Panduan Lengkap: Tulislah Surat Al Hijr Ayat 94

Ilustrasi Pena dan Wahyu Ilahi

Memahami dan menuliskan ayat-ayat Al-Qur'an adalah sebuah kehormatan sekaligus tanggung jawab besar bagi setiap Muslim. Salah satu ayat yang mengandung perintah tegas dari Allah SWT adalah yang terdapat dalam Surat Al Hijr ayat 94, yang memerintahkan Nabi Muhammad SAW (dan secara kontekstual kepada umatnya) untuk melaksanakan perintah Ilahi tanpa ragu. Ayat ini menekankan pentingnya ketegasan dan kepatuhan penuh terhadap wahyu yang diturunkan.

Teks dan Makna Al Hijr Ayat 94

Sebelum kita membahas bagaimana cara terbaik untuk "menulis" ayat ini, mari kita fokus pada teks aslinya dalam bahasa Arab, transliterasi, dan terjemahannya agar maknanya tersampaikan dengan sempurna.

فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُن مِّنَ السَّاجِدِينَ
Fasabbih biḥamdi rabbika wa kum minas-sājidīn Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilahlah di antara orang-orang yang bersujud.

Ayat ini merupakan penutup dari serangkaian nasihat dan perintah yang ditujukan kepada Nabi Muhammad SAW setelah beliau diperintahkan untuk berdakwah secara terbuka (ayat 93). Perintah "Tulislah" dalam konteks ini tidak selalu berarti mencatat secara fisik, tetapi lebih kepada merealisasikan perintah tersebut dalam ucapan dan perbuatan. Perintah ini terdiri dari dua pilar utama: Tashbih (Tasbih) dan Sujud.

Aspek Penulisan: Tasbih dan Pujian

Bagian pertama dari perintah adalah "Fasabbih biḥamdi rabbika" (Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu). Kata "Tasbih" berarti menyucikan Allah dari segala kekurangan dan keburukan. Ini adalah pengakuan mutlak atas kesempurnaan Allah SWT. Ketika kita diperintahkan untuk menuliskan perintah ini, artinya kita harus menanamkan kesadaran bahwa setiap nafas dan tindakan kita harus diarahkan untuk memuji dan menyucikan-Nya.

Bagaimana cara menuliskannya dalam kehidupan sehari-hari?

  1. Lisan: Mengucapkan Subhanallah, Alhamdulillah, Allahu Akbar secara rutin.
  2. Hati: Memastikan keyakinan bahwa Allah adalah Maha Sempurna dan tidak ada yang setara dengan-Nya.
  3. Perbuatan: Menjauhi segala perbuatan yang menodai kesucian-Nya, seperti maksiat dan kesyirikan.
Menuliskan perintah ini berarti menjadikan lisan dan hati kita senantiasa terikat pada pujian tersebut, terutama ketika menghadapi tekanan atau keraguan, seperti yang dialami oleh para Nabi.

Aspek Aksi: Menjadi Golongan yang Bersujud

Aspek kedua adalah "wa kum minas-sājidīn" (dan jadilah di antara orang-orang yang bersujud). Sujud adalah puncak ketundukan seorang hamba kepada Penciptanya. Dalam shalat, sujud adalah posisi terdekat seorang hamba dengan Tuhannya.

Ketika Allah memerintahkan untuk "menjadi golongan yang bersujud", ini adalah seruan untuk konsistensi dalam ibadah formal (shalat) maupun ibadah non-formal (ketundukan totalitas hidup). Dalam konteks perintah untuk menuliskan (merealisasikan) ayat ini, berarti kita harus:

Ketegasan perintah "jadilah" (kūn) menyiratkan bahwa ini harus menjadi status permanen, bukan tindakan sesekali. Jika kita mengartikan "menulis surat" sebagai membuat sebuah deklarasi hidup, maka deklarasi kita haruslah berupa kepatuhan total yang diwujudkan melalui Tasbih (pujian lisan dan hati) dan Sujud (ketundukan fisik dan spiritual).

Implikasi Ketika Berdakwah atau Menghadapi Permusuhan

Surat Al Hijr (ayat 90-96) berbicara tentang bagaimana kaum Nabi berdebat dan menantang ajaran tauhid. Ayat 94 ini datang sebagai penguatan ilahi bagi Rasulullah SAW di tengah gempuran kaum musyrikin Mekkah. Ia mengajarkan strategi dakwah yang paling ampuh: ketika diserang atau dicerca, jangan balas dengan amarah, tetapi balaslah dengan peningkatan kualitas ibadah dan ketundukan kepada Allah.

Oleh karena itu, bagi kita yang berusaha menerapkan ajaran Islam dalam kehidupan modern yang penuh distraksi, "tulislah surat Al Hijr ayat 94" adalah undangan untuk:

  1. Menguatkan benteng spiritual kita melalui dzikir dan pujian yang tiada henti.
  2. Menjadikan shalat sebagai jangkar utama kehidupan, khususnya dengan memaksimalkan kualitas sujud kita.
Kunci keberhasilan dalam menjalankan amanah Ilahi terletak pada sejauh mana kita mampu menghadirkan pujian dan kerendahan hati di hadapan-Nya. Ayat ini adalah penegasan bahwa pertolongan dan kekuatan datang dari mereka yang senantiasa menyucikan dan menundukkan diri kepada Sang Pencipta.

Dengan memahami konteks dan perintah yang terkandung di dalamnya, menuliskan Al Hijr ayat 94 menjadi lebih dari sekadar menyalin huruf; ia adalah komitmen untuk menjalani hidup sebagai hamba yang selalu memuji dan selalu bersujud.

🏠 Homepage