Surat Az-Zalzalah (Kegempaan) adalah salah satu surat pendek namun sarat akan peringatan penting mengenai hari kiamat dan pertanggungjawaban akhirat. Salah satu ayat kuncinya adalah ayat ketujuh, yang seringkali menjadi titik fokus dalam perenungan kita tentang amal perbuatan.
Transliterasi: Faman ya'mal mitsqala dzarratin khairan yarah
Artinya: "Maka barangsiapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya."
Ayat ketujuh ini, bersama dengan ayat kedelapan yang berbunyi, "wa man ya'mal mitsqala dzarratin syarran yarah" (dan barangsiapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihatnya), membentuk inti dari ajaran mengenai keadilan ilahi yang mutlak. Konsep "seberat zarrah" (mencakup partikel terkecil yang tak terlihat oleh mata telanjang) menekankan bahwa tidak ada satupun perbuatan, sekecil apapun, yang terlepas dari perhitungan Allah SWT.
Ayat ini memberikan harapan besar sekaligus peringatan keras. Bagi orang yang beriman dan taat, ayat ini menjanjikan bahwa sekecil apapun usaha baik yang mereka lakukan, misalnya senyuman tulus, membantu tanpa pamrih, atau bahkan niat baik yang belum sempat terwujud namun tulus, akan diperlihatkan balasannya di hadapan Allah.
Kata dzarrah (ذَرَّةٍ) sering diartikan sebagai atom atau partikel debu yang paling kecil. Penggunaan istilah ini menunjukkan universalitas dan ketelitian pencatatan amal. Bayangkan sebutir debu halus yang melayang di udara; bahkan seberat itulah perbuatan baik atau buruk yang kita lakukan akan ditimbang.
Mengapa penekanan pada skala mikroskopis ini begitu penting? Dalam kehidupan duniawi, seringkali kita meremehkan perbuatan kecil. Kita berpikir, "Ah, ini hanya sedekah kecil," atau "Ini hanya bohong kecil yang tidak merugikan siapa pun." Surat Az-Zalzalah ayat 7 membantah pola pikir tersebut. Ia mengajarkan bahwa kualitas dan ketulusan perbuatan lebih penting daripada kuantitasnya, dan semuanya dicatat.
Memahami makna dari "faman ya'mal mitsqala dzaratin khairan yarah" harus mendorong seorang Muslim untuk senantiasa berbuat baik dalam setiap kesempatan. Ini memotivasi kita untuk:
Ayat ini terletak setelah gambaran dahsyat gempa bumi dan keluarnya isi bumi (kiamat besar). Setelah semua guncangan duniawi itu berakhir, manusia akan dihadapkan pada neraca keadilan yang tidak bisa dimanipulasi. Dalam momen itu, setiap individu akan menyaksikan sendiri hasil dari setiap tindakannya.
Jika seseorang melakukan kebaikan seberat zarrah, ia akan melihat hasil dari kebaikan itu—yang mungkin berupa ketenangan di akhirat, derajat yang terangkat, atau syafaat yang diperoleh. Rasa senang melihat hasil kebaikan sekecil apa pun akan menjadi hadiah tersendiri yang tak ternilai harganya.
Sebaliknya, bagi mereka yang cenderung berbuat maksiat, ayat ini menjadi peringatan bahwa tidak ada satu pun dosa ringan yang bisa dihapus begitu saja tanpa pertimbangan. Pertanggungjawaban adalah pasti, dan kita harus mempersiapkan diri sejak sekarang dengan memaksimalkan setiap detik untuk melakukan amal ma'ruf nahi munkar.
Surat Al-Zalzalah ayat 7 adalah pengingat konstan bahwa hidup ini adalah ladang amal yang hasilnya akan dipanen kelak. Kesadaran bahwa Allah Maha Melihat dan mencatat setiap partikel perbuatan harus membentuk karakter kita menjadi pribadi yang senantiasa waspada (khauf) sekaligus penuh harapan (raja'). Jangan pernah merasa usahamu terlalu kecil untuk diperhitungkan, karena di mata Allah, ketulusan dalam perbuatan sekecil debu pun akan diperlihatkan balasannya.