Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Surah Bani Israil, adalah salah satu surah terpanjang dalam Al-Qur'an yang kaya akan makna, hukum, dan kisah-kisah peringatan. Ayat ketiga dari surah ini secara khusus menyoroti prinsip penting dalam Islam: hubungan antara tawakkal (berserah diri) kepada Allah dan kepastian rezeki serta takdir-Nya.
Teks dan Terjemahan Surah Al-Isra Ayat 3
Fokus pada Surah Al-Isra Ayat 3 yang Sebenarnya
Inti Pesan Al-Isra Ayat 3: Tauhid dan Ketergantungan
Ayat ketiga dari Surah Al-Isra ini mengandung dua pilar utama ajaran Islam yang saling berkaitan. Pertama, penegasan bahwa Taurat (Al-Kitab) yang diberikan kepada Nabi Musa AS berfungsi sebagai petunjuk (huda) bagi kaum Bani Israil. Ini menegaskan validitas wahyu Ilahi sebagai sumber pedoman hidup.
Kedua, dan yang lebih ditekankan dalam konteks perintah langsung, adalah larangan tegas untuk menjadikan selain Allah sebagai Wakil (pelindung, penolong, atau yang diserahi segala urusan). Dalam bahasa aslinya, kata Wakil memiliki makna yang sangat mendalam, mencakup aspek perwalian, pertolongan, dan penyerahan urusan.
Pentingnya Menjadikan Allah Sebagai Wakil Tunggal
Konsep Tauhidul Uluhiyyah (Keesaan dalam peribadatan) di sini diperkuat melalui larangan mencari perlindungan dan pertolongan kepada selain-Nya. Ketika Bani Israil menerima wahyu, pesan utamanya adalah: hanya Allah yang berhak disembah dan hanya kepada-Nya tempat berserah diri sepenuhnya.
Mengapa larangan ini sangat penting? Karena ketika seseorang bergantung pada makhluk (apakah itu pemimpin, harta benda, kekuatan fisik, atau bahkan takhayul), maka ketergantungannya itu rapuh dan pasti akan mengecewakannya. Hanya Allah Yang Maha Hidup, Maha Kekal, dan Maha Kuasa atas segala sesuatu. Ketergantungan kepada selain-Nya adalah bentuk kesyirikan kecil (syirkul asghar), yaitu meletakkan kepercayaan yang seharusnya hanya ditujukan kepada Allah kepada makhluk yang lemah.
Hubungan dengan Konteks Surah Al-Isra
Surah Al-Isra secara keseluruhan membahas perjalanan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW, mukjizat-mukjizat, serta sejarah Bani Israil yang seringkali melanggar perjanjian dan petunjuk yang telah diberikan kepada mereka, termasuk Taurat. Ayat 3 ini berfungsi sebagai pengingat fundamental bagi Bani Israil—dan seluruh umat manusia—bahwa petunjuk (kitab suci) hanya akan bermanfaat jika diiringi dengan komitmen tauhid yang murni, yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya Wakil.
Jika Bani Israil gagal menaati perintah ini, sejarah menunjukkan bahwa mereka akan mengalami kehinaan dan perpecahan, karena kekuatan sejati datang dari hubungan yang benar dengan Sang Pencipta, bukan dari aliansi politik atau kekuatan duniawi semata.
Implikasi Praktis Bagi Umat Muslim Saat Ini
Meskipun ayat ini ditujukan kepada Bani Israil dalam konteks Taurat, prinsipnya berlaku universal. Kita diperintahkan untuk tidak menjadikan selain Allah sebagai Wakil kita dalam menghadapi tantangan hidup. Ini berarti:
- Dalam Mencari Solusi: Kita berusaha mencari ikhtiar terbaik, namun hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah. Kita tidak boleh terjebak pada perasaan bahwa "hanya cara A yang bisa menyelamatkan saya."
- Dalam Ketakutan: Ketakutan terbesar kita seharusnya hanya kepada Allah, bukan kehilangan jabatan, kehilangan harta, atau ancaman musuh, karena semua itu berada dalam genggaman-Nya.
- Dalam Kepercayaan: Kepercayaan kita terhadap janji Allah harus lebih kuat daripada kepercayaan kita pada janji manusia.
Ayat ini adalah fondasi spiritual. Ia menuntut pembersihan hati dari segala bentuk ketergantungan ilusi dan memfokuskan seluruh harapan hanya kepada Dzat yang mampu mengabulkan harapan tersebut.
Menjaga Pedoman Wahyu
Selain perintah untuk bertauhid dalam pergantungan, ayat ini juga mengaitkannya dengan penerimaan Al-Kitab sebagai petunjuk. Penerimaan wahyu bukan hanya sekadar ritual membaca, tetapi menjadikannya panduan operasional dalam kehidupan. Tanpa petunjuk yang jelas dari Allah (Al-Qur'an dan Sunnah), bagaimana kita bisa tahu siapa Wakil yang sebenarnya dan bagaimana cara berinteraksi dengan-Nya?
Oleh karena itu, Al-Isra ayat 3 adalah sebuah paket lengkap: menerima petunjuk (Al-Kitab) dan menjalankan konsekuensi logis dari petunjuk tersebut, yaitu memurnikan tauhid dengan menjadikan Allah sebagai satu-satunya sandaran dan Wakil dalam setiap urusan.