Dalam perjalanan sejarah Islam, periode yang dikenal sebagai masa Salafus Shalih—generasi sahabat, tabi'in, dan tabi'it-tabi'in—menjadi tolok ukur utama dalam memahami penerapan ajaran Islam secara murni. Bukan hanya dalam ibadah ritual semata, tetapi terutama tampak dalam kualitas akhlak mereka yang luhur, keteguhan prinsip, dan kesederhanaan hidup yang luar biasa. Mempelajari akhlak salaf adalah menelusuri cetak biru bagaimana seharusnya seorang Muslim bersikap dalam seluruh aspek kehidupan.
Salah satu pilar utama akhlak salaf adalah keikhlasan (ketulusan) dalam beramal. Mereka melaksanakan ketaatan bukan karena mengharapkan pujian manusia (riya’) atau imbalan duniawi, melainkan semata-mata karena rasa takut dan cinta kepada Allah SWT. Umar bin Khattab, misalnya, dikenal sering menyembunyikan sedekahnya. Tindakan ini mengajarkan kita bahwa amal yang paling berharga adalah yang dilakukan tanpa sepengetahuan makhluk lain, menjadikannya murni hanya untuk Sang Pencipta.
Prinsip ini menuntut pembersihan hati yang berkelanjutan. Bagi salaf, pujian manusia dianggap sebagai penyakit yang dapat merusak pahala. Mereka berjuang keras agar tindakan baik mereka tetap tersembunyi, sebuah kontras tajam dengan budaya kontemporer yang seringkali mengedepankan pamer atas pencapaian spiritual.
Meskipun memiliki kedudukan tinggi di sisi Allah dan umat, para salaf senantiasa menampakkan kerendahan hati atau tawadhu’. Mereka tidak merasa lebih baik dari orang lain. Abdullah bin Mas’ud pernah berkata, "Seandainya kalian melihat amalku, mungkin kalian akan mencelaku. Seandainya aku melihat amal kalian, mungkin aku akan memuji kalian." Ungkapan ini menunjukkan pengakuan mendalam atas kekurangan diri dan ketidakpastian nasib akhir.
Sikap tawadhu’ ini memancar dalam interaksi sehari-hari. Mereka mudah memaafkan kesalahan orang lain, tidak suka berdebat hal yang tidak bermanfaat, dan selalu mendahulukan kebutuhan saudaranya. Ketika mereka berbicara, mereka berbicara dengan hikmah dan kelembutan, tidak dengan kesombongan intelektual, meskipun ilmu mereka melimpah.
Salah satu karakteristik paling mencolok dari akhlak salaf adalah integrasi total antara ilmu yang mereka pelajari dan amal yang mereka praktikkan. Mereka tidak hanya menghafal Al-Qur'an, tetapi mereka menjadikannya sebagai kompas hidup. Mereka memahami bahwa ilmu tanpa amal akan menjadi beban di akhirat. Jika mereka mempelajari ayat tentang jihad (perjuangan), mereka akan menerapkannya dalam bentuk jihad melawan hawa nafsu mereka sendiri.
Umar bin Hafidzah, salah seorang tabi'in, mengatakan, "Kami belajar (tentang) kematian dari orang yang melihat kematian." Ini menegaskan bahwa sumber utama pendidikan akhlak mereka adalah observasi langsung terhadap kehidupan orang-orang saleh yang telah mendahului mereka. Mereka hidup seolah-olah dunia hanya persinggahan sementara, yang secara alami menumbuhkan sikap zuhud (tidak terikat pada dunia).
Kekayaan materi atau kedudukan sosial tidak pernah menjadi tujuan hidup mereka. Kehidupan mereka sangat sederhana, bahkan di tengah kemudahan yang mulai menyelimuti peradaban Islam saat itu. Makanan mereka sederhana, pakaian mereka tidak mencolok, dan rumah mereka tidak mewah. Kesederhanaan ini bukanlah kemiskinan yang dipaksakan, melainkan pilihan sadar untuk membebaskan diri dari belenggu ketergantungan pada materi.
Zuhudnya para salaf memiliki tujuan mulia: mengalihkan fokus hati dari urusan dunia yang fana kepada persiapan akhirat yang abadi. Mereka adalah pebisnis yang paling cerdas karena mereka menukar keuntungan kecil dunia dengan keuntungan besar akhirat. Memahami akhlak salaf hari ini menuntut kita untuk introspeksi: seberapa jauh kita membiarkan ambisi duniawi mengotori niat dan tindakan kita? Meneladani mereka adalah berusaha membersihkan hati dan mengembalikan prioritas pada apa yang kekal.