Mengenal 5 Contoh Akhlak Mazmumah
Akhlak mazmumah adalah perilaku tercela yang harus dihindari karena merusak hubungan dengan Tuhan, sesama manusia, dan diri sendiri. Memahami dan menjauhinya adalah langkah awal menuju kesucian diri.
Kesombongan adalah perasaan superioritas yang muncul dalam diri seseorang, membuatnya merasa lebih baik dari orang lain. Ini adalah sifat yang pertama kali ditunjukkan oleh Iblis saat menolak perintah Allah untuk bersujud kepada Nabi Adam AS. Sombong memutus rahmat dan menjauhkan seseorang dari kebenaran. Pemilik sifat ini cenderung meremehkan nasihat dan menolak untuk mengakui kesalahan. Dalam konteks sosial, kesombongan menciptakan jurang pemisah dan kebencian antarmanusia. Seorang mukmin sejati harus selalu bersikap tawadhu (rendah hati), mengingat bahwa kemuliaan sejati hanya milik Allah SWT.
Hasad atau iri hati adalah perasaan tidak senang melihat kenikmatan yang dimiliki orang lain, bahkan berharap nikmat tersebut hilang dari mereka. Berbeda dengan ghibtah (menginginkan kebaikan orang lain tanpa ingin kenikmatan itu hilang), hasad bersifat destruktif. Sifat ini seringkali berakar dari rasa tidak puas atas ketetapan Allah dan memicu tindakan-tindakan negatif seperti fitnah, gibah, atau merencanakan keburukan. Hasad meracuni hati pelakunya sendiri sebelum merugikan orang lain, menjadikannya selalu merasa kekurangan meskipun telah dikaruniai banyak rezeki.
Ghibah adalah menyebutkan keburukan atau aib seseorang yang nyata ketika orang yang dibicarakan tidak ada di tempat. Banyak orang menganggap ghibah sebagai hal sepele, padahal dalam ajaran Islam, ghibah disamakan dengan memakan daging saudara sendiri yang sudah mati. Praktik ghibah merusak reputasi, menciptakan ketidakpercayaan sosial, dan menghancurkan ukhuwah (persaudaraan). Dialog yang dibangun di atas dasar ghibah adalah dialog yang sia-sia dan penuh dosa, karena melanggar kehormatan orang lain yang merupakan hak asasi yang dilindungi syariat.
Riya’ adalah melakukan suatu perbuatan baik (ibadah) dengan tujuan agar dilihat dan dipuji oleh manusia, bukan semata-mata mencari keridhaan Allah SWT. Misalnya, shalat dengan gerakan yang berlebihan atau bersedekah di tempat ramai agar mendapat pujian. Riya’ dapat menghapus pahala amal kebaikan, karena motivasi utama amal tersebut telah dialihkan dari Allah kepada makhluk-Nya. Melawan riya’ menuntut kejujuran hati yang mendalam dan kesadaran bahwa Allah Maha Melihat segala niat tersembunyi manusia.
Putus asa merupakan salah satu dosa besar karena menunjukkan kurangnya kepercayaan (iman) terhadap kekuasaan dan kemurahan Allah SWT. Seseorang yang berputus asa cenderung berpikir bahwa dosanya terlalu besar untuk diampuni atau masalahnya terlalu berat untuk diselesaikan oleh Tuhan. Sikap ini sangat berbahaya karena menghentikan seseorang untuk bertaubat atau berusaha mencari jalan keluar. Padahal, selama masih bernapas, pintu ampunan Allah selalu terbuka lebar bagi siapa pun yang bersungguh-sungguh ingin kembali. Optimisme dan harapan (raja’) terhadap rahmat Allah adalah bentuk ibadah yang sangat dianjurkan.
Menghindari akhlak mazmumah bukan hanya sekadar mematuhi larangan, melainkan investasi terbesar untuk ketenangan jiwa di dunia dan keselamatan di akhirat. Dengan mengganti perilaku tercela ini dengan akhlak mahmudah (terpuji), seorang muslim dapat menyempurnakan agamanya dan menjadi pribadi yang diridhai Tuhannya.