Gambar simbolik tentang kebenaran dan ketetapan Ilahi.
Surat Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, terdiri dari 111 ayat yang membahas berbagai aspek keimanan, sejarah, moralitas, dan hukum dalam Islam. Ayat 55 ini muncul dalam konteks yang sangat penting, yaitu penegasan tauhid (keesaan Allah) dan bantahan terhadap praktik syirik yang dilakukan oleh sebagian masyarakat Mekkah saat itu, yaitu menyembah selain Allah SWT.
Ayat ini merupakan tantangan langsung dari Allah melalui Rasul-Nya Muhammad SAW kepada orang-orang musyrik. Mereka menyembah berhala atau entitas lain (seperti malaikat, jin, atau tokoh suci) dengan keyakinan bahwa entitas tersebut memiliki kekuatan untuk menolong mereka atau menghilangkan kesulitan. Allah memerintahkan Nabi untuk mengatakan kepada mereka: "Serulah (panggillah) tuhan-tuhan yang kamu anggap (sebagai sesembahan) selain Dia."
Tantangan ini bersifat logis dan empiris. Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan kelemahan dan ketidakmampuan total dari objek-objek persembahan selain Allah. Ketika manusia dihadapkan pada cobaan berat, penyakit yang mengancam jiwa, atau bencana alam yang mengerikan, persembahan mereka tidak mampu memberikan kontribusi sedikit pun dalam menghilangkan atau mengubah kondisi tersebut.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "maka mereka tidak akan mempunyai kekuasaan untuk menghilangkan bahaya daripadamu dan tidak (pula) untuk memindahkannya." Ini menegaskan dua aspek penting dari kekuasaan ilahi:
Dalam tafsir Ibnu Katsir dan penjelasan para ulama lainnya, ayat ini memperkuat prinsip bahwa segala bentuk doa (permohonan pertolongan) dan penyembahan harus diarahkan hanya kepada Allah. Karena hanya Dia yang memiliki kuncinya. Jika sembahan selain-Nya tidak mampu memberikan solusi saat kesulitan puncak melanda, maka penyembahan kepada mereka adalah sia-sia dan merupakan bentuk penipuan diri.
Meskipun konteks utama ayat ini adalah menolak kemusyrikan zaman Nabi, pelajaran yang terkandung di dalamnya sangat relevan hingga hari ini. Dalam kehidupan modern, banyak manusia mencari jalan pintas atau bergantung pada "kekuatan" lain selain Tuhan, baik itu takhayul, kepercayaan pada objek-objek tertentu, atau bahkan terlalu bergantung pada ilmu pengetahuan tanpa mengakui Penciptanya.
Ketika pandemi melanda atau krisis ekonomi terjadi, kita melihat dengan jelas bahwa berbagai upaya manusia, meskipun penting, tidak akan berhasil sepenuhnya tanpa izin dan pertolongan dari Yang Maha Kuasa. Ayat 55 Al-Isra mengingatkan umat Islam untuk selalu mengembalikan segala urusan kepada Allah. Ketika seseorang berdoa kepada selain-Nya, pada hakikatnya ia berharap kepada sesuatu yang tidak memiliki kuasa atas dirinya, bahkan untuk sekadar memindahkan satu tetes air hujan atau satu sel penyakit.
Oleh karena itu, ayat ini adalah fondasi kokoh bagi keimanan yang murni. Ia menuntun hati untuk selalu bersandar sepenuhnya kepada Allah dalam menghadapi segala aspek kehidupan, baik dalam keadaan lapang maupun sempit, karena hanya Dialah Pemilik tunggal segala kemampuan untuk menolak dan mengalihkan segala bentuk keburukan. Memahami ayat ini berarti menempatkan ketakutan dan harapan pada tempat yang semestinya, yaitu Pencipta langit dan bumi.