ayat 23-39). Perintah ini mencakup landasan akhlak seorang Muslim:
Surah ini secara tegas melarang penyekutuan Allah (syirik) dan menekankan pentingnya berbuat baik kepada kedua orang tua. Keduanya adalah inti dari hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan sesama manusia):
Dan Tuhanmu telah menetapkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai mencapai umur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu menghardik mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.
Selain itu, surah ini juga membahas hak-hak sosial lainnya seperti menjaga amanah, menunaikan janji, menjaga takaran dalam jual beli, dan menjauhi perbuatan zina. Semua poin ini merupakan fondasi masyarakat yang adil dan Islami.
Bagian akhir surah ini memberikan peringatan keras kepada mereka yang sombong dan mengingkari kebangkitan. Allah SWT mengingatkan manusia bahwa penciptaan mereka adalah bukti kekuasaan-Nya, dan semua amalan akan dihisab.
Surah Al-Isra mengajarkan bahwa ilmu pengetahuan manusia sangat terbatas dibandingkan keagungan ilmu Allah. Meskipun manusia mungkin mampu menguasai alam, mereka tidak akan pernah bisa menguasai hakikat ruh atau mengetahui seluruh rahasia alam gaib.
Secara keseluruhan, Surah Al-Isra berfungsi sebagai kompendium ajaran moral yang meliputi aspek tauhid, penghormatan terhadap orang tua, keadilan ekonomi, dan kerendahan hati di hadapan kebesaran Allah SWT. Menuliskan kembali setiap ayat dengan penuh tadabbur (perenungan) akan memperkuat keimanan dan memperbaiki perilaku sehari-hari. Keindahan surah ini terletak pada keseimbangan antara mukjizat supranatural (Isra' Mi'raj) dan tuntunan praktis kehidupan duniawi.
Ayat terakhir surah ini menegaskan bahwa segala puji hanya milik Allah dan merupakan penutup yang sempurna bagi pembahasan perjalanan agung dan syariat yang telah diturunkan.
Dan katakanlah: "Segala puji bagi Allah Yang tidak mempunyai anak dan sekali-kali tidak mempunyai sekutu bagi-Nya dalam kekuasaan-Nya, dan tidak (pula) mempunyai penolong karena adanya kelemahan, dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya."