Ilustrasi: Rahasia Wahyu yang Terbuka
Surat Al-Isra ayat 86 merupakan salah satu ayat kunci dalam Al-Qur'an yang menegaskan keunikan dan kemustahilan ditirunya mukjizat terbesar Nabi Muhammad SAW, yaitu Al-Qur'an. Ayat ini turun sebagai respons terhadap keraguan dan tantangan yang dilontarkan oleh kaum musyrikin Mekah yang ingin merendahkan kedudukan Al-Qur'an dengan menuduhnya sebagai karangan atau sihir.
Allah SWT melalui firman-Nya memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk menyampaikan tantangan yang sangat tegas kepada seluruh umat manusia dan jin. Tantangan ini bukan sekadar meminta karya sastra terbaik, melainkan meminta penciptaan tandingan (mithla) terhadap Al-Qur'an. Parameter tantangan ini sangat luas: melibatkan dua jenis makhluk yang paling cerdas dan paling berpengaruh di alam semesta—manusia dan jin.
Kata kunci dalam ayat ini adalah "bi-mithlihi" (serupa dengannya). Ini menunjukkan tantangan untuk menciptakan karya yang setara, bukan hanya dalam hal keindahan bahasa, tetapi juga dalam kedalaman maknanya, keakuratan informasinya, dan konsistensi hukum yang dibawanya. Ketika manusia dan jin dikumpulkan, dengan seluruh pengetahuan, kebijaksanaan, dan kekuatan gaib mereka, mereka diharuskan menghasilkan satu surat saja yang setara dengan Al-Qur'an.
Pernyataan "walau kāna baʿḍuhum li-baʿḍin ẓahīrā" (sekalipun sebagian mereka bagi sebagian yang lain adalah penolong) memperkuat aspek kemustahilan ini. Ini mengimplikasikan bahwa upaya kolektif, kolaborasi, bahkan jika jin yang memiliki kemampuan supranatural membantu manusia yang piawai bersastra, hasilnya akan tetap nihil. Tidak ada bantuan, tidak ada strategi, dan tidak ada sumber daya yang dapat menandingi sumber wahyu ilahi.
Tantangan ini sebenarnya telah diulang di beberapa ayat lain dalam Al-Qur'an, seperti tantangan untuk membuat sepuluh surat (Hud: 13) dan satu surat (Al-Baqarah: 23). Namun, ayat Al-Isra 86 ini memberikan cakupan tantangan yang paling komprehensif dengan melibatkan dimensi spiritual (jin) dan dimensi fisik (manusia) sekaligus.
Meskipun Al-Qur'an telah diturunkan ribuan tahun lalu, mukjizat ini tetap relevan hingga kini. Di era modern yang penuh dengan kemajuan teknologi informasi dan sastra canggih, tantangan ini tetap terbuka. Para ahli bahasa, filsuf, dan ilmuwan belum mampu menciptakan teks yang memiliki otoritas, kebenaran abadi, dan dampak transformatif seperti Al-Qur'an.
Ayat ini mengajarkan dua pelajaran fundamental: Pertama, pengakuan terhadap keesaan Allah SWT sebagai satu-satunya sumber hikmah dan kebenaran hakiki. Kedua, keyakinan teguh terhadap keaslian Al-Qur'an sebagai Kalamullah (Firman Allah), bukan hasil rekayasa manusia. Ketika kita membaca ayat ini, kita diingatkan bahwa kekuatan terbesar yang kita miliki adalah petunjuk yang telah diturunkan oleh Tuhan, yang kebenarannya terbukti melampaui kemampuan ciptaan-Nya sendiri.
Fokus Al-Isra ayat 86 adalah bukti bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat yang kekal, bukan hanya mukjizat yang bersifat temporal (seperti yang mungkin terjadi pada mukjizat nabi-nabi terdahulu yang tidak terabadikan teksnya). Kemustahilan menandingi Al-Qur'an adalah garansi ilahi atas keotentikan wahyu hingga akhir zaman.