Alt Text: Siluet orang menatap cahaya yang bersinar di cakrawala.
Perasaan itu datang tiba-tiba, seperti riak kecil di permukaan air yang tenang. Sudah sekian lama, rasanya seperti satu dekade telah berlalu sejak terakhir kali aku merasakan kejelasan semacam ini. Hari itu, segalanya terasa buram, tertutup kabut tebal kenangan dan penyesalan. Namun, pagi ini, saat sinar matahari menembus jendela kamar yang sudah lama tak dibuka, kata itu berbisik di benakku: "Akhirnya aku lihat lagi."
Apa yang kulihat? Bukan objek fisik yang kasatmata, melainkan perspektif baru terhadap perjalanan yang telah kulalui. Kita seringkali terjebak dalam rutinitas yang monoton, melupakan betapa berharganya kemampuan kita untuk mengamati detail kecil. Aku telah melewati fase itu, fase di mana setiap hari terasa seperti salinan yang kurang berkualitas dari hari sebelumnya. Fokusku terlalu tertuju pada masa depan yang tak pasti atau kesalahan di masa lalu yang tak bisa diubah.
Selama periode kegelapan atau kebingungan, indra kita seperti tumpul. Kita mungkin melihat, tapi tidak benar-benar 'memperhatikan'. Pemandangan yang dulu selalu kurindukan—dedaunan yang menari tertiup angin, warna biru langit yang dalam—semuanya menjadi latar belakang yang membosankan. Aku menyadari, 'melihat lagi' berarti mengaktifkan kembali semua sensor yang selama ini kubiarkan berkarat.
Pemicunya bisa sangat sederhana. Mungkin itu adalah percakapan singkat namun mendalam dengan seseorang yang telah lama kukenal, atau mungkin membaca kembali buku favorit masa kecil yang tiba-tiba membuka makna baru. Dalam kasusku, itu adalah momen hening di stasiun kereta yang ramai. Di tengah hiruk pikuk pengumuman dan deru roda, aku melihat seorang ibu tua dengan sabar membantu anaknya memasang syal. Sebuah adegan domestik yang sangat biasa, namun kali ini, aku melihat cinta di balik setiap gerakan tangannya.
Saat itulah getaran itu muncul. Sensasi hangat yang menyebar dari dada, diikuti oleh kesadaran yang dingin: aku telah lama buta terhadap keindahan yang nyata ini. Dunia tidak berubah; hanya cara pandangku yang berubah. Ini bukan tentang menemukan sesuatu yang baru di luar sana, melainkan menemukan kembali cara untuk menghargai apa yang sudah ada di sini.
Pertanyaannya kemudian adalah: mengapa kita membiarkan hal itu terjadi? Teknologi, misalnya. Layar-layar kecil yang kita genggam menuntut perhatian konstan kita, menarik fokus kita keluar dari lingkungan terdekat. Kita terbiasa menelan informasi secara cepat, tanpa menyerap substansinya. Proses 'melihat' yang sesungguhnya membutuhkan kesabaran dan jeda.
Aku mencoba menganalisis kembali tahun-tahun terakhir. Aku terlalu sibuk berlari. Berlari mengejar target yang ditetapkan orang lain, berlari menghindari rasa takut akan kegagalan. Dalam kecepatan itu, aku mengabaikan peta dan tujuan sebenarnya. Ketika kita berlari, kita hanya melihat tanah tepat di depan kaki kita; kita tidak melihat keseluruhan lanskap. Dan lanskap itulah yang memberikan konteks pada langkah kita.
Melihat lagi adalah tentang memperlambat laju. Ini adalah undangan untuk berhenti sejenak di tengah hari yang sibuk, menarik napas dalam-dalam, dan sungguh-sungguh mengamati tekstur kulit pohon, atau cara bayangan memanjang seiring bergesernya matahari. Tindakan sederhana ini, yang sering dianggap remeh, ternyata adalah fondasi dari rasa syukur yang mendalam.
Tantangan terbesar kini bukanlah untuk 'melihat lagi', melainkan bagaimana agar pandangan jernih ini tidak memudar kembali menjadi kabut. Bagaimana agar momen 'akhirnya aku lihat lagi' ini menjadi norma, bukan sekadar anomali yang indah? Jawabannya terletak pada praktik konsisten. Seperti otot yang harus dilatih, kemampuan untuk fokus dan mengapresiasi harus diasah setiap hari.
Aku mulai membuat jurnal kecil. Bukan untuk mencatat kejadian besar, tapi untuk mendokumentasikan hal-hal kecil yang berhasil kulihat dengan mata baru: aroma kopi pagi yang pekat, kerutan tawa di wajah seorang teman lama, atau harmoni warna saat senja. Tindakan menuliskan ini membantu mengunci persepsi tersebut dalam memori jangka panjang, mencegahnya terhapus oleh tuntutan hari esok.
Ini adalah perjalanan tanpa akhir. Akan selalu ada hari di mana aku akan kembali terseret dalam kecepatan dan kebisingan dunia. Namun, sekarang aku memiliki jangkar. Aku tahu rasanya ketika mata terbuka penuh. Aku tahu apa yang harus kucari ketika kegelapan mulai merayap. Dan sungguh, mengetahui bahwa aku bisa mencapai kejernihan itu lagi adalah sebuah anugerah yang tak ternilai harganya. Akhirnya aku lihat lagi, dan aku berjanji untuk menjaga pandangan ini tetap hidup.
Kini, aku berjalan dengan langkah yang lebih tenang, lebih sadar akan setiap jejak yang kutinggalkan dan setiap pemandangan yang tersaji di hadapanku. Dunia ini—meski penuh masalah—juga penuh dengan keajaiban yang menanti untuk diperhatikan. Dan aku, untuk saat ini, bersyukur bisa menjadi bagian dari keajaiban yang kulihat.