Akhlak Mulia Terhadap Guru dalam Perspektif Islam

Bimbingan Ilmu

Ilustrasi: Bimbingan Guru dalam Islam

Pendidikan adalah pilar utama dalam peradaban Islam. Dalam proses transfer ilmu dan pembentukan karakter, peran seorang guru (ustadz/ustadzah) sangatlah vital. Islam menempatkan kedudukan guru pada posisi yang sangat tinggi, hampir setara dengan orang tua, karena gurulah yang membimbing manusia dari kegelapan jahiliyah menuju cahaya ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, meneladani akhlak mulia terhadap guru adalah kewajiban bagi setiap Muslim yang haus akan ilmu.

Akhlak atau moralitas adalah cerminan keimanan seseorang. Dalam konteks hubungan dengan guru, akhlak ini mencakup sikap, ucapan, dan tindakan yang menunjukkan penghormatan, kerendahan hati, dan ketaatan yang proporsional. Menjaga adab (etika) kepada guru bukan sekadar formalitas sosial, melainkan ibadah yang berpahala besar.

Landasan Hukum Menghormati Guru

Konsep penghormatan terhadap guru berakar kuat dari ajaran Al-Qur'an dan Sunnah Rasulullah SAW. Meskipun Al-Qur'an secara eksplisit lebih banyak menekankan penghormatan kepada orang tua dan ulama, prinsip memuliakan sumber ilmu pengetahuan termuat di dalamnya. Nabi Muhammad SAW sendiri adalah teladan utama dalam menghormati setiap orang yang mengajarkannya kebaikan.

Dalam tradisi keilmuan Islam, guru sering diibaratkan sebagai 'wasilah' (perantara) datangnya ilmu dari Allah SWT. Tanpa bimbingan mereka, ilmu yang hakiki sulit diperoleh. Oleh karena itu, membalas jasa guru dengan kebaikan adalah bentuk syukur yang diperintahkan agama.

Bentuk Nyata Akhlak kepada Guru

Akhlak kepada guru harus diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari. Berikut adalah beberapa manifestasi akhlak yang diajarkan dalam Islam:

1. Menjaga Lisan dan Sopan Santun

Ini adalah aspek paling mendasar. Seorang murid wajib menjaga tutur kata saat berbicara dengan guru. Hal ini mencakup:

2. Kerendahan Hati (Tawadhu)

Ilmu pengetahuan harus membuat seorang penuntut ilmu semakin merendah, bukan meninggikan diri. Sikap tawadhu ini tercermin dalam:

3. Mentaati Perintah yang Baik

Ketaatan kepada guru sangat ditekankan, selama perintah tersebut tidak bertentangan dengan syariat Allah. Ketaatan ini memastikan bahwa proses pembelajaran berjalan efektif dan disiplin ilmu terjaga. Ketika guru memerintahkan sesuatu yang berkaitan dengan pelajaran atau kebaikan, seorang murid idealnya melaksanakan dengan segera.

4. Berdoa dan Mendoakan Guru

Doa adalah senjata seorang mukmin dan bentuk penghargaan tertinggi. Mendoakan guru, baik saat mereka masih hidup maupun setelah wafat, menunjukkan bahwa jasa mereka dikenang selamanya. Imam Syafi'i pernah mengatakan bahwa seorang murid yang mendoakan gurunya adalah tanda keberkahan ilmunya.

5. Menjaga Nama Baik Guru

Seorang murid bertanggung jawab untuk menjaga kehormatan guru di hadapan orang lain. Menggunjing, menjelekkan, atau menyebarkan aib guru adalah perbuatan dosa besar dalam etika Islam, sebab guru adalah representasi dari ilmu yang mereka ajarkan.

Buah Manis dari Akhlak yang Baik

Ketika seorang murid mampu menerapkan akhlak mulia kepada gurunya, keberkahan akan menyertai ilmu yang diperolehnya. Ilmu yang didapatkan tanpa adab seringkali kering dan sulit melekat, bahkan bisa menjadi mudharat. Sebaliknya, ilmu yang diperoleh dengan hati yang tulus dan adab yang tinggi akan menjadi ilmu yang bermanfaat (ilmu nafi') dunia dan akhirat. Ini adalah janji Allah bagi mereka yang menghormati tangga ilmu mereka.

🏠 Homepage