Representasi visual dari area semesta yang dapat kita amati.
Pertanyaan mengenai ukuran semesta adalah salah satu misteri terbesar yang menghantui para ilmuwan dan filsuf selama berabad-abad. Ketika kita melihat ke langit malam, kita disajikan dengan pemandangan tak terbatas yang menimbulkan pertanyaan mendasar: Seberapa besar ruang ini sebenarnya? Apakah ia memiliki batas, ataukah ia membentang tanpa akhir? Upaya untuk menjawabnya telah mendorong batas-batas fisika, kosmologi, dan teknologi observasi kita.
Dalam kosmologi modern, penting untuk membedakan antara dua konsep utama: Semesta yang Dapat Diamati (Observable Universe) dan Semesta Keseluruhan (The Entire Universe). Semesta yang dapat kita amati adalah bagian dari kosmos dari mana cahaya memiliki waktu untuk mencapai kita sejak Big Bang. Karena alam semesta memiliki usia terbatas (sekitar 13,8 miliar tahun), ada batas jarak maksimal yang bisa kita lihat.
Saat ini, radius Semesta yang Dapat Diamati diperkirakan sekitar 46,5 miliar tahun cahaya ke segala arah, meskipun usianya hanya 13,8 miliar tahun. Perbedaan ini muncul karena alam semesta terus mengembang selama miliaran tahun itu. Materi yang memancarkan cahaya yang kita lihat hari ini, saat itu berada jauh lebih dekat. Ekspansi ruang angkasa yang terjadi saat cahaya melakukan perjalanannya, "mendorong" sumber cahaya tersebut menjauh, sehingga jarak saat ini menjadi lebih besar.
Angka 46,5 miliar tahun cahaya adalah batasan fundamental yang ditentukan oleh kecepatan cahaya dan usia kosmos. Apa pun yang berada di luar batas ini, cahayanya belum sempat mencapai Bumi. Oleh karena itu, segala sesuatu yang kita ketahui tentang alam semesta, struktur galaksi, dan hukum fisika didasarkan pada wilayah yang terikat dalam batas pengamatan ini.
Sementara Semesta yang Dapat Diamati memiliki ukuran yang terukur (meskipun sangat besar), ukuran Semesta Keseluruhan jauh lebih spekulatif. Para kosmolog menggunakan data dari latar belakang gelombang mikro kosmik (Cosmic Microwave Background/CMB) untuk menganalisis geometri ruang-waktu. Hasil pengukuran menunjukkan bahwa alam semesta kita tampaknya "datar" (flat).
Dalam model kosmologi standar, alam semesta yang datar cenderung menyiratkan bahwa ia tidak terbatas (infinite). Jika alam semesta tidak memiliki kelengkungan positif (seperti permukaan bola) atau negatif (seperti pelana kuda), maka secara matematis ia akan membentang selamanya. Meskipun demikian, para ilmuwan juga mengakui bahwa pengukuran kita mungkin hanya akurat untuk skala yang sangat besar, dan mungkin saja alam semesta memiliki kelengkungan yang sangat kecil sehingga kita tidak dapat mendeteksinya, yang berarti ukurannya sangat besar tetapi terbatas.
Jika ukuran semesta adalah tak terbatas, implikasinya sungguh mencengangkan. Dalam alam semesta yang tak terbatas dengan distribusi materi yang kira-kira seragam, segala kemungkinan konfigurasi partikel pasti akan terulang. Ini membuka kemungkinan adanya "duplikat" dari diri kita sendiri, planet Bumi, dan bahkan seluruh sejarah kita, yang muncul di lokasi yang sangat, sangat jauh di luar batas pengamatan kita. Fenomena ini terkait erat dengan konsep Multiverse Tingkat I (Level I Multiverse).
Namun, perlu ditekankan bahwa sifat tak terbatas ini masih merupakan kesimpulan yang diturunkan dari model "datar". Observasi terus dilakukan untuk mencari penyimpangan kecil dalam CMB yang mungkin menunjukkan kelengkungan, yang pada akhirnya akan memberikan batasan atas ukuran Semesta Keseluruhan, meskipun batasan tersebut mungkin masih jauh melampaui apa yang bisa kita lihat.
Kita hidup di dalam gelembung pengamatan yang radiusnya sekitar 93 miliar tahun cahaya (diameter), yang merupakan batas teknologi dan waktu kita. Di luar batas itu, terdapat wilayah kosmos yang belum terjamah oleh cahaya kita. Sementara Semesta yang Dapat Diamati memberikan kita kerangka kerja ilmiah, pertanyaan tentang total ukuran semesta tetap menjadi misteri yang mungkin hanya dapat dipecahkan dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang inflasi kosmik dan sifat sejati ruang-waktu itu sendiri. Untuk saat ini, kita hanya bisa terus mengamati batas terluar dari apa yang dapat kita lihat, sambil menghargai potensi kebesaran yang mungkin tersembunyi di luarnya.