Memahami Keagungan dalam Al-Isra Ayat 111

Simbol Kemuliaan dan Kebesaran Allah

Ilustrasi Keagungan Ilahi

Konteks dan Teks Al-Isra Ayat 111

"Dan katakanlah: 'Segala puji bagi Allah yang tidak mengambil anak dan sekali-kali tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya dan sekali-kali tidak ada penolong bagi-Nya dari kehinaan. Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.'"

(QS. Al-Isra [17]: 111)

Ayat penutup dari Surah Al-Isra (atau Bani Israil) ini, yakni ayat ke-111, merupakan penegasan fundamental mengenai sifat-sifat kesempurnaan Allah subhanahu wa ta'ala. Ayat ini datang setelah serangkaian perintah, larangan, dan kisah-kisah yang mendidik umat Islam tentang tauhid, akhlak, dan tanggung jawab. Kehadiran ayat ini di akhir surah memberikan sebuah kesimpulan yang kuat, mengarahkan hati dan lisan seorang mukmin untuk selalu bersyukur dan mengakui keunikan Tuhan semesta alam.

Penolakan Terhadap Kesyirikan (Nafl An-Nubuwwah)

Bagian pertama ayat ini, "Dan katakanlah: 'Segala puji bagi Allah yang tidak mengambil anak'," secara tegas menolak keyakinan sesat yang pernah dianut oleh beberapa kelompok, baik Yahudi maupun Nasrani, yang menganggap adanya anak bagi Allah. Dalam Islam, konsep ketuhanan harus bebas dari segala bentuk kekurangan atau keterbatasan fisik, termasuk kebutuhan untuk melahirkan keturunan. Mengaitkan anak kepada Allah adalah bentuk keterbatasan yang mustahil bagi Al-Khaliq (Sang Pencipta). Pujian (hamdalah) yang ditujukan kepada Allah haruslah murni dan bebas dari penyimpangan akidah.

Selanjutnya, ayat ini menegaskan, "...dan sekali-kali tidak ada sekutu bagi-Nya dalam kerajaan-Nya..." Ini adalah bantahan langsung terhadap konsep politeisme atau bahkan dualisme yang menempatkan entitas lain sejajar atau berbagi kekuasaan dengan Allah dalam mengatur alam semesta. Kerajaan (Al-Mulk) Allah bersifat mutlak, tunggal, dan tidak terbagi. Tidak ada yang memiliki hak untuk berdaulat selain Dia. Pengakuan akan kemutlakan ini adalah inti dari syahadat La ilaha illallah.

Kemandirian Allah dan Perintah Pengagungan

Poin penting lainnya adalah penolakan terhadap kebutuhan Allah akan pertolongan atau dukungan, yaitu, "...dan sekali-kali tidak ada penolong bagi-Nya dari kehinaan." Kata "kehinaan" (dhu'f) menyiratkan kelemahan atau kurangnya kemampuan. Allah Maha Kuat (Al-Qawiyy) dan Maha Perkasa (Al-Aziz). Dia tidak memerlukan pembelaan dari makhluk-Nya karena Dia Maha Mampu atas segala sesuatu. Keagungan-Nya tidak bertambah dengan pujian manusia, dan kelemahan-Nya tidak berkurang dengan cemoohan mereka.

Mengapa kemudian kita diperintahkan untuk memuji dan mengagungkan-Nya? Perintah ini sejatinya kembali kepada maslahat hamba itu sendiri. Ketika seorang hamba memuji dan mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenarnya ("...Dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya"), maka ia telah menempatkan dirinya pada posisi yang benar di hadapan Penciptanya. Pengagungan ini bukan untuk menambah kemuliaan Allah, melainkan untuk membersihkan jiwa dari kesombongan dan memantapkan tauhid dalam hati.

Implikasi Praktis dalam Kehidupan

Ayat 111 Surah Al-Isra mengajarkan kita untuk senantiasa memurnikan niat dan keyakinan. Dalam setiap aspek kehidupan, mulai dari ibadah ritual hingga interaksi sosial, seorang Muslim harus selalu berpegang teguh bahwa hanya Allah satu-satunya yang berhak disembah dan diandalkan. Ketika menghadapi kesulitan, misalnya, seorang mukmin tidak boleh merasa bahwa Allah membutuhkan pembelaan atau pertolongan dari manusia lain, melainkan harus menyadari bahwa justru kitalah yang membutuhkan pertolongan-Nya.

Ayat ini juga menekankan pentingnya kualitas pujian. Bukan sekadar ucapan rutin, tetapi pengagungan yang benar-benar mencerminkan kebesaran dan keesaan-Nya. Hal ini menuntut adanya perenungan mendalam mengenai ciptaan-Nya, hukum-hukum-Nya, dan kemuliaan sifat-sifat-Nya (Asmaul Husna). Dengan mengagungkan-Nya setinggi-tingginya, hati akan terlepas dari segala bentuk ketergantungan kepada makhluk, dan ketenangan sejati akan ditemukan dalam kepasrahan total kepada Sang Maha Raja.

Al-Isra ayat 111 menutup surah dengan janji kemurnian akidah dan konsekuensi spiritual yang besar bagi siapa pun yang memahaminya. Ia adalah pengingat abadi bahwa Tuhan kita adalah Esa, Maha Sempurna, dan jauh dari segala kekurangan yang mungkin dibayangkan oleh akal terbatas manusia.

🏠 Homepage