Simbolisasi guncangan dahsyat di Hari Kebangkitan
Surat Az-Zalzalah, yang berarti "Kegempaan" atau "Guncangan," adalah surat pendek namun mengandung peringatan yang sangat keras mengenai peristiwa akhir zaman, khususnya Hari Kiamat. Ayat pertama, "Iza zulzilatil ardu zilzalaha," langsung menetapkan skenario paling dramatis yang bisa dibayangkan manusia: kehancuran total tata letak bumi yang selama ini kita anggap kokoh dan permanen.
Kata 'zalzalah' (guncangan) di sini menggunakan bentuk penekanan (isim masdar dengan fi'il yang sama), menunjukkan bahwa guncangan yang terjadi bukanlah gempa biasa, melainkan guncangan yang paling hebat, menyeluruh, dan tak tertandingi. Seluruh struktur bumi akan bergetar hebat, memutar, dan bergerak tanpa kendali. Ini adalah momen ketika keseimbangan dunia materi yang kita kenal berakhir.
Ayat kedua, "Wa akhrajatil ardu atqalaha," melanjutkan deskripsi kengerian tersebut. Ketika bumi mengalami guncangan dahsyat tersebut, ia akan memuntahkan semua yang tersembunyi di dalamnya. 'Atqalaha' (isi atau beban beratnya) merujuk pada berbagai hal. Secara harfiah, ini bisa berarti logam mulia, harta karun, maupun sisa-sisa peradaban yang telah lama terkubur. Namun, penafsiran yang lebih mendalam, sesuai konteks Hari Kiamat, adalah bahwa bumi akan mengeluarkan semua jasad manusia yang pernah hidup dan mati di atasnya. Setiap atom, setiap tulang, setiap mayat yang telah membusuk akan dibangkitkan dan dikeluarkan oleh bumi sebagai persiapan untuk proses hisab (perhitungan amal).
Ayat-ayat ini berfungsi sebagai pengingat esensial bagi setiap Muslim bahwa kehidupan dunia ini fana dan segala sesuatu yang terlihat stabil hanyalah sementara. Persiapan sejati bukanlah menimbun harta atau membangun bangunan megah, melainkan mempersiapkan amalan untuk menghadapi hari di mana bumi sendiri menjadi saksi dan pengungkap segala rahasia. Guncangan tersebut bukan hanya ujian bagi bumi sebagai objek, tetapi juga ujian kesiapan spiritual bagi seluruh umat manusia. Ketika bumi melakukan 'pengeluaran beban,' tidak ada lagi tempat untuk bersembunyi dari pertanggungjawaban.
Oleh karena itu, mempelajari dan merenungkan dua ayat awal Al-Zalzalah ini menuntut kita untuk selalu waspada (taqwa) dan memperbaiki hubungan dengan Allah SWT, karena kita tidak pernah tahu kapan guncangan dahsyat itu akan tiba bagi seluruh alam semesta.