Mengungkap Jawaban: Ada Berapa Ayat di Dalam Al-Qur'an?

Sebuah Tinjauan Mendalam atas Ilmu Penghitungan Ayat (Ilmu 'Adad al-Ayat)

Ilustrasi Kitab Suci Al-Qur'an yang Terbuka Sebuah representasi artistik dari Al-Qur'an, sumber wahyu ilahi.

Sumber utama perdebatan ilmiah: Kitab Suci Al-Qur'an.

Pendahuluan: Kompleksitas Angka yang Tampak Sederhana

Pertanyaan fundamental mengenai ada berapa ayat di dalam Al-Qur'an adalah salah satu pertanyaan yang paling sering diajukan oleh mereka yang baru mempelajari Islam, maupun para sarjana yang mendalami struktur kitab suci ini. Meskipun Al-Qur'an adalah satu-satunya sumber wahyu yang tak terbantahkan, dan susunannya (tartib) telah dijaga secara sempurna, ironisnya, jawaban tunggal untuk jumlah ayatnya justru tidak pernah mencapai konsensus universal di seluruh mazhab penghitungan.

Secara umum, masyarakat Muslim kontemporer di banyak belahan dunia, terutama yang mengikuti riwayat Hafs dari Ashim (yang berbasis pada tradisi Kufah), mengenal angka 6.236 ayat. Namun, angka ini hanyalah satu dari beberapa metode penghitungan historis yang valid. Metode-metode penghitungan ini, yang dikenal dalam Ilmu Al-Qur'an sebagai *'Ilm Adad al-Ayat* (Ilmu Penghitungan Ayat), menghasilkan angka yang bervariasi dari 6.204 hingga 6.236, dan bahkan ada yang mencapai lebih dari 6.600 jika metode penghitungan tertentu dipertimbangkan secara liberal.

Perbedaan jumlah ini tidak mengimplikasikan adanya perbedaan dalam teks Al-Qur'an (huruf-hurufnya). Semua Mushaf di dunia memiliki huruf, kata, dan surat yang persis sama. Perbedaannya murni terletak pada *penandaan* di mana satu ayat berakhir dan ayat berikutnya dimulai. Ayat-ayat (jamak dari *ayah*) dalam Al-Qur'an adalah segmen-segmen wahyu. Penentuan batas akhir ayat (*fawasil*) didasarkan pada transmisi lisan (riwayat) dari Rasulullah ﷺ kepada para sahabat, yang kemudian diteruskan kepada tabi'in dan para ulama qira'at.

Artikel ini akan mengupas tuntas mengapa variasi ini ada, menelusuri mazhab-mazhab penghitungan ayat utama yang diakui, menganalisis peran *Basmalah* (Bismillahirrahmanirrahim) dalam penghitungan, dan memberikan pemahaman mendalam tentang Ilmu 'Adad al-Ayat yang sangat penting namun sering kali terabaikan dalam studi Al-Qur'an umum.

Landasan Historis: Bagaimana Ayat Ditentukan?

Penentuan awal dan akhir suatu ayat bukanlah hasil ijtihad para sahabat atau ulama, melainkan sebuah tradisi yang murni *tauqifi*, artinya ditetapkan secara langsung oleh wahyu dan instruksi Nabi Muhammad ﷺ. Ketika Jibril menyampaikan wahyu, Nabi ﷺ tidak hanya menerima kata-kata, tetapi juga petunjuk tentang bagaimana wahyu tersebut harus dibagi dan dibaca. Para sahabat menghafal dan mencatat titik-titik henti (tanda ayat) ini.

Dalam praktik pembacaan, Nabi ﷺ kadang-kadang berhenti di akhir suatu kalimat yang kita kenal sebagai ayat, namun di lain waktu, beliau mungkin melanjutkan pembacaan melewati batas ayat jika konteks makna memungkinkan, atau justru berhenti di tengah ayat untuk menarik napas atau merenung. Hal ini menimbulkan sedikit ambiguitas dalam transmisi lisan mengenai batas pasti beberapa ayat tertentu, terutama di ayat-ayat yang panjang atau yang memiliki struktur sintaksis yang saling terkait erat.

Setelah periode sahabat, ketika Islam menyebar luas, pusat-pusat pembelajaran Al-Qur'an terbentuk di berbagai kota besar, seperti Madinah, Makkah, Kufah, Basrah, dan Syam (Damaskus). Setiap pusat ini menghasilkan ulama qira'at (pembacaan) dan ulama penghitungan ayat yang unggul, yang kemudian mendasarkan penghitungan mereka pada riwayat yang paling kuat di daerah mereka. Inilah yang melahirkan lima hingga enam mazhab utama penghitungan (Madani Awal, Madani Akhir, Makki, Kufi, Basri, Syami).

Ilustrasi Penghitungan dan Variasi Angka Representasi grafis dari upaya penghitungan ayat-ayat Al-Qur'an dan variasi yang dihasilkan. Metode Kufi: 6236 Madani: 6214 / 6219 Basri: 6204 Syami: 6226

Variasi numerik dalam penghitungan ayat, murni karena perbedaan penandaan.

Lima Mazhab Utama Penghitungan Ayat (Adad al-Ayat)

Ilmu penghitungan ayat telah diwariskan melalui silsilah yang ketat, sama halnya dengan qira'at (metode pembacaan). Setiap mazhab memiliki angka totalnya sendiri, yang dipengaruhi oleh riwayat lokal dan keputusan para ulama besar di pusat kota tersebut. Berikut adalah lima mazhab utama dan angka yang mereka hasilkan, yang menjadi inti perdebatan mengenai ada berapa ayat di dalam Al-Qur'an:

1. Mazhab Kufi (Kufah) – Angka yang Paling Populer: 6.236 Ayat

Mazhab Kufi adalah yang paling dominan saat ini, khususnya di wilayah Timur Tengah, Asia Selatan, dan sebagian besar dunia Islam yang menggunakan mushaf cetakan standar yang mengikuti riwayat Hafs dari Imam Asim. Angka yang pasti dan paling sering dikutip dari mazhab ini adalah 6.236 ayat.

Basis penghitungan Kufi berasal dari ulama besar seperti Abu Abdurrahman as-Sulami, dan kemudian diwariskan kepada Imam Asim bin Abi Najud, yang sanadnya kini dikenal luas. Ciri khas utama penghitungan Kufi adalah:

Oleh karena dominasi riwayat Hafs dari Asim (yang notabene adalah qari dari Kufah), angka 6.236 ayat telah menjadi standar de facto bagi mayoritas umat Islam kontemporer, menjadikan jawaban ini sebagai jawaban yang paling sering diterima ketika ditanya ada berapa ayat di dalam Al-Qur'an.

2. Mazhab Madani (Madinah) – Dua Versi Utama

Madinah adalah pusat transmisi pertama dan tempat hijrahnya Nabi. Riwayat dari sini sangat dihormati. Namun, riwayat Madani terbagi menjadi dua kelompok utama, yang menunjukkan bahwa bahkan di pusat Islam pun, tradisi penghitungan mengalami sedikit variasi seiring berjalannya waktu:

A. Madani Awal: 6.214 Ayat

Penghitungan ini berasal dari ulama Madinah terdahulu dan sanadnya melalui Imam Nafi'. Metode ini menunjukkan kecenderungan untuk menggabungkan beberapa kalimat pendek yang oleh Kufi dipandang sebagai ayat terpisah. Mereka juga umumnya tidak menghitung Basmalah di Al-Fatihah sebagai ayat tersendiri, melainkan sebagai bagian dari keseluruhan surat, atau sebagai ayat yang berfungsi sebagai pemisah antar surat.

B. Madani Akhir: 6.219 Ayat

Versi ini dikembangkan oleh ulama Madinah berikutnya dan dipengaruhi oleh riwayat Abu Ja'far. Perbedaan 5 ayat dari Madani Awal muncul dari keputusan untuk memisahkan beberapa kalimat yang sebelumnya digabungkan, atau memasukkan *Basmalah* dalam konteks tertentu yang berbeda dari Madani Awal. Kedua versi Madani ini menunjukkan bahwa variasi penghitungan tidak muncul tiba-tiba, tetapi berkembang seiring transmisi lisan yang memerlukan kodifikasi di kemudian hari.

3. Mazhab Syami (Syam/Damaskus) – 6.226 Ayat

Penghitungan Syami berakar pada riwayat yang dikumpulkan oleh ulama terkemuka Damaskus, yang sanadnya kembali ke Abdullah bin Amir al-Yahsubi. Mazhab ini cenderung memiliki jumlah ayat yang lebih tinggi dibandingkan Madani, tetapi lebih rendah daripada Kufi. Metode Syami sering kali dianggap sebagai jalan tengah, meskipun mereka memiliki kekhasan tersendiri dalam penentuan batas ayat di beberapa surat, seperti Surah Al-Ma'idah dan An-Nisa', di mana mereka cenderung memecah ayat yang panjang.

4. Mazhab Basri (Basrah) – Angka Terendah: 6.204 Ayat

Basrah, sebagai pusat keilmuan penting di Irak, mengembangkan mazhab penghitungan yang menghasilkan angka terendah. Tokoh utamanya adalah Abu Amru al-Basri. Angka 6.204 ayat dihasilkan karena Basri memiliki kecenderungan terkuat untuk menggabungkan ayat-ayat pendek menjadi satu kesatuan panjang. Hal ini didasarkan pada pemahaman bahwa di beberapa tempat, jeda yang dilakukan Nabi ﷺ saat membaca lebih merupakan jeda tarikan napas atau perenungan, bukan penanda ayat definitif. Mereka sangat konservatif dalam penentuan batas ayat (*fawasil*).

5. Mazhab Makki (Makkah) – 6.210 Ayat

Makkah, meskipun merupakan tempat wahyu diturunkan, memiliki tradisi penghitungan yang sedikit berbeda dari Madinah. Sanadnya berasal dari Ibnu Katsir. Angka 6.210 ayat menempatkan Makkah di antara Basri dan Madani. Mereka memiliki pandangan unik mengenai penghitungan *Basmalah* di Al-Fatihah (sebagian memasukkan, sebagian tidak) dan bagaimana memperlakukan *Huruf Muqatta’ah* (huruf-huruf terputus) di awal surat.

Mengapa Jumlah Ayat Berbeda: Analisis Mendalam tentang Metode Penghitungan

Kunci untuk memahami variasi jawaban terhadap pertanyaan ada berapa ayat di dalam Al-Qur'an terletak pada tiga isu utama dalam metodologi 'Adad al-Ayat:

A. Kontroversi Basmalah

Isu Basmalah (*Bismillahirrahmanirrahim*) adalah penyumbang perbedaan angka yang paling signifikan. Basmalah muncul di awal 113 surat (kecuali At-Taubah). Pertanyaannya adalah, apakah Basmalah dihitung sebagai ayat:

  1. **Basmalah di Al-Fatihah:**
    • **Kufi dan Makki:** Menghitung Basmalah sebagai ayat pertama Surah Al-Fatihah. Oleh karena itu, Al-Fatihah dihitung 7 ayat.
    • **Madani, Syami, Basri:** Tidak menghitung Basmalah sebagai ayat Al-Fatihah. Mereka menganggap kalimat terakhir surat (misalnya, *ghairil maghdhubi alaihim waladh dhallin*) sebagai dua ayat terpisah, sehingga tetap mencapai total 7 ayat, meskipun ayat pembukanya adalah *Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin*.
  2. **Basmalah di Awal Surat Lain:**
    • Hampir semua mazhab sepakat bahwa Basmalah di awal 112 surat lainnya (tidak termasuk At-Taubah) berfungsi sebagai pemisah dan bukan merupakan ayat dari surat yang bersangkutan, kecuali jika dikaitkan dengan riwayat tertentu yang sangat spesifik. Perbedaan utama terletak pada apakah Basmalah itu sendiri dihitung sebagai ayat ke-114 (ayat mandiri) di Al-Qur'an secara keseluruhan, meskipun ini adalah pandangan minoritas.

Penting untuk dicatat bahwa para ulama sepakat Basmalah adalah bagian integral dari Al-Qur'an dan wajib dibaca, terlepas dari apakah ia dianggap sebagai penanda ayat atau tidak.

B. Perlakuan terhadap *Huruf Muqatta’ah* (Huruf Terputus)

Surat-surat tertentu diawali dengan huruf-huruf tunggal atau kombinasi huruf, seperti *Alif Lam Mim* (di Surah Al-Baqarah), *Ya Sin* (di Surah Yasin), atau *Ha Mim* (di beberapa surat). Masalahnya:

Keputusan ini menyumbang perbedaan beberapa belas ayat antara Kufi dan mazhab lainnya.

C. Penggabungan dan Pemecahan Ayat (Ithbat wa Hazf)

Ini adalah sumber variasi yang paling rumit. Dalam ayat-ayat yang sangat panjang, terutama ayat-ayat hukum seperti Ayat Kursi (Al-Baqarah 255) atau ayat-ayat muamalah (Al-Baqarah 282), beberapa mazhab melihat satu rangkaian makna yang terpadu, sementara mazhab lain melihat beberapa titik henti yang diajarkan Nabi ﷺ.

Sebagai contoh, ambil Surah Al-Kautsar. Semua sepakat Surah Al-Kautsar memiliki 3 ayat. Namun, di Surah-surah lain yang lebih panjang:

Tinjauan Akumulasi Angka dan Signifikansi Mazhab Kufi

Untuk benar-benar menjawab pertanyaan ada berapa ayat di dalam Al-Qur'an, kita harus melihat bagaimana dunia Muslim modern mengkodifikasi jawaban tersebut. Meskipun semua angka di atas sah secara historis dan didukung oleh sanad yang kuat, Mushaf standar yang mendominasi pencetakan saat ini, seperti Mushaf Madinah (King Fahd Complex for Printing the Holy Qur'an), hampir selalu mengikuti tradisi Kufi, yaitu 6.236 ayat.

Dominasi Kufi ini sebagian besar disebabkan oleh dua faktor historis:

  1. **Popularitas Riwayat Hafs:** Riwayat Hafs dari Asim (yang notabene adalah qari Kufi) telah menjadi riwayat bacaan yang paling luas digunakan di dunia. Logisnya, mushaf yang dicetak menggunakan riwayat bacaan Kufi juga akan mengadopsi sistem penghitungan ayat Kufi.
  2. **Kejelasan Struktur:** Metode Kufi sering dianggap oleh beberapa ulama sebagai metode yang paling jelas dalam membedakan batas ayat, termasuk memasukkan Basmalah di Fatihah sebagai ayat pertama.

Jika kita menerima angka 6.236 sebagai standar, kita mengakui bahwa angka tersebut mencerminkan metodologi Kufi dalam perlakuan terhadap Basmalah dan *Huruf Muqatta’ah*, serta cara pemecahan ayat-ayat panjang tertentu. Namun, penting untuk ditegaskan lagi, perbedaan antara 6.236 (Kufi) dan 6.204 (Basri) tidak berarti ada 32 kalimat yang hilang atau ditambahkan. Itu hanya berarti 32 titik henti/jeda yang oleh satu mazhab dianggap sebagai batas ayat, dan oleh mazhab lain digabungkan dengan ayat sebelumnya atau berikutnya.

Peran Ilmu 'Adad al-Ayat dalam Menjaga Teks

Ilmu 'Adad al-Ayat bukanlah sekadar permainan angka. Ilmu ini memiliki fungsi teologis dan praktis yang sangat penting:

  1. **Hafalan (Hifz):** Ketika seorang penghafal Al-Qur'an menghafal, mereka membutuhkan penanda yang jelas untuk mengulang dan menguji hafalan mereka. Batas ayat (*fawasil*) berfungsi sebagai titik henti alami dan spiritual yang sangat penting.
  2. **Shalat:** Dalam shalat, disunnahkan untuk membaca satu ayat penuh atau beberapa ayat. Pengetahuan tentang batas ayat memastikan pembacaan shalat sah dan lengkap.
  3. **Keutamaan Ayat:** Beberapa keutamaan (fadhilah) dikaitkan dengan ayat-ayat spesifik (seperti Ayat Kursi). Jika batas ayat tidak jelas, maka keutamaan tersebut bisa ambigu.
  4. **Bukti Transmisi Lisan:** Keberadaan berbagai mazhab penghitungan membuktikan betapa telitinya umat Islam dalam merekam setiap detail dari transmisi Nabi ﷺ, bahkan jika ada sedikit variasi lisan yang muncul di pusat-pusat keilmuan yang berbeda. Variasi ini bukanlah kegagalan, melainkan kekayaan metodologi.

Detail Teknis Perbedaan: Studi Kasus Ayat-Ayat Kunci

Untuk mencapai target pembahasan yang komprehensif mengenai ada berapa ayat di dalam Al-Qur'an, perlu dilakukan analisis mendalam terhadap beberapa surat kunci di mana perbedaan penghitungan sangat kentara, menyoroti bagaimana perbedaan dalam metodologi Kufi vs. non-Kufi menghasilkan variasi numerik yang signifikan.

Kasus 1: Surah Thaha

Surah Thaha dimulai dengan *Huruf Muqatta’ah* (طه). Mazhab Kufi menghitung *Thaha* sebagai Ayat 1. Kemudian, kalimat berikutnya, *Mā Anzalnā 'Alaikal-Qur'āna Litasqā*, menjadi Ayat 2. Sementara itu, Mazhab Madani, Basri, dan Syami menggabungkan kedua bagian ini menjadi satu ayat tunggal. Ini menghilangkan satu ayat dari total Basri/Madani di surat tersebut dibandingkan dengan Kufi.

Kasus 2: Surah Al-Ma'idah

Di Surah Al-Ma'idah, perbedaan muncul di sekitar ayat-ayat tentang hukum makanan dan sumpah. Mazhab Kufi, dalam beberapa kasus, memecah kalimat hukum yang panjang menjadi dua ayat, menekankan pada jeda yang dilakukan Nabi ﷺ di tengah kalimat hukum tersebut. Sebaliknya, mazhab Basri, yang mengutamakan kesatuan makna hukum, akan menyatukannya, karena merasa jeda Nabi ﷺ itu hanyalah jeda istirahat, bukan penanda ayat definitif. Dengan perbedaan kecil yang tersebar di sepanjang surat yang panjang seperti Al-Ma'idah, dampaknya pada total keseluruhan bisa mencapai 3 hingga 5 ayat.

Kasus 3: Surah Al-A'raf

Surah Al-A'raf memiliki 206 ayat menurut hitungan Kufi. Namun, mazhab lain mencatat angka yang berbeda. Salah satu perbedaan muncul pada bagian kisah Nabi Musa AS. Ayat-ayat yang menggambarkan hukuman bagi kaum Nabi Musa AS sering kali dipisah oleh Kufi, sementara Basri melihatnya sebagai satu alur narasi yang tidak terpisahkan. Akumulasi dari pemisahan-pemisahan minor ini di surat-surat panjang seperti Al-A'raf, An-Nisa', dan Al-Baqarah, adalah sumber utama dari selisih puluhan ayat yang kita lihat pada tabel perbandingan mazhab.

Perbandingan Skema Penghitungan Total

Untuk memperjelas seberapa besar variasi yang ada, berikut adalah rangkuman dari angka total yang diterima oleh mazhab-mazhab utama. Angka-angka ini menunjukkan bahwa jawaban ada berapa ayat di dalam Al-Qur'an sangat bergantung pada mazhab mana yang kita rujuk:

Mazhab Penghitungan Sanad Utama Jumlah Ayat Perlakuan Basmalah (Fatihah)
Kufi (Standar Modern) Imam Asim/Hafs 6.236 Dihitung (Ayat 1)
Syami (Damaskus) Ibnu Amir 6.226 Tidak Dihitung
Madani Akhir Abu Ja'far 6.219 Tidak Dihitung
Madani Awal Imam Nafi' 6.214 Tidak Dihitung
Makki (Makkah) Ibnu Katsir 6.210 Dihitung (Ayat 1)
Basri (Basrah) Abu Amru 6.204 Tidak Dihitung

Bahkan ada riwayat minoritas yang menyebutkan angka 6.666 ayat. Angka 6.666 ini sangat populer di kalangan awam karena kemudahannya dihafal, tetapi angka ini tidak memiliki dukungan sanad yang kuat dari ulama 'Adad al-Ayat yang diakui. Angka ini seringkali merupakan hasil dari penambahan jumlah Basmalah (113) pada angka dasar tertentu secara spekulatif, dan tidak didasarkan pada transmisi lisan yang diakui dari Nabi ﷺ mengenai batas setiap ayat.

Analisis Lanjutan atas Sanad dan Transmisi

Untuk memahami kedalaman ilmu ini, kita harus melihat tokoh-tokoh kunci di balik setiap penghitungan. Penghitungan ayat, sama seperti ilmu Qira'at, murni didasarkan pada sanad (rantai periwayatan) yang harus bersambung kepada Nabi Muhammad ﷺ.

Sanad Kufi (6.236)

Sanad ini berpusat pada Asim bin Abi Najud. Meskipun beliau terkenal karena riwayat qira'atnya yang disampaikan melalui Hafs dan Syu'bah, sanad penghitungan ayat Kufi beliau didasarkan pada riwayat dari Ali bin Abi Thalib dan Abdurrahman as-Sulami. Kekuatan riwayat ini dalam menentukan titik henti (fawasil) adalah alasan mengapa ia menjadi standar mushaf modern.

Sanad Madani (6.214 / 6.219)

Sanad Madani Awal, yang diwakili oleh Nafi' bin Abdurrahman, mengambil riwayat dari para tabi'in senior di Madinah, seperti Abu Ja'far Yazid bin al-Qa'qa'. Madani Akhir, yang lebih mutakhir, mengambil riwayat dari ulama yang datang belakangan. Perbedaan antara Madani Awal dan Akhir ini menunjukkan adanya fluktuasi kecil bahkan dalam satu pusat keilmuan, mencerminkan adanya perbedaan riwayat lisan minor yang perlu disaring.

Sanad Basri (6.204)

Angka Basri yang paling rendah menunjukkan ketelitian mereka dalam hanya mengakui batas ayat yang benar-benar pasti dan tidak ambigu dalam riwayat lisan mereka. Mereka lebih memilih untuk menggabungkan kalimat jika ada sedikit keraguan mengenai apakah jeda Nabi ﷺ adalah penanda ayat atau bukan. Sikap konservatif ini menghasilkan angka yang lebih kecil, tetapi bukan berarti teksnya kurang lengkap.

Implikasi Teologis dari Variasi Angka

Yang paling penting untuk ditekankan adalah bahwa variasi angka ini, meskipun menarik secara akademis dan historis, sama sekali tidak mengurangi keotentikan atau kesucian Al-Qur'an. Ini adalah masalah *rhetorika* dan *metode pengajaran*, bukan masalah *substansi teologis*.

Semua mushaf di dunia, terlepas dari apakah mereka mengikuti hitungan Kufi, Madani, atau Basri, memiliki huruf yang sama persis. Jika seseorang membaca Al-Qur'an dengan mushaf Kufi (6.236 ayat) dan orang lain membaca dengan mushaf Basri (6.204 ayat), mereka membaca teks yang identik. Perbedaannya hanya pada di mana tanda lingkaran kecil yang menandakan akhir ayat diletakkan.

Ulama sepakat bahwa variasi ini adalah bagian dari "tujuh huruf" (*sab'atu ahruf*) atau setidaknya merupakan variasi yang diizinkan dan berasal dari transmisi lisan yang berbeda dari Nabi ﷺ sendiri. Ini menunjukkan rahmat Allah SWT dalam memudahkan umatnya untuk membaca dan menghafal Kitab Suci-Nya melalui berbagai cara yang telah dijamin keasliannya.

Penutupan dan Kesimpulan Akhir

Kembali ke pertanyaan inti: ada berapa ayat di dalam Al-Qur'an? Jawaban yang paling akurat dan relevan bagi mayoritas umat Islam saat ini adalah 6.236 ayat, karena angka ini mengikuti metodologi Kufi yang menjadi standar internasional dalam pencetakan mushaf. Angka ini didukung oleh sanad yang kuat, melalui Imam Asim dan muridnya, Hafs, yang metode pembacaannya paling tersebar luas.

Namun, jawaban yang lebih ilmiah dan komprehensif adalah bahwa ada setidaknya enam angka yang diterima secara akademis, berkisar antara 6.204 hingga 6.236, yang semuanya merepresentasikan validitas sanad lisan dari titik-titik henti (fawasil) yang berbeda yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ.

Variasi ini adalah kekayaan keilmuan Islam, yang memperlihatkan ketelitian para ulama dalam menjaga setiap aspek Kitab Suci, bahkan hingga pada penempatan setiap jeda. Umat Islam dapat merasa yakin bahwa teks Al-Qur'an telah dijaga secara hurufiah dan spiritual, terlepas dari perbedaan kecil dalam metodologi penghitungan ayat. Ini adalah manifestasi nyata dari janji ilahi, "Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Adz Dzikr (Al-Qur'an), dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya" (QS. Al-Hijr: 9).

Eksplorasi Mendalam: Struktur Internal Al-Qur'an dan Keterkaitannya dengan Ayat

Untuk melengkapi pembahasan mengenai 'Adad al-Ayat, penting untuk meninjau struktur Al-Qur'an yang lebih besar, karena segmen-segmen ini, meskipun tidak memengaruhi jumlah ayat secara langsung, memberikan konteks bagaimana ayat-ayat tersebut dikelompokkan dan dihafalkan.

Surah (Bab)

Al-Qur'an terdiri dari 114 Surah (bab). Jumlah surah adalah satu-satunya elemen struktural yang disepakati secara universal. Surah terkecil adalah Al-Kautsar (atau An-Nasr/Al-'Asr, tergantung mazhab hitungan) dan surah terpanjang adalah Al-Baqarah. Surah-surah ini diklasifikasikan menjadi Makkiyah (diturunkan sebelum Hijrah ke Madinah) dan Madaniyah (diturunkan setelah Hijrah). Perbedaan lokasi penurunan ini seringkali memengaruhi gaya bahasa, namun tidak memengaruhi perbedaan jumlah ayat, karena penghitungan murni didasarkan pada riwayat lisan.

Juz (Bagian)

Al-Qur'an dibagi menjadi 30 Juz (bagian) untuk memudahkan pembacaan dalam satu bulan (terutama selama Ramadan). Pembagian ini bersifat konvensional dan praktis, dan tidak ada hubungannya dengan batas ayat yang diwahyukan. Batas juz seringkali berada di tengah-tengah surah.

Manzil (Stasiun)

Pembagian lain yang bersifat praktis adalah 7 Manzil, yang memungkinkan pembacaan seluruh Al-Qur'an dalam seminggu. Pembagian ini juga konvensional dan tidak memengaruhi 'Adad al-Ayat.

Ruku' (Bagian Rukuk)

Pembagian *rukuk* adalah sistem yang digunakan terutama di Asia Selatan dan beberapa mushaf di Timur Tengah. Ruku' menandai sekelompok ayat yang memiliki kesatuan tema, seringkali digunakan sebagai panduan bagi imam untuk mengetahui di mana harus berhenti dalam shalat berjamaah. Jumlah Ruku’ dalam Al-Qur'an bervariasi tergantung mushaf, berkisar antara 540 hingga 558, tetapi pembagian ini adalah hasil ijtihad ulama dan tidak ditetapkan secara *tauqifi* seperti ayat.

Penegasan Kembali: Memahami Perbedaan dalam Konteks Ilmu Qira'at

Perbedaan dalam penghitungan ayat tidak dapat dipisahkan dari perbedaan dalam Ilmu Qira'at (Metode Pembacaan). Setiap mazhab penghitungan ayat sangat erat kaitannya dengan Qari' (pembaca) utama di kota tersebut. Karena itu, saat kita melihat perbedaan angka, kita sebenarnya melihat manifestasi dari transmisi qira'at yang berbeda.

Contohnya, Qira'at Imam Nafi' (Madani) secara umum mengikuti hitungan Madani (6.214/6.219). Qira'at Ibnu Amir (Syami) mengikuti hitungan Syami (6.226). Qira'at Imam Asim (Kufi), yang paling populer, mengikuti hitungan Kufi (6.236).

Ketika seorang qari membaca dengan riwayat Hafs dari Asim (Kufi), secara otomatis titik-titik jedanya akan sesuai dengan penandaan 6.236 ayat. Jika ia membaca dengan riwayat Warsh dari Nafi' (Madani), ia akan secara alami berhenti pada titik-titik jeda yang berbeda, yang menghasilkan total 6.214 ayat.

Hubungan simbiotik antara 'Adad al-Ayat dan Qira'at ini menegaskan bahwa perbedaan tersebut murni bersifat riwayat lisan yang sah dan bukan kesalahan dalam penyalinan. Ini adalah bukti ganda akan terjaganya Al-Qur'an dalam dua aspek: lisan (qira'at) dan struktural (adad).

Membongkar Mitos Angka 6.666

Sangat penting untuk menghabiskan waktu lebih jauh dalam mendiskusikan angka 6.666 ayat, karena angka ini sangat meresap dalam budaya populer meskipun tidak didukung oleh sanad ilmiah. Angka ini seringkali disebarkan dengan narasi bahwa setiap surah memiliki jumlah ayat yang sama atau didasarkan pada perhitungan yang simetris.

Para ulama seperti Ad-Dani (seorang master 'Adad al-Ayat) dan As-Suyuthi telah secara tegas menolak angka 6.666. Mereka menjelaskan bahwa angka ini mungkin muncul dari penghitungan yang mencakup setiap Basmalah di awal surah (113 kali) sebagai ayat yang berdiri sendiri, ditambahkan pada total ayat yang sebenarnya, atau hasil dari upaya untuk mengaitkan Al-Qur'an dengan keindahan numerologi yang tidak berdasar pada riwayat lisan yang otentik.

Jika kita menerima angka Basri (6.204) dan menambahkan 113 Basmalah (sebagai ayat mandiri), kita mendapatkan 6.317. Jika kita menerima angka Kufi (6.236) dan menambahkan 113 Basmalah (sebagai ayat mandiri, meskipun Kufi sudah menghitung Fatihah), hasilnya akan berbeda lagi. Tidak ada kombinasi yang valid secara ilmiah yang menghasilkan 6.666.

Penting bagi pembelajar untuk memahami bahwa keindahan dan kesucian Al-Qur'an terletak pada *teks* dan *maknanya*, yang diterima secara mutawatir (massal) dan sempurna, bukan pada upaya spekulatif untuk mencapai angka total yang simetris. Maka, ketika mencari jawaban akurat terhadap ada berapa ayat di dalam Al-Qur'an, kita harus selalu merujuk pada sanad Kufi (6.236) atau sanad lainnya yang telah diverifikasi oleh ulama Adad al-Ayat, dan mengesampingkan angka populer yang tidak berdasar ilmiah.

Detail Tambahan: Perbedaan Penghitungan Ayat di Surah Al-Fatihah

Kasus Al-Fatihah adalah miniatur dari seluruh perdebatan 'Adad al-Ayat. Semua mazhab sepakat bahwa Al-Fatihah memiliki 7 ayat, sesuai dengan hadis Nabi ﷺ yang menyebutkan "Surah Al-Fatihah adalah tujuh ayat". Namun, cara mencapai angka 7 itulah yang berbeda:

Studi mendalam mengenai perbedaan ini menunjukkan bahwa ulama 'Adad al-Ayat bekerja dengan sangat hati-hati untuk memastikan bahwa riwayat lisan yang mereka terima dari guru-guru mereka sesuai dengan jumlah ayat yang diriwayatkan untuk setiap surat, meskipun titik potongnya berbeda.

Mengintegrasikan Ilmu 'Adad al-Ayat dalam Studi Modern

Dalam konteks akademik modern, pemahaman terhadap Ilmu 'Adad al-Ayat adalah wajib. Ketika seorang peneliti mengutip ayat Al-Qur'an, misalnya "Ayat 255 Surah Al-Baqarah (Ayat Kursi)", ia harus tahu bahwa penomoran itu didasarkan pada sistem Kufi. Jika ia merujuk pada manuskrip kuno yang menggunakan sistem Basri, penomoran ayat Kursi mungkin berbeda.

Pengetahuan ini menghindari kebingungan dan memperkuat pemahaman bahwa Al-Qur'an tidak sekadar dikodifikasi dalam bentuk tertulis, tetapi juga dijaga melalui tradisi lisan yang detail dan berlapis. Variasi dalam penghitungan adalah cerminan dari keragaman dialek dan cara penyampaian di masa awal Islam, yang semuanya diakui sebagai bagian dari kemudahan yang diberikan Allah kepada umatnya.

Maka, saat kita mencari jawaban mengenai ada berapa ayat di dalam Al-Qur'an, kita tidak mencari angka tunggal yang kaku, melainkan mengakui bahwa 6.236 adalah angka konsensus yang dominan, sementara angka-angka lain (6.204, 6.210, 6.214, 6.219, 6.226) merupakan varian historis yang sama-sama valid dan dijaga melalui sanad keilmuan yang tak terputus.

Penyebaran yang luas dari riwayat Kufi melalui Hafs dari Asim telah menempatkan angka 6.236 sebagai acuan global, memberikan kemudahan bagi umat yang semakin besar dan tersebar di seluruh penjuru dunia untuk menggunakan mushaf dengan penandaan ayat yang seragam, sehingga fokus utama tetap pada kandungan dan makna ilahi dari setiap kata, tanpa perlu terbebani oleh perdebatan batas ayat yang bersifat teknis dan historis.

Kedalaman pembahasan ini haruslah mengokohkan keyakinan bahwa setiap huruf, kata, dan jeda dalam Al-Qur'an telah dipertahankan dengan tingkat ketelitian yang tidak tertandingi oleh kitab suci manapun dalam sejarah manusia. Perbedaan numerik adalah bukti sejarah transmisi yang otentik dan berlapis, bukan indikasi kekurangan. Ini adalah warisan intelektual yang luar biasa dari peradaban Islam awal.

Jika kita telaah kembali alasan mengapa Mazhab Kufi menjadi standar, hal itu tidak hanya karena popularitas qira'at Hafs, tetapi juga karena Kufah adalah pusat keilmuan yang sangat aktif dalam kodifikasi bahasa Arab dan tata bahasa, yang mungkin memberikan keunggulan dalam sistematika penomoran ayat pada periode kodifikasi mushaf di abad-abad awal Hijriah. Keunggulan metodologis Kufi dalam memberikan batas ayat yang jelas, termasuk pada Huruf Muqatta’ah, memudahkan pekerjaan para penyalin dan penghafal generasi berikutnya.

Sebagai penutup, seluruh variasi ini hanyalah pembungkus luar dari kemuliaan yang tak terbatas dari Firman Allah. Angka 6.236, yang paling sering kita temui, berfungsi sebagai jembatan yang menyatukan praktik umat, sementara pemahaman historis tentang 6.204 hingga 6.236 memastikan bahwa kita menghargai dan memahami keragaman ilmiah yang mendasari kitab suci ini.

Oleh karena itu, jika ditanya, "Ada berapa ayat di dalam Al-Qur'an?", jawaban yang paling tepat dan aman bagi umat Muslim kontemporer adalah 6.236 ayat, sambil menyadari bahwa angka ini merupakan representasi dari Mazhab Kufi yang dominan di Mushaf standar yang tersebar luas saat ini.

Penghitungan ayat ini telah menjadi subjek ribuan risalah dan kitab yang ditulis oleh para ulama, mulai dari Ibnu ad-Dani hingga As-Suyuthi, menunjukkan betapa pentingnya ilmu ini bagi para penjaga Al-Qur'an. Ini bukan sekadar angka, melainkan cermin dari warisan transmisi lisan yang detail dan penuh tanggung jawab.

Masing-masing dari 114 surah memiliki jumlah ayat yang tetap dalam riwayat tertentu. Misalnya, Surah An-Nisa’ memiliki 176 ayat menurut Kufi, dan 175 ayat menurut Basri. Selisih satu ayat ini, yang diulang di banyak surah, adalah yang akhirnya menyebabkan perbedaan total. Mengingat detail ini, angka 6.236 tetap menjadi patokan terkuat dan paling diandalkan dalam studi Al-Qur'an global.

Kesimpulannya adalah bahwa Al-Qur'an, dalam setiap kata dan hurufnya, adalah satu kesatuan yang tidak terbagi, dan perbedaan dalam penghitungan ayat hanyalah variasi metodologis yang diakui dalam disiplin Ilmu 'Adad al-Ayat, yang memperkaya khazanah keilmuan Islam.

🏠 Homepage