Tanaman melinjo (Gnetum gnemon) umumnya dikenal masyarakat luas melalui daunnya yang lezat untuk bahan sayur (sayur asem) dan buahnya yang diolah menjadi emping. Namun, jarang sekali bagian akar melinjo yang mendapat perhatian serius, baik dalam kuliner maupun pengobatan tradisional. Padahal, bagian akar dari tanaman yang banyak tumbuh di Asia Tenggara ini menyimpan potensi dan khasiat yang patut dieksplorasi lebih lanjut.
Struktur akar melinjo yang kokoh berfungsi menopang pohon yang bisa mencapai ketinggian signifikan. Dalam konteks herbalisme tradisional, akar sering kali dianggap sebagai penyimpan energi atau zat aktif paling kuat dari suatu tumbuhan karena fungsinya yang menyerap nutrisi dari tanah. Meskipun penelitian ilmiah modern masih terus berkembang, penggunaan akar melinjo dalam ramuan turun-temurun telah menjadi bagian penting dari kearifan lokal di beberapa daerah.
Gambar ilustrasi visualisasi bagian akar tanaman melinjo.
Secara empiris, masyarakat tradisional sering memanfaatkan akar melinjo sebagai bagian dari pengobatan alternatif. Beberapa klaim populer mengenai manfaatnya meliputi:
Salah satu khasiat yang paling sering dikaitkan dengan akar melinjo adalah kemampuannya membantu menormalkan kadar asam urat dalam darah. Meskipun emping (dari biji) dikenal dapat meningkatkan asam urat, ramuan yang dibuat dari rebusan akarnya dipercaya memiliki efek sebaliknya. Hal ini diduga karena adanya senyawa tertentu yang bekerja sebagai peluruh atau membantu metabolisme purin.
Seperti banyak tanaman herbal lainnya, akar melinjo diduga mengandung zat aktif yang berfungsi sebagai agen anti-inflamasi alami. Dalam pengobatan tradisional, rebusan ini kadang digunakan untuk meredakan nyeri ringan, bengkak, atau peradangan pada persendian.
Beberapa sumber menyebutkan bahwa akar tanaman ini dapat membantu menyehatkan sistem pencernaan. Meskipun mekanismenya belum sepenuhnya terungkap secara ilmiah, penggunaannya sering dikaitkan dengan peningkatan nafsu makan dan mengatasi gangguan pencernaan ringan.
Pengolahan akar melinjo biasanya melibatkan pembersihan menyeluruh pada akar yang baru dicabut, kemudian dikeringkan, atau langsung direbus.
Proses yang paling umum adalah merebus irisan tipis akar melinjo dengan beberapa liter air hingga mendidih dan airnya berkurang secara signifikan. Ramuan yang dihasilkan kemudian diminum sebagai jamu. Penting untuk dicatat bahwa intensitas dan dosis penggunaan sangat bervariasi antar tradisi, dan seringkali memerlukan pendampingan oleh praktisi herbal lokal untuk memastikan keamanan.
Mengingat masih minimnya uji klinis skala besar mengenai keamanan dan efikasi akar melinjo, masyarakat diimbau untuk selalu berhati-hati. Konsumsi berlebihan dapat menimbulkan efek samping yang tidak diinginkan. Bagi individu yang memiliki kondisi medis kronis, sedang hamil, atau menyusui, konsultasi dengan tenaga medis profesional sebelum mencoba ramuan berbasis akar melinjo sangat dianjurkan. Pemanfaatan juga harus memperhatikan aspek keberlanjutan; jangan mengambil akar dari pohon muda yang masih dibutuhkan untuk pertumbuhannya.
Eksplorasi terhadap khasiat akar melinjo adalah bagian dari upaya melestarikan kekayaan botani Indonesia. Tanaman melinjo, yang sering dianggap sebagai komoditas pangan sekunder, ternyata memiliki potensi farmakologis yang tersembunyi di bagian akarnya. Masa depan pengobatan herbal akan semakin kuat jika pengetahuan tradisional seperti ini dapat dipadukan dengan metodologi penelitian ilmiah modern.
Dengan demikian, akar melinjo bukan sekadar struktur penopang pohon, melainkan warisan pengetahuan yang menjanjikan potensi kesehatan bila dimanfaatkan dengan bijaksana dan bertanggung jawab.