Ilustrasi sederhana pohon Akasia.
Akasia adalah sebutan umum yang merujuk pada genus tumbuhan berbunga dalam famili Fabaceae (kacang-kacangan). Nama ilmiah genus ini adalah Acacia, meskipun klasifikasi taksonominya telah mengalami perubahan signifikan seiring waktu. Secara historis, genus Acacia sangat besar, namun kini banyak spesies yang sebelumnya diklasifikasikan di bawah Acacia telah dipindahkan ke genus baru seperti Vachellia dan Senegalia, terutama spesies-spesies dari Afrika dan Amerika.
Di Indonesia dan Australia, banyak pohon yang masih dikenal secara luas sebagai akasia, seperti Acacia auriculiformis (Akasia Telinga Gajah), yang populer dalam reboisasi dan kehutanan. Pohon-pohon ini dikenal karena kemampuannya beradaptasi di berbagai kondisi tanah, termasuk tanah marginal dan kering.
Pohon akasia memiliki ciri khas yang membedakannya. Sebagian besar spesies akasia menampilkan daun majemuk menyirip (bipinnate), yang berarti daunnya terdiri dari banyak anak daun kecil. Namun, beberapa spesies, terutama di Australia, memiliki filoda—batang daun yang pipih dan menyerupai daun—yang berfungsi sebagai daun sesungguhnya. Ini adalah adaptasi yang sangat baik untuk mengurangi transpirasi di lingkungan yang panas dan kering.
Bunga akasia seringkali berbentuk bulu atau pom-pom kecil yang berwarna kuning cerah hingga putih krem, tersusun dalam gugusan padat. Bau bunga ini umumnya harum dan menarik bagi penyerbuk seperti lebah dan serangga lainnya. Buah dari pohon akasia biasanya berupa polong (legume) yang mengandung biji-bijian.
Apa yang membuat akasia sangat penting bagi manusia dan ekosistem adalah kegunaannya yang sangat beragam. Salah satu pemanfaatan paling terkenal adalah dalam industri kayu. Kayu akasia dihargai karena kekuatannya, ketahanannya terhadap pembusukan, dan seratnya yang indah, menjadikannya pilihan utama untuk pembuatan furnitur, lantai, dan bahan bangunan.
Selain kayu, getah akasia (gum arabic) dari beberapa spesies Afrika, seperti Senegalia senegal (sebelumnya Acacia senegal), merupakan komoditas penting. Getah ini digunakan secara luas dalam industri makanan sebagai pengental, pengemulsi, dan penstabil, serta dalam industri farmasi dan kosmetik.
Akasia juga memainkan peran ekologis vital. Sebagai tanaman penambat nitrogen (nitrogen-fixing plants), akasia membantu memperbaiki kesuburan tanah di lingkungan yang miskin nutrisi. Hal ini menjadikannya tanaman pionir yang ideal dalam proyek reforestasi dan reklamasi lahan bekas tambang. Di beberapa daerah, nektar dari bunganya juga menjadi sumber penting bagi produksi madu.
Sejarah hubungan manusia dengan akasia terentang jauh ke belakang. Pohon ini memiliki signifikansi budaya dan religius di berbagai peradaban. Misalnya, di Mesir kuno, kayu akasia digunakan dalam pembuatan perahu dan perabotan karena ketangguhannya. Dalam tradisi agama, daun atau ranting tertentu dari akasia seringkali disimbolkan sebagai kesucian dan keabadian.
Perlu ditekankan kembali bahwa ketika kita berbicara tentang "akasia" hari ini, kita sering merujuk pada sekelompok besar spesies yang tersebar di seluruh dunia tropis dan subtropis. Meskipun klasifikasi ilmiahnya terus berkembang—memisahkan spesies asli Australia (yang sebagian besar tetap di genus Acacia) dari spesies Afrika/Amerika (yang sekarang sering di genus Vachellia)—inti dari pohon ini tetap sama: tanaman yang tangguh, bermanfaat, dan merupakan penopang penting bagi banyak ekosistem dan industri global. Keberagaman inilah yang mendefinisikan mengapa akasia adalah salah satu genus tumbuhan yang paling penting secara ekonomi dan ekologis.