Islam bukan hanya sekadar seperangkat ritual ibadah vertikal kepada Allah SWT, tetapi juga manifestasi nyata dalam hubungan horizontal antarmanusia, khususnya dalam lingkup persaudaraan sesama muslim. Akhlak, atau budi pekerti luhur, adalah jembatan yang menghubungkan keimanan seseorang dengan cara ia berinteraksi sehari-hari. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa hal terberat dalam timbangan seorang mukmin di hari kiamat adalah akhlak yang baik. Oleh karena itu, memahami dan mengamalkan akhlak kepada sesama muslim bukanlah pilihan, melainkan sebuah keniscayaan bagi setiap pemeluk ajaran ini.
Ilustrasi: Jalinan Ukhuwah dan Saling Menguatkan.
Hak dan Kewajiban dalam Persaudaraan
Dalam Islam, sesama muslim diibaratkan seperti satu tubuh. Apabila satu bagian sakit, bagian yang lain ikut merasakannya. Konsep ini menuntut adanya timbal balik antara hak dan kewajiban yang harus dipenuhi. Mengabaikan hak muslim lain sama saja dengan mengabaikan sebagian dari ajaran agama itu sendiri.
Menjaga Lisan dan Perasaan
Aspek akhlak yang paling fundamental adalah menjaga lisan. Lidah seringkali menjadi sumber fitnah, ghibah (menggunjing), dan menyebar permusuhan. Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa muslim sejati adalah yang lisannya selamat dari menyakiti saudaranya. Ini mencakup larangan keras untuk bergunjing, mengadu domba, atau menyebarkan aib orang lain. Sebaliknya, seorang muslim wajib menampakkan husnudzan (prasangka baik) dan selalu mengucapkan kata-kata yang mendatangkan kebaikan atau diam.
Tanggung Jawab Sosial dan Empati
Akhlak kepada sesama muslim juga terwujud dalam ranah sosial. Ini meliputi:
- Menjenguk yang sakit: Menunjukkan kepedulian nyata saat saudara kita dalam kesulitan fisik.
- Menghormati yang tua dan menyayangi yang muda: Menciptakan harmoni lintas generasi.
- Menyambut salam: Salam adalah kunci pembuka kasih sayang dan keamanan di antara komunitas.
- Memberi nasihat dengan cara yang baik: Jika melihat kesalahan, koreksi harus dilakukan secara pribadi, bijaksana, dan bertujuan membangun, bukan menjatuhkan.
- Menepati janji: Kepercayaan adalah mata uang dalam hubungan sesama muslim. Pengkhianatan terhadap janji merusak fondasi ukhuwah.
Toleransi dan Memaafkan
Kesempurnaan hanya milik Allah SWT, dan manusia tidak luput dari kesalahan. Dalam sebuah komunitas pasti akan terjadi gesekan atau kesalahpahaman. Di sinilah akhlak mulia berupa sikap pemaaf sangat diperlukan. Saling memaafkan membersihkan hati dari dendam dan iri hati, yang merupakan racun perusak persaudaraan. Islam mendorong umatnya untuk menjadi pribadi yang mudah memaafkan kesalahan kecil yang dilakukan saudara seiman, sebagaimana kita juga mengharapkan ampunan dari Allah atas dosa-dosa kita.
Selain itu, toleransi dalam perbedaan pendapat—selama itu berada dalam ranah ikhtilaf (perbedaan ijtihad yang dibenarkan syariat)—adalah cerminan kedewasaan beragama. Keindahan Islam terletak pada kemampuannya menaungi berbagai latar belakang selama inti keimanannya sama. Perbedaan pandangan tidak boleh menjadi alasan untuk saling membenci atau memutus tali silaturahmi.
Implikasi Akhlak dalam Membangun Umat yang Kuat
Ketika akhlak kepada sesama muslim terwujud sempurna, dampaknya tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga membentuk kekuatan kolektif umat. Umat yang saling menyayangi, saling menolong, dan menjaga kehormatan saudaranya akan menjadi umat yang solid dan disegani. Mereka akan menjadi kekuatan penyeimbang dalam masyarakat, mampu menghadapi tantangan eksternal karena internal mereka telah terjalin erat oleh tali kasih sayang karena Allah.
Memperbaiki akhlak adalah proses berkelanjutan yang dimulai dari introspeksi diri. Kita harus senantiasa bertanya: "Sudahkah perilakuku hari ini mencerminkan ajaran Islam yang sebenarnya terhadap saudaraku?" Dengan konsistensi dalam menerapkan prinsip-prinsip akhlak mulia ini, fondasi persaudaraan akan semakin kokoh, mewujudkan umat muslim yang diridai Allah SWT.