Dalam ajaran Islam, akhlak kepada orang tua menempati posisi yang sangat tinggi, hampir setara dengan kedudukan tauhid (mengesakan Allah SWT). Kebaikan hati, penghormatan, dan ketaatan yang ditunjukkan seorang anak kepada kedua orang tuanya bukan sekadar adat istiadat, melainkan sebuah kewajiban agama yang fundamental. Allah SWT telah menegaskan pentingnya berbakti kepada mereka dalam banyak ayat Al-Qur'an, seringkali menggandengkan perintah untuk beribadah kepada-Nya dengan kewajiban berbuat baik kepada ayah dan ibu.
Pengabdian kepada orang tua adalah manifestasi nyata dari rasa syukur kita. Mereka adalah dua sosok yang telah mengorbankan segalanya—waktu, harta, dan kesehatan—demi memastikan kita tumbuh menjadi pribadi yang layak. Rasa syukur ini harus diwujudkan dalam tindakan nyata sehari-hari. Akhlak kepada orang tua bukan hanya tentang bersikap sopan ketika mereka meminta sesuatu, tetapi juga tentang antisipasi terhadap kebutuhan mereka, menjaga kehormatan mereka di hadapan publik, dan mendoakan mereka di setiap kesempatan.
Dalam Islam, periode tersulit dalam hidup orang tua adalah ketika mereka memasuki usia senja. Pada fase ini, mereka membutuhkan perhatian dan kesabaran ekstra. Perintah Allah SWT sangat jelas: janganlah berkata kasar (seperti "ah" atau "uff") kepada mereka, perlakukan mereka dengan penuh kasih sayang, dan rendahkanlah diri di hadapan mereka seolah-olah kita berhadapan dengan seorang raja yang sangat kita hormati.
Mewujudkan akhlak yang baik kepada orang tua memerlukan usaha yang berkelanjutan dan kesadaran spiritual. Berikut adalah beberapa bentuk nyata dari bakti tersebut:
Di tengah kesibukan dunia modern, menjaga akhlak kepada orang tua seringkali menjadi tantangan. Jarak geografis, tuntutan pekerjaan, dan godaan kesibukan digital dapat membuat komunikasi menjadi dangkal. Namun, ini justru menjadi ujian keimanan. Meskipun kita mungkin terpisah jarak, teknologi harusnya dapat menjadi jembatan untuk menunjukkan perhatian, misalnya melalui panggilan video rutin atau mengirimkan kabar baik.
Ingatlah kisah-kisah teladan dalam sejarah Islam, di mana para sahabat rela menunda kebutuhan pribadi demi menyenangkan hati ibu mereka. Kisah tersebut mengingatkan kita bahwa surga seringkali tersembunyi di bawah telapak kaki ibu. Kesuksesan duniawi tidak akan berarti jika kita gagal meraih ridha dari kedua orang tua kita.
Pada akhirnya, berbakti kepada orang tua adalah investasi jangka panjang. Kebaikan yang kita tabur hari ini akan menjadi penolong kita di akhirat kelak. Menjaga akhlak kepada orang tua adalah cerminan sejati dari kualitas keimanan dan kemanusiaan kita.