Menyelami makna firman Allah mengenai penjagaan Al-Qur'an.
Surat Al-Hijr adalah surat ke-15 dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 99 ayat. Ayat kesembilan dari surat ini memiliki kedudukan yang sangat penting karena menegaskan salah satu janji terbesar Allah SWT kepada umat manusia terkait pemeliharaan wahyu-Nya.
Innā naḥnu nazzalna adh-Dzikra wa innā lahu laḥāfiẓūn(a).
Ayat ini adalah penegasan yang tegas dan mutlak dari Allah SWT. Kata kunci utama dalam ayat ini adalah "Dzikr" (الذِّكْرَ) yang merujuk pada Al-Qur'an, dan "Ḥāfiẓūn" (لَحَافِظُونَ) yang berarti pemelihara atau penjaga.
1. Penegasan Sumber Wahyu: Frasa "Innā naḥnu nazzalna" (Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan) menegaskan bahwa Al-Qur'an bukan ciptaan Nabi Muhammad SAW, bukan hasil pemikiran filsuf, bukan pula akumulasi hikmah manusia. Ia adalah Kalamullah (Firman Allah) yang diturunkan langsung melalui wahyu kepada Rasul-Nya.
2. Janji Pemeliharaan Abadi: Inilah inti dari ayat ini. Allah berjanji akan menjaga Al-Qur'an dari perubahan, penambahan, pengurangan, atau penyimpangan makna hingga akhir zaman. Berbeda dengan kitab-kitab suci terdahulu yang mungkin telah mengalami distorsi seiring waktu karena campur tangan manusia, Al-Qur'an terjamin keasliannya.
Keaslian ini mencakup tiga aspek utama:
Janji perlindungan ini memberikan ketenangan luar biasa bagi umat Islam. Ini memastikan bahwa pedoman hidup yang mereka ikuti adalah otentik dan bersumber langsung dari Sang Pencipta alam semesta.
Surat Al-Hijr diturunkan di Mekkah pada periode ketika Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya menghadapi tekanan hebat dari kaum musyrikin yang berusaha mendiskreditkan Al-Qur'an. Mereka menuduh Nabi sebagai penyair, orang gila, atau bahwa Al-Qur'an itu "karangan sendiri".
Ayat 9 ini berfungsi sebagai bantahan ilahiah yang definitif terhadap semua tuduhan tersebut. Allah tidak hanya membela Rasul-Nya, tetapi juga memberikan jaminan keamanan terhadap teks wahyu itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa misi kenabian Muhammad SAW adalah murni penyampaian risalah yang dijaga keotentikannya oleh Allah.
Perlu dicatat bahwa janji penjagaan ini adalah sesuatu yang unik bagi Al-Qur'an jika dibandingkan dengan kitab-kitab suci sebelumnya (seperti Taurat dan Injil). Kitab-kitab terdahulu juga diwahyukan oleh Allah, namun Allah tidak menjamin penjagaan lafadznya dari kesalahan manusia setelah diturunkan, sehingga membutuhkan koreksi dan penyempurnaan melalui Al-Qur'an.
Meskipun Allah menjamin pemeliharaan secara mutlak ("Innā lahu laḥāfiẓūn"), janji tersebut diwujudkan melalui sarana-sarana yang diciptakan-Nya. Ini termasuk:
Oleh karena itu, ayat ini tidak hanya merupakan penegasan dari Allah, tetapi juga motivasi besar bagi umat Islam untuk berperan aktif dalam memelihara warisan agung ini.
Surat Al-Hijr ayat 9 adalah fondasi kepercayaan umat Islam terhadap keotentikan Al-Qur'an. Keindahan ayat ini terletak pada kepastiannya. Ketika dunia berubah, nilai-nilai modernitas datang dan pergi, Al-Qur'an berdiri teguh sebagai sumber hukum, moralitas, dan spiritualitas yang tidak termakan oleh waktu.
Keterpeliharaan ini adalah mukjizat yang berkelanjutan, bukti nyata bahwa Islam adalah agama yang dijaga secara ilahiah. Membaca, merenungkan, dan mengamalkan ayat ini meningkatkan keyakinan kita bahwa petunjuk yang kita ikuti adalah petunjuk yang murni dari Allah SWT.