Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern yang serba cepat, kita seringkali merasa ada sesuatu yang fundamental tengah terkikis dari fondasi kemanusiaan kita. Bukan lagi sekadar kemajuan teknologi atau gejolak ekonomi yang mendominasi pemberitaan, melainkan sebuah kekosongan yang lebih subtil namun menusuk: **hilangnya akhlak**. Akhlak, sebagai landasan moral dan etika dalam berinteraksi, seolah menjadi barang langka yang disimpan dalam kotak warisan masa lalu.
Kita hidup dalam era transparansi semu. Informasi tersebar seketika, namun kejujuran menjadi komoditas yang mahal. Perilaku sehari-hari—mulai dari interaksi digital hingga urusan tatap muka—seringkali menunjukkan erosi nilai-nilai dasar seperti empati, integritas, dan rasa hormat. Media sosial, yang seharusnya menjadi wadah koneksi, justru seringkali menjadi arena pembuktian ego dan saling menjatuhkan tanpa tedeng aling-aling. Ini adalah paradoks: semakin terhubung secara jaringan, semakin terputus secara nurani.
Mengapa akhlak menjadi rentan tergerus? Salah satu faktor utama adalah pergeseran fokus dari nilai intrinsik menuju validasi eksternal. Keberhasilan kini sering diukur dari metrik yang dangkal: popularitas, kekayaan instan, atau pengaruh semu. Ketika tujuan hidup hanya berpusat pada konsumsi dan pamer, maka proses pembentukan karakter yang membutuhkan kesabaran dan introspeksi menjadi terabaikan. Materi dan citra diri menjadi prioritas di atas prinsip dan etika.
Selain itu, lingkungan sosial memainkan peran krusial. Jika kita dikelilingi oleh narasi yang menormalisasi ketidakjujuran, korupsi kecil, atau bahkan perundungan daring, batas antara yang benar dan yang salah menjadi kabur. Generasi muda, khususnya, terpapar pada model perilaku yang mengedepankan "menang" dengan cara apa pun, mengabaikan proses dan cara yang beretika. Proses pendidikan moral yang seharusnya dimulai dari keluarga dan institusi formal terkadang tenggelam dalam kecepatan tuntutan hidup.
Hilangnya akhlak bukan sekadar masalah individu; ini adalah penyakit sosial yang meluas. Ketika integritas telah luntur, kepercayaan antarmanusia akan terkikis. Kepercayaan adalah perekat utama dalam masyarakat. Tanpa kepercayaan, transaksi bisnis menjadi penuh kecurigaan, hubungan antar tetangga menjadi dingin, dan sistem publik menjadi rawan penyalahgunaan. Kita menciptakan ekosistem yang penuh kecemasan karena kita tidak lagi bisa yakin pada janji atau perkataan orang lain.
Bayangkan sebuah lingkungan kerja di mana kolaborasi terhambat karena takut ada yang mencuri ide, atau sebuah ruang publik di mana kebersihan dan ketertiban diabaikan karena minimnya rasa tanggung jawab kolektif. Inilah hasil nyata dari krisis akhlak. Kita kehilangan kemampuan untuk melihat kepentingan bersama di atas kepentingan sesaat diri sendiri. Keseimbangan antara hak dan kewajiban menjadi timpang, cenderung berat ke arah penuntutan hak tanpa mengindahkan kewajiban moral.
Memulihkan apa yang hilang ini memerlukan revolusi batin yang dimulai dari kesadaran kolektif. Langkah pertama adalah pengakuan bahwa akhlak bukanlah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup sosial yang sehat. Kita harus secara sadar memilih untuk memprioritaskan kejujuran, bahkan ketika itu tidak menguntungkan secara instan.
Ini juga berarti meninjau ulang apa yang kita konsumsi informasinya dan siapa yang kita jadikan panutan. Generasi yang ada perlu didorong untuk mempelajari dan mempraktikkan kebajikan melalui contoh nyata, bukan sekadar teori. Akhlak sejati terwujud dalam tindakan konsisten—bersikap baik pada pelayan restoran, menepati janji kecil, atau menolak mengambil keuntungan dari kesalahan orang lain. Ketika tindakan kecil ini menjadi norma, barulah fondasi moral kolektif kita mulai menguat kembali. Perjalanan ini panjang, tetapi tanpa kemauan untuk mencari kembali akhlak yang hilang, kita hanya akan menjadi masyarakat yang kaya materi tetapi miskin jiwa.