Kesehatan reproduksi pria sangat bergantung pada kualitas air mani yang dihasilkan. Salah satu faktor kunci dalam hal ini adalah morfologi sperma, yaitu bentuk dan struktur sel sperma itu sendiri. Ketika struktur ini menyimpang dari bentuk idealnya, kondisi ini dikenal sebagai abnormal sperma.
Kondisi ini sering kali terdeteksi melalui analisis sperma (spermiogram). Keberadaan abnormal sperma dalam jumlah signifikan dapat menjadi penghalang utama bagi pasangan yang sedang merencanakan kehamilan, karena bentuk yang tidak normal dapat menghambat kemampuan sperma untuk membuahi sel telur secara efektif.
Secara umum, sperma yang sehat memiliki kepala berbentuk oval yang rata, bagian tengah (midpiece) yang menyatu kuat, dan ekor (flagellum) yang panjang dan lurus untuk memungkinkan pergerakan yang efisien. Morfologi sperma dinilai berdasarkan kriteria ketat, seringkali menggunakan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Sperma dikatakan abnormal jika mengalami cacat pada salah satu dari tiga bagian utama tersebut: kepala, bagian tengah, atau ekor. Cacat ini bisa berupa kepala yang terlalu besar, terlalu kecil, berbentuk bulat, ekor yang patah, melingkar, atau tidak ada ekor sama sekali. Semakin tinggi persentase abnormal sperma (teratozoospermia), semakin rendah pula potensi kesuburan alami.
Penyebab pasti dari kondisi abnormal sperma terkadang sulit ditentukan, namun terdapat beberapa faktor risiko dan kondisi medis yang telah diidentifikasi dapat memengaruhinya:
Fungsi utama sperma adalah mencapai dan menembus lapisan luar sel telur (zona pelusida) untuk fertilisasi. Sperma dengan morfologi yang tidak ideal memiliki mobilitas yang buruk dan kesulitan dalam proses penetrasi.
Jika persentase abnormal sperma sangat tinggi, risiko kegagalan pembuahan meningkat drastis. Bahkan jika pembuahan terjadi, ada kemungkinan risiko keguguran yang lebih tinggi, meskipun penelitian mengenai korelasi langsung antara teratozoospermia parah dan keguguran masih berlangsung.
Ketika hasil analisis menunjukkan adanya abnormal sperma, langkah pertama adalah mengidentifikasi dan mengelola faktor penyebab yang dapat dimodifikasi. Penanganan mungkin mencakup:
Jika perbaikan alami tidak signifikan, pasangan mungkin perlu mempertimbangkan bantuan teknologi reproduksi berbantu, seperti In Vitro Fertilization (IVF) dengan injeksi sperma intrasitoplasmik (ICSI). Dalam prosedur ICSI, ahli embriologi memilih satu sperma dengan morfologi terbaik untuk langsung disuntikkan ke dalam sel telur, melewati kebutuhan sperma untuk berenang dan menembus lapisan pelindung telur sendiri.