Kajian Surah Al-Maidah Ayat 76

Teks dan Terjemahan Ayat

Kebenaran Ilahi Ilustrasi Ketuhanan dan Kitab Suci

قُلْ أَتُعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّهِ مَا لَا يَمْلِكُ لَكُمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا ۚ وَاللَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Katakanlah: "Patutkah kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak kuasa memberikan mudharat dan tidak (pula) kemanfaatan kepadamu?" Katakanlah: "Apakah kamu (wahai orang-orang musyrik) menyembah sesuatu selain daripada Allah, padahal Allah Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui?" (QS. Al-Maidah: 76)

Ayat ke-76 dari Surah Al-Maidah ini merupakan seruan tegas dan rasional dari Allah SWT, melalui lisan Nabi Muhammad SAW, kepada kaum musyrikin yang menyembah selain-Nya. Inti dari ayat ini adalah pertanyaan retoris yang menuntut pertanggungjawaban logis atas tindakan penyembahan mereka.

Konteks Penurunan dan Pesan Utama

Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", seringkali membahas isu-isu terkait Bani Israil, perjanjian, dan perihal halal-haram. Ayat 76 ini secara spesifik menyoroti kesalahan fundamental dalam akidah, yaitu syirik (menyekutukan Allah).

Teguran Terhadap Kemahakuasaan Tuhan

Poin krusial dalam ayat ini adalah penegasan bahwa segala sesuatu yang disembah selain Allah tidak memiliki kekuatan hakiki. Allah memerintahkan Nabi untuk bertanya: "Patutkah kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak kuasa memberikan mudharat dan tidak (pula) kemanfaatan kepadamu?"

Dalam perspektif tauhid, ibadah dan persembahan hanya layak ditujukan kepada Dzat yang Maha Kuasa (Al-Qadir), yang memiliki kendali mutlak atas segala manfaat (Nafi') dan mudharat (Dhar). Berhala, patung, dewa-dewa, atau bahkan figur yang diagungkan manusia, semuanya berada di bawah ciptaan dan kekuasaan Allah. Mereka tidak dapat memberi keuntungan jika Allah tidak mengizinkannya, dan mereka tidak dapat menimpakan kerugian jika Allah melindunginya. Menyembah mereka adalah tindakan yang sangat tidak rasional.

Asmaul Husna: Al-Sami' dan Al-'Alim

Ayat ini ditutup dengan penegasan sifat-sifat Allah yang agung: "Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." Penggunaan dua Asmaul Husna ini memiliki makna yang mendalam.

Dengan menyebutkan kedua sifat ini, Allah menegaskan bahwa meskipun mereka salah dalam memilih objek ibadah, segala perbuatan mereka tidak tersembunyi dari pengetahuan dan pendengaran-Nya. Ini berfungsi sebagai peringatan bahwa mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas pilihan akidah mereka.

Relevansi Modern

Meskipun konteks utama ayat ini adalah bantahan terhadap penyembahan berhala di masa kenabian, relevansinya meluas hingga saat ini. Konsep "sesuatu yang tidak kuasa memberi manfaat atau mudharat" dapat diperluas ke segala bentuk ketergantungan mutlak atau penyerahan nasib kepada selain Allah.

Dalam kehidupan modern, ketergantungan berlebihan pada kekayaan, status sosial, teknologi, atau bahkan ideologi tertentu—sampai pada titik mengorbankan prinsip keimanan—bisa dianggap sebagai bentuk pergeseran fokus dari tauhid murni. Al-Maidah ayat 76 mengajak umat Islam untuk selalu menguji sumber kekuatan dan pertolongan mereka. Apakah itu bergantung pada kekuatan yang fana, atau pada Al-Khaliq yang Maha Kekal?

Ayat ini mengajarkan kejernihan berpikir dalam beragama. Ibadah adalah manifestasi tertinggi dari pengakuan terhadap kemahakuasaan. Jika suatu entitas tidak memiliki kuasa atas diri pemujanya, maka menyembahnya adalah pemborosan energi spiritual dan penyimpangan akal sehat. Oleh karena itu, ayat ini menjadi dasar kuat untuk mempertahankan keesaan Allah dalam setiap aspek kehidupan.

🏠 Homepage