Ilustrasi persatuan dan hati nurani.
Dalam Al-Qur'an, terdapat banyak sekali ayat yang menekankan pentingnya persaudaraan, persatuan, dan menjaga hubungan baik di antara sesama mukmin. Salah satu ayat yang seringkali menjadi penekanan dalam konteks ini adalah Surah Al-Maidah ayat ke-63. Ayat ini menyajikan sebuah narasi penting mengenai respons para ulama dan pemimpin spiritual terhadap perilaku umat yang mulai menyimpang dari ajaran dasar.
Ayat ini diturunkan dalam konteks teguran keras terhadap sebagian kalangan Bani Israil pada masa itu. Allah SWT melalui firman-Nya menegur para pemimpin agama mereka—yakni para ulama (yang mendalami ilmu agama) dan para pendeta (yang memimpin urusan keagamaan dan moral)—karena mereka diam saja ketika umatnya melakukan perbuatan tercela, melanggar batasan-batasan syariat, dan mengonsumsi hal-hal yang jelas-jelas diharamkan.
Inti dari teguran ini bukanlah semata-mata kesalahan si pelaku maksiat, melainkan kegagalan kolektif dalam amar ma'ruf nahi munkar. Konsep "amar ma'ruf nahi munkar" (mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran) adalah pondasi utama dalam menjaga kemurnian ajaran dan moralitas sebuah komunitas Muslim. Ketika para penjaga moral ini justru bungkam karena takut, demi menjaga kedudukan, atau karena sudah terbiasa, maka kerusakan sosial akan merajalela tanpa ada yang berani menghentikannya.
Meskipun konteks historisnya merujuk pada komunitas terdahulu, pelajaran yang terkandung dalam Al-Maidah 63 sangat relevan hingga hari ini, khususnya bagi umat Islam secara keseluruhan, bukan hanya terbatas pada ulama formal. Setiap individu yang memiliki ilmu, pengaruh, atau otoritas moral dalam lingkungannya memiliki tanggung jawab untuk ikut serta dalam menjaga kesucian akidah dan moralitas.
Di era informasi saat ini, penyimpangan moral, penyebaran berita bohong (fitnah), dan praktik bisnis yang merugikan seringkali terjadi secara terbuka. Jika individu-individu yang dianggap memiliki kapasitas untuk memberikan nasihat—baik itu tokoh masyarakat, guru, atau bahkan teman sebaya yang lebih berilmu—memilih untuk bersikap apatis, maka lingkungan tersebut secara perlahan akan terdegradasi.
Ayat ini secara tajam mempertanyakan: Mengapa diam? Apakah karena rasa takut kehilangan kenyamanan duniawi? Apakah karena khawatir kehilangan popularitas jika harus menegur kesalahan yang dianggap 'halus'? Allah SWT mengecam sikap memilih diam ketika kebatilan merajalela, karena diam dalam konteks ini sama saja dengan permisif terhadap dosa.
Para ulama rabbaniyyin disebutkan secara spesifik karena kedudukan mereka yang seharusnya menjadi mercusuar. Mereka adalah orang-orang yang mendalami agama (rabbaniyyin), yang berarti ilmu mereka seharusnya menjadi kompas moral bagi masyarakat. Ketika kompas itu rusak atau sengaja disembunyikan, maka kesesatan umat akan semakin mudah terjadi.
Teguran dalam Islam seharusnya dilakukan dengan hikmah (kebijaksanaan), sebagaimana diperintahkan dalam konteks dakwah yang lebih umum. Namun, Al-Maidah 63 menyoroti kegagalan fundamental: bukan sekadar cara menegurnya yang salah, melainkan ketiadaan tindakan pencegahan itu sendiri. Ini menunjukkan bahwa dalam kondisi darurat moral, tindakan korektif yang tegas, meskipun sulit, lebih baik daripada membiarkan kemaksiatan menjadi norma sosial.
Dampak dari diamnya para pengawas moral sangat destruktif. Pertama, ia memberikan justifikasi tersirat kepada pelaku maksiat bahwa perbuatan mereka diterima atau setidaknya tidak terlalu serius. Kedua, ia melemahkan fungsi kontrol sosial dalam agama. Jika orang yang paling tahu hukum Allah memilih diam, masyarakat umum akan semakin sulit membedakan mana yang haq dan mana yang batil.
Oleh karena itu, ayat ini menjadi pengingat abadi bahwa tanggung jawab amar ma'ruf nahi munkar adalah tanggung jawab kolektif yang dimulai dari para pemimpin ilmu. Kehancuran suatu umat seringkali dimulai bukan dari serangan eksternal, melainkan dari kegagalan internal untuk saling mengingatkan dan mengoreksi dalam bingkai kasih sayang dan kebenaran. Menjaga persaudaraan sejati berarti juga berani mengatakan kebenaran kepada saudara kita, demi keselamatan akhirat mereka bersama.