Dalam lembaran-lembaran Al-Qur'an, terdapat ayat-ayat yang secara spesifik mengingatkan manusia tentang keagungan dan kekuasaan mutlak Allah SWT. Salah satu penekanan ini terdapat dalam Surah Al-Hijr (Surah ke-15), khususnya pada ayat ke-16. Ayat ini sering menjadi perenungan mendalam mengenai bagaimana Sang Pencipta mengatur alam semesta dengan presisi yang sempurna.
Ayat ini dibuka dengan penegasan yang kuat: "Wa laqad ja'alna..." (Dan sungguh, Kami telah menempatkan...). Penggunaan kata 'sungguh' menunjukkan kepastian dan penekanan bahwa apa yang disampaikan adalah fakta yang telah ditetapkan oleh Allah. Fokus utama ayat ini adalah penciptaan dan penataan gugusan bintang atau rasi bintang di langit, yang dalam bahasa Arab disebut "buruj".
Kata 'buruj' secara harfiah berarti benteng atau bangunan yang tinggi, namun dalam konteks astronomi, ia merujuk pada rasi-rasi bintang yang signifikan atau gugusan bintang tertentu yang tampak jelas di langit malam. Para mufasir menafsirkan ini sebagai tanda-tanda yang ditata dengan tujuan spesifik.
Keindahan ciptaan Allah ini tidak hanya sekadar pemandangan visual, melainkan juga memiliki fungsi ganda. Pertama, secara filosofis dan teologis, keberadaan gugusan bintang yang teratur ini adalah bukti nyata kebesaran dan kebijaksanaan Allah. Keteraturan pergerakan benda-benda langit ini adalah argumen kuat bagi kaum yang berakal bahwa alam semesta ini pasti memiliki Perancang Agung.
Kedua, ayat tersebut menambahkan frasa "wa zayyannahaa linnazirin", yaitu "dan Kami memperindahnya bagi orang-orang yang melihat." Keindahan yang disajikan melalui bintang-bintang—cahaya gemerlapnya, formasi yang memesona—adalah suguhan estetika yang ditujukan khusus bagi para pengamat, mereka yang menggunakan mata dan pikirannya untuk merenung.
Penting untuk dicatat bahwa keindahan di sini bukan sekadar hiasan tanpa tujuan. Dalam perspektif Islam, keindahan (tazayyun) dalam ciptaan berfungsi sebagai sarana dakwah yang halus. Ketika seseorang menatap langit malam yang dipenuhi bintang-bintang, rasa takjub yang timbul harus mengarahkan pikirannya kepada Sang Pencipta. Bintang-bintang berfungsi sebagai penanda navigasi (sebagaimana disebutkan dalam ayat setelahnya, Al-Hijr: 17) sekaligus sebagai pengingat akan keterbatasan diri manusia di hadapan keluasan kosmos yang dikendalikan oleh Allah.
Bayangkan seorang musafir di padang pasir yang gelap gulita. Gugusan bintang yang teratur bukan hanya indah, tetapi juga vital untuk menentukan arah pulang. Keindahan tersebut hadir bersamaan dengan manfaat praktis. Hal ini menunjukkan bahwa Allah SWT merancang segala sesuatu, dari hal terkecil hingga yang terbesar, dengan integrasi sempurna antara keindahan, keteraturan, dan kemanfaatan.
Al-Hijr ayat 16 mengajarkan kita sebuah prinsip mendasar dalam tauhid: bahwa tatanan alam semesta bukanlah hasil kebetulan, melainkan hasil dari penetapan ilahi yang penuh perhitungan. Ketika kita melihat keteraturan orbit planet, siklus musim, dan penempatan bintang-bintang yang stabil, kita sedang menyaksikan manifestasi dari kekuasaan yang mengatur segala sesuatu tanpa kelelahan atau penyimpangan.
Bagi seorang mukmin, perenungan ayat ini seharusnya meningkatkan rasa syukur dan ketundukan. Keindahan yang disajikan adalah hadiah gratis dari Sang Maha Kaya, yang tujuannya adalah agar manusia berhenti sejenak dari kesibukannya di bumi dan mengangkat pandangan ke cakrawala kosmik.
Jika Allah begitu teliti dan indah dalam menciptakan benda-benda langit yang jaraknya tak terjangkau akal kita sepenuhnya, maka sudah sepatutnya kita lebih tunduk pada perintah-Nya dalam kehidupan sehari-hari. Keteraturan kosmik mencerminkan tuntutan akan keteraturan spiritual dan moral dalam hidup manusia.
Oleh karena itu, Al-Hijr ayat 16 lebih dari sekadar deskripsi astronomis; ini adalah undangan reflektif untuk mengagumi Sang Maha Agung, yang tidak hanya menciptakan tetapi juga menghiasi ciptaan-Nya dengan keindahan yang menawan, semuanya demi kebaikan dan peringatan bagi mereka yang mau berpikir dan melihat.
Memahami ayat ini membantu kita menyadari bahwa setiap fenomena alam, termasuk cahaya bintang yang kita nikmati dari bumi, adalah bagian dari sistem besar yang dirancang dengan kesempurnaan tanpa cela. Mengagumi keindahan bintang-bintang adalah cara kita merespons sebagian dari janji Allah SWT yang termaktub dalam Al-Qur'an.