Manusia modern, dengan segala kemajuan ilmu astronomi dan teknologi teleskopnya, masih bergumul dengan konsep skala dan luasnya alam semesta. Namun, jauh sebelum teleskop modern ditemukan, Al-Qur'an telah menyiratkan kebesaran ciptaan Allah SWT yang melampaui batas pemahaman akal manusia. Konsep mengenai luasnya alam semesta dalam Al-Qur'an bukan hanya sekadar deskripsi fisik, tetapi juga undangan untuk merenungkan keagungan Pencipta.
Ilustrasi representasi luasnya alam semesta.
Langit yang Diperluas (Al-Mutiqūn)
Salah satu ayat kunci yang sering dirujuk dalam pembahasan ini adalah firman Allah SWT: "Dan langit itu Kami bangun dengan tangan Kami sendiri, dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya." (QS. Adz-Dzaariyat: 47). Kata "meluaskannya" (lanāsi’ūna) dalam bahasa Arab mengandung makna pengembangan atau perluasan yang berkelanjutan. Konteks ayat ini sangat menarik jika dihubungkan dengan teori kosmologi modern, yaitu teori pengembangan alam semesta (the expanding universe) yang dikemukakan oleh Edwin Hubble.
Ayat ini memberikan indikasi bahwa alam semesta tidak statis, melainkan dalam keadaan terus membesar. Meskipun Al-Qur'an tidak menggunakan istilah fisika modern, deskripsi yang diberikan secara puitis dan akurat merujuk pada fenomena yang baru dapat dibuktikan ribuan tahun kemudian melalui pengamatan ilmiah. Luasnya alam semesta, oleh karena itu, bukan hanya besarnya ruang yang sudah ada, tetapi juga proses perluasan yang tak henti-hentinya.
Tujuh Tingkat Langit (Samāwāt)
Al-Qur'an juga sering menyebutkan istilah "tujuh langit" (samāwāt sab’a). Misalnya dalam QS. Al-Baqarah: 29, Allah berfirman tentang penciptaan bumi dan kemudian langit. Konsep tujuh langit ini telah menimbulkan berbagai interpretasi ilmiah dan teologis.
Dalam tafsir klasik, "tujuh langit" sering diartikan secara harfiah sebagai tujuh lapisan atau lapisan yang berbeda. Namun, dalam perspektif modern, banyak ulama dan ilmuwan Muslim menafsirkannya sebagai gambaran alam semesta yang berlapis-lapis, mencakup berbagai dimensi, galaksi, atau tingkatan alam yang berbeda dari apa yang kita pahami saat ini. Setiap "langit" bisa mewakili sebuah sistem kosmik yang sangat besar, jauh melampaui galaksi Bima Sakti kita.
Jika kita membayangkan tujuh lapisan ini sebagai tingkatan struktur kosmik—mulai dari atmosfer kita, ruang antarplanet, antar bintang, antargalaksi, hingga kumpulan galaksi (supercluster) dan alam semesta yang teramati—maka luasnya alam semesta yang dimaksudkan oleh Al-Qur'an menjadi jauh lebih kolosal daripada sekadar pandangan manusia di bumi.
Keterbatasan Pengamatan Manusia
Al-Qur'an juga menekankan keterbatasan potensi pengamatan manusia terhadap ciptaan Allah yang maha luas. Disebutkan dalam QS. Al-Mulk: 3-4: "Yang menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak akan melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu melihat sesuatu yang cacat?"
Ayat ini menyiratkan bahwa apa yang terlihat oleh mata dan alat kita hanyalah sebagian kecil dari totalitas ciptaan. Bahkan dengan teleskop paling canggih sekalipun, kita hanya bisa mengamati "alam semesta teramati" (observable universe), yang ukurannya diperkirakan miliaran tahun cahaya lebarnya. Di luar batas itu, masih ada area yang belum terjangkau oleh cahaya, yang secara teologis merujuk pada bagian alam semesta yang belum terungkap oleh ilmu pengetahuan manusia. Luasnya alam semesta menurut Al-Qur'an adalah luas yang meliputi yang terlihat dan yang gaib.
Kesimpulan: Refleksi Keagungan
Keterangan dalam Al-Qur'an mengenai luasnya alam semesta, mulai dari ekspansi yang berkelanjutan hingga struktur berlapis-lapis, berfungsi sebagai pengingat akan kebesaran Allah SWT. Ayat-ayat ini mendorong umat manusia untuk bersikap rendah hati di hadapan keagungan penciptaan. Pemahaman bahwa alam semesta terus meluas dan bahwa apa yang kita amati hanyalah sebagian kecil dari totalitas ciptaan, menegaskan bahwa kebesaran Allah tidak terbatas oleh kerangka berpikir atau alat observasi manusia. Ini adalah undangan abadi untuk merenungkan ke Maha Kuasaan Sang Pencipta.