Ilustrasi Perjalanan Malam dan Kemuliaan Allah

Surat Al-Isra Ayat 1: Keagungan Perjalanan Malam

Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Ayat pertama surat ini memiliki makna yang sangat mendalam dan menjadi pembuka yang agung bagi pembahasan mengenai kebesaran Allah SWT, terutama terkait dengan peristiwa yang diabadikan dalam nama surat tersebut, yaitu Isra' Mi'raj.

Ayat pembuka ini menegaskan kemahakuasaan Allah yang mampu melakukan hal-hal luar biasa yang melampaui logika manusia biasa, sebuah pengantar yang sangat kuat untuk mengingatkan pembaca akan kebesaran Tuhan semesta alam.

Teks dan Terjemahan Al-Isra Ayat 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Penjelasan Mendalam Ayat Pertama Al-Isra

Ayat ini dibuka dengan kalimat tasbih agung: "Subhanalladzi..." (Maha Suci Allah). Penggunaan kata "Subhan" di awal ayat adalah penegasan bahwa segala puji dan kesucian hanya milik Allah, terutama ketika hendak menceritakan peristiwa yang menakjubkan dan tidak mungkin terjadi tanpa campur tangan ilahi.

1. Perjalanan di Malam Hari (Isra')

Inti pertama ayat ini adalah peristiwa Isra', yaitu perjalanan malam yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. Kata "asra bi 'abdihi" (memperjalankan hamba-Nya) menunjukkan bahwa peristiwa ini adalah murni kehendak dan kuasa Allah yang memindahkan Rasul-Nya. Kata "hamba-Nya" (abdih) menekankan status agung Nabi Muhammad SAW sebagai utusan pilihan Allah, sekaligus menunjukkan kerendahan hati beliau di hadapan Sang Pencipta.

Perjalanan ini dimulai dari Al-Masjidil Haram (Ka'bah di Makkah) menuju Al-Masjidil Aqsa (Baitul Maqdis di Yerusalem). Perjalanan fisik yang luar biasa cepat pada malam hari ini adalah mukjizat yang membuktikan kebenaran kenabian beliau kepada kaum yang meragukan.

2. Keberkahan Sekitar Masjidil Aqsa

Allah SWT menyebutkan sifat khusus dari Masjidil Aqsa, yaitu "Alladzi barakna hawlahu" (yang telah Kami berkahi sekelilingnya). Keberkahan ini mencakup limpahan rahmat, kesuburan bumi, dan juga sebagai tempat di mana banyak nabi diutus sebelum Nabi Muhammad SAW. Dengan menjadikan Masjidil Aqsa sebagai tujuan Isra', Allah mengaitkan misi kerasulan Nabi Muhammad SAW dengan tradisi kenabian sebelumnya.

3. Tujuan Mukjizat: Melihat Tanda-Tanda Kebesaran Allah

Tujuan utama dari perjalanan ini dijelaskan dengan jelas: "Linuriyahu min ayatina" (agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda Kami). Peristiwa Isra' Mi'raj, yang seringkali dianggap sebagai satu kesatuan, adalah ajang pembuktian langsung bagi Nabi Muhammad SAW mengenai alam ghaib dan keagungan ciptaan Allah di atas batas pemahaman manusia normal. Ini menguatkan iman beliau saat menghadapi tantangan dakwah.

4. Penutup Ayat: Sifat Allah yang Sempurna

Ayat ditutup dengan penegasan sifat-sifat Allah yang relevan dengan peristiwa tersebut: "Innahu Huwas-Sami'ul-Bashir" (Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat). Allah Maha Mendengar setiap doa dan keluh kesah Nabi-Nya, serta Maha Melihat setiap detail perjalanan malam yang mustahil tersebut. Sifat ini memberikan jaminan bahwa pengawasan dan pertolongan Allah selalu hadir.

Implikasi dan Refleksi

Surat Al-Isra ayat 1 menjadi fondasi teologis penting. Ia mengajarkan bahwa di balik peristiwa yang tampaknya tidak masuk akal, terdapat hikmah dan kekuasaan Ilahi yang tak terbatas. Bagi seorang mukmin, ayat ini adalah pengingat konstan bahwa Allah mampu melakukan apa pun, dan ketika Allah memilih untuk menunjukkan tanda-tanda-Nya, itu adalah pelajaran terbesar bagi kemanusiaan. Kepercayaan ini seharusnya mendorong umat Islam untuk selalu berserah diri dan meningkatkan ketakwaan, karena mereka dipimpin oleh seorang hamba yang telah disaksikan langsung oleh Tuhan akan keagungan-Nya.

🏠 Homepage