Imam Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, salah seorang pemikir Islam terbesar abad pertengahan, memberikan kontribusi monumental dalam bidang etika dan moralitas. Bagi beliau, pemahaman mendalam mengenai akhlak menurut Imam Ghazali bukanlah sekadar teori, melainkan jalan hidup yang esensial untuk mencapai kebahagiaan sejati, baik di dunia maupun akhirat.
Inti dari ajaran akhlak Ghazali adalah pengenalan diri (ma'rifatun nafs). Ia meyakini bahwa perbaikan perilaku eksternal tidak akan efektif tanpa adanya pembersihan hati (tazkiyatun nafs). Hati adalah medan pertempuran antara sifat-sifat tercela (mazmumah) dan sifat-sifat terpuji (mahmudah). Sifat-sifat buruk seperti kesombongan, iri hati, dan tamak adalah penyakit batin yang harus diobati melalui mujahadah (perjuangan keras melawan hawa nafsu).
Dalam karyanya yang terkenal, Ihya' Ulumuddin (Menghidupkan Kembali Ilmu-Ilmu Agama), Ghazali membagi ilmu agama menjadi empat bagian utama, di mana etika menempati posisi sentral. Ia menekankan bahwa praktik ibadah ritual (seperti salat dan puasa) akan sia-sia jika tidak didukung oleh akhlak yang baik.
Salah satu pilar utama dalam akhlak menurut Imam Ghazali adalah konsep keseimbangan atau pertengahan (al-wasatiyyah). Ghazali mengajarkan bahwa setiap sifat terpuji adalah hasil dari menempatkan dua sifat ekstrem yang buruk pada tempatnya.
Proses mencapai sifat terpuji ini dilakukan melalui proses bertahap: meniru (takhalluq) sifat baik hingga menjadi kebiasaan (adat), dan akhirnya tertanam menjadi akhlak yang murni.
Ghazali sangat detail dalam mengklasifikasikan penyakit-penyakit hati. Ia melihat bahwa sumber dari semua keburukan adalah empat penyakit utama: keserakahan (rakhwat), kemarahan (ghadab), kecintaan berlebihan pada dunia (hubb ad-dunya), dan kesombongan (kibr).
Pengobatan penyakit-penyakit ini memerlukan penawar yang spesifik. Misalnya, jika penyakitnya adalah kesombongan, obatnya adalah merenungkan asal-usul penciptaan diri yang hina dan akhir hidup yang fana. Jika penyakitnya adalah cinta dunia, obatnya adalah sering mengingat kematian dan kehidupan akhirat.
Selain akhlak individu, akhlak menurut Imam Ghazali juga sangat menekankan aspek sosial. Akhlak yang baik tercermin dalam interaksi dengan sesama manusia. Beliau menekankan pentingnya integritas dalam bermuamalah, kejujuran, menunaikan janji, dan bersabar menghadapi gangguan orang lain.
Bagi Ghazali, berinteraksi dengan orang lain yang memiliki akhlak buruk harus dilakukan dengan bijaksana. Jika seseorang bertemu dengan orang yang kasar, alih-alih membalas dengan kekasaran yang sama (yang akan memperburuk keadaan), seorang yang berakhlak mulia akan berusaha menahan diri atau merespons dengan cara yang menenangkan, sebagaimana yang dicontohkan oleh para nabi.
Pada dasarnya, ajaran Imam Al-Ghazali tentang akhlak adalah sebuah peta jalan spiritual menuju kesempurnaan manusia. Ini adalah proses transformasi dari kondisi yang didominasi oleh ego dan syahwat menuju kondisi yang tunduk pada nilai-nilai Ilahi. Pencapaian akhlak mulia ini diyakini akan menghasilkan ketenangan batin (sakinah) dan kedekatan sejati dengan Tuhan. Oleh karena itu, mendalami konsep akhlak menurut Imam Ghazali berarti memulai perjalanan introspeksi yang berkelanjutan.