Fondasi Kehidupan Seorang Muslim
Dalam ajaran Islam, terdapat dua konsep fundamental yang tak terpisahkan dalam membentuk cara pandang dan perilaku seorang Muslim: Akidah dan Syariah. Kedua pilar ini sering dibahas bersama karena keduanya saling melengkapi untuk menciptakan kehidupan yang benar sesuai tuntunan Ilahi. Memahami perbedaan sekaligus keterkaitannya adalah kunci untuk mengamalkan ajaran Islam secara utuh dan kokoh.
Apa Itu Akidah?
Akidah, secara etimologi, berarti ikatan yang kokoh atau keyakinan yang mantap. Dalam konteks Islam, Akidah merujuk pada seperangkat kepercayaan inti atau keimanan yang harus diyakini oleh setiap Muslim tanpa keraguan sedikit pun. Akidah ini berpusat pada enam Rukun Iman yang menjadi landasan spiritual dan intelektual. Rukun Iman tersebut meliputi iman kepada Allah SWT, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan qada serta qadar (ketentuan baik dan buruk dari Allah).
Akidah adalah aspek internal; ia mengatur apa yang ada di dalam hati dan pikiran seseorang. Kekuatan akidah menentukan seberapa besar ketenangan dan keteguhan seorang hamba dalam menghadapi ujian hidup. Jika akidah seseorang rapuh, maka amal perbuatannya cenderung mudah goyah, sebab dasar pijakannya tidak kuat. Akidah menjawab pertanyaan "Mengapa saya beribadah?" dan "Kepada siapa saya harus bertanggung jawab?".
Apa Itu Syariah?
Berbeda dengan Akidah yang bersifat keyakinan, Syariah adalah seperangkat aturan, hukum, dan tata cara praktis yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya (ibadah mahdhah) dan hubungan sesama manusia serta lingkungannya (muamalah). Syariah adalah manifestasi lahiriah dari keyakinan batin seseorang. Ia bersumber utama dari Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW.
Syariah mencakup seluruh aspek kehidupan, mulai dari tata cara shalat, puasa, zakat, haji, hingga hukum perniagaan, pernikahan, pidana, dan etika sosial. Jika Akidah adalah teori, maka Syariah adalah praktik operasionalnya. Seorang Muslim melaksanakan shalat lima waktu, menunaikan zakat, dan menjaga kejujuran dalam berdagang karena keyakinan (Akidah) bahwa semua itu adalah perintah dari Allah SWT, yang diatur pelaksanaannya melalui Syariah.
Keterkaitan Erat: Akidah sebagai Akar, Syariah sebagai Buah
Hubungan antara Akidah dan Syariah ibarat hubungan antara akar dan pohon. Akidah adalah akar yang menghujam jauh ke dalam tanah keyakinan, memberikan stabilitas dan nutrisi spiritual. Sementara Syariah adalah batang, dahan, dan buah yang terlihat dari luar, yang merupakan hasil nyata dari nutrisi yang diserap oleh akar tersebut.
Tanpa Syariah, Akidah akan menjadi keyakinan yang steril dan tidak teruji; ia hanya sebatas klaim tanpa pembuktian nyata dalam perilaku sehari-hari. Sebaliknya, melakukan ibadah dan mengikuti aturan Syariah tanpa landasan Akidah yang benar akan menjadikannya ritual kosong tanpa nilai di sisi Allah SWT. Contohnya, seseorang mungkin berpuasa (Syariah), namun jika ia tidak meyakini bahwa puasa itu perintah Allah (Akidah), maka puasanya hanya menahan lapar dan haus, bukan ibadah yang berpahala.
Oleh karena itu, seorang Muslim dituntut untuk memiliki keduanya secara seimbang. Akidah yang kuat mendorong ketaatan pada Syariah, dan ketaatan pada Syariah akan menguatkan lagi keyakinan dalam Akidah. Keseimbangan ini memastikan bahwa praktik keagamaan seseorang tidak hanya formalitas, melainkan didasari oleh penghayatan iman yang mendalam dan konsisten. Mencari ilmu tentang kedua hal ini adalah investasi penting bagi kebahagiaan di dunia dan akhirat.