Ilustrasi: Representasi visual pengaruh negatif akhlak tercela.
Dalam perjalanan hidup seorang Muslim, pembentukan karakter dan moralitas adalah fondasi utama. Prinsip-prinsip Islam menekankan pentingnya meneladani akhlakul karimah (akhlak mulia). Namun, sebaliknya, terdapat fenomena yang dikenal sebagai **akhlak sayyi'ah**, yaitu segala perilaku, ucapan, dan tindakan yang tercela, buruk, dan bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama dan kemanusiaan. Memahami apa itu akhlak sayyi'ah bukan hanya sekadar mengetahui daftar larangan, melainkan juga menyadari dampak destruktif yang ditimbulkannya, baik bagi individu maupun masyarakat luas.
Secara etimologis, 'sayyi'ah' berarti keburukan, kejelekan, atau kerusakan. Dalam konteks akhlak, ini merujuk pada sifat-sifat yang jika tertanam dalam diri seseorang, akan menjauhkan dirinya dari keridhaan Allah SWT dan menjadikannya beban sosial. Akhlak sayyi'ah sangat luas spektrumnya, meliputi aspek hati, lisan, dan perbuatan fisik.
Penyakit-penyakit hati seringkali menjadi akar dari perbuatan buruk. Rasa dengki, iri hati, takabur (sombong), riya' (pamer), dan hasad adalah contoh-contoh akhlak sayyi'ah yang bersumber dari dalam diri. Ketika penyakit hati ini tidak dibersihkan, ia akan bermetamorfosis menjadi tindakan nyata yang merugikan orang lain.
Dampak dari akhlak sayyi'ah tidak hanya terbatas pada ranah spiritual semata. Ia sangat nyata terlihat dalam interaksi sehari-hari. Beberapa manifestasi umum yang sering kita temui antara lain:
Mengapa kita harus sangat waspada terhadap akhlak sayyi'ah? Karena secara bertahap, keburukan akan menutupi cahaya kebenaran dalam hati. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa akhlak yang buruk akan menjadi beban berat di hari kiamat, bahkan lebih berat daripada timbangan amal kebaikan yang sedikit.
Secara sosial, masyarakat yang didominasi oleh akhlak sayyi'ah akan rapuh. Kepercayaan hilang, kerjasama terhenti, dan setiap individu akan sibuk mengurus kepentingannya sendiri tanpa peduli pada penderitaan tetangga atau saudaranya. Lingkungan semacam ini sangat tidak kondusif untuk pertumbuhan spiritual dan kesejahteraan bersama. Individu yang terus-menerus berbuat buruk juga rentan mendapatkan sanksi sosial dan, yang terpenting, azab ilahi.
Memutus rantai akhlak sayyi'ah memerlukan usaha sadar dan istiqamah (konsisten). Langkah pertama adalah **muhasabah** (introspeksi diri) secara rutin. Kita harus jujur menilai tindakan kita sehari-hari dan bertanya, "Apakah perilaku ini mendekatkanku kepada Allah atau menjauhkanku?"
Kedua, **lingkungan pergaulan** sangat menentukan. Bersahabatlah dengan orang-orang yang senantiasa mengingatkan pada kebaikan dan menjauhi mereka yang sering mengajak pada hal negatif. Seperti kata pepatah, teman adalah cerminan diri.
Ketiga, tingkatkan **dzikrullah** (mengingat Allah). Hati yang selalu terisi dengan dzikir akan sulit dimasuki godaan untuk berbuat keji dan mungkar. Ketika seseorang sibuk memuji kebesaran Tuhan, ia akan merasa malu melakukan tindakan yang merendahkan martabat manusia ciptaan-Nya.
Mengikis akhlak sayyi'ah adalah sebuah perjuangan seumur hidup. Ini bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang kemauan untuk terus memperbaiki diri menuju standar moralitas tertinggi yang diajarkan agama kita. Dengan komitmen untuk membersihkan hati dan memperbaiki lisan serta perbuatan, harapan untuk meraih kehidupan yang diridhai Allah SWT akan semakin terbuka lebar.