Ilustrasi Konsep Wahyu dan Cahaya Ilahi
Teks Arab dan Terjemahan Al Maidah Ayat 18
Surah Al-Ma'idah, ayat ke-18, adalah bagian penting dalam Al-Qur'an yang membahas tentang hubungan antara Allah dengan manusia, khususnya mengenai sikap orang Yahudi dan Nasrani terhadap kebenaran Islam.
Terjemahan: Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawablah: "Allah". Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindung selain Dia, padahal mereka itu tidak memiliki kemampuan untuk memberi manfaat maupun menimpakan mudharat kepada diri mereka sendiri?". Katakanlah: "Adakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat? Atau adakah sama gelap gulita dengan terang benderang?". Atau apakah mereka telah mempersekutukan bagi Allah beberapa sekutu yang menciptakan seperti ciptaan-Nya, sehingga Ciplaan mereka serupa dengan ciptaan-Nya? Katakanlah: "Allah Maha Pencipta segala sesuatu; dan Dia-lah Maha Esa lagi Maha Perkasa."
Konteks Penurunan Ayat dan Isi Pokok
Ayat ini turun sebagai respons terhadap klaim dan keyakinan sebagian dari kalangan Ahli Kitab (Yahudi dan Nasrani) yang menganggap diri mereka lebih dekat dengan Allah atau memiliki hak eksklusif atas rahmat-Nya, sementara pada saat yang sama mereka menolak keras seruan Nabi Muhammad SAW.
Penegasan Ketuhanan Tunggal (Tauhid Rububiyyah)
Ayat 18 dimulai dengan perintah kepada Nabi Muhammad SAW untuk mengajukan pertanyaan retoris yang sangat mendasar: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?". Jawaban yang pasti dan tak terbantahkan adalah "Allah". Pertanyaan ini bertujuan untuk menyadarkan mereka bahwa pengakuan mereka terhadap Allah sebagai Pencipta alam semesta secara implisit harus diikuti dengan pengakuan terhadap keesaan-Nya dalam segala aspek, termasuk dalam penetapan hukum dan perlindungan.
Kelemahan Berhala dan Pelindung Selain Allah
Selanjutnya, ayat ini menantang mereka yang mengambil pelindung (auliya') selain Allah. Tantangan ini berfokus pada kemampuan pelindung-pelindung tersebut. Allah bertanya apakah pelindung-pelindung yang mereka sembah atau sandarkan itu mampu memberikan manfaat (menarik rezeki, memberi kesembuhan) atau menolak bahaya (menghilangkan penyakit, mencegah musibah) bagi diri mereka sendiri. Jawabannya jelas: tidak. Ini adalah dalil logis bahwa sesembahan yang tidak memiliki kuasa atas dirinya sendiri mustahil memiliki kuasa atas orang lain.
Perbandingan Logis dalam Ayat
Untuk memperkuat argumen tauhid, Allah SWT menggunakan analogi perbandingan yang sangat jelas dan mudah dipahami oleh akal sehat manusia:
- Buta vs. Melihat: Apakah orang yang buta (tidak dapat melihat kebenaran, tertutup hatinya) sama dengan orang yang melihat (yang memiliki bashirah atau pandangan batin yang jernih)? Tentu tidak.
- Kegelapan vs. Terang Benderang: Apakah kegelapan (kesesatan, syirik) sama dengan cahaya (hidayah, tauhid)? Perbedaan ini mencolok dan mutlak.
Perbandingan ini menegaskan bahwa menerima kebenaran Islam adalah kondisi "melihat" dan "berada dalam terang", sementara menolaknya adalah kondisi "buta" dan "berada dalam kegelapan".
Menyanggah Syirik dalam Penciptaan
Puncak dari sanggahan dalam ayat ini adalah mengenai persekutuan (syirik) dalam penciptaan. Allah bertanya apakah mereka telah menetapkan bagi-Nya sekutu-sekutu yang menciptakan makhluk yang serupa dengan ciptaan Allah. Jika ciptaan sekutu-sekutu itu serupa, maka akan terjadi kekacauan dan kebingungan dalam identitas ciptaan tersebut ("maka ciptaan mereka serupa dengan ciptaan-Nya").
Namun, karena tidak ada satupun tandingan bagi ciptaan Allah yang sempurna, maka klaim bahwa ada pencipta lain selain Allah adalah dusta yang nyata.
Penutup Ayat: Penegasan Sifat Allah
Ayat ditutup dengan penegasan final yang menjadi inti ajaran Islam: "Katakanlah: 'Allah Maha Pencipta segala sesuatu; dan Dia-lah Maha Esa lagi Maha Perkasa.'"
Pernyataan ini memuat tiga sifat utama Allah yang meniadakan kebutuhan akan sekutu:
- Al-Khalik (Maha Pencipta): Menguatkan bahwa hanya Dialah sumber segala keberadaan.
- Al-Wahid (Maha Esa): Menolak segala bentuk persekutuan dalam ketuhanan dan uluhiyyah.
- Al-Qahhar (Maha Perkasa/Mengalahkan): Menunjukkan bahwa kekuasaan-Nya tidak tertandingi; Dia mengalahkan segala sesuatu yang ada dan menundukkannya kepada kehendak-Nya.
Dengan demikian, Al Maidah ayat 18 adalah seruan yang kuat kepada akal sehat untuk kembali kepada pemahaman tauhid yang murni, meninggalkan takhayul, dan menyadari kelemahan mutlak makhluk di hadapan Kekuasaan Yang Maha Tunggal.