Memahami Apa Itu Akreditasi SINTA

Ilustrasi Jurnal dan Peringkat Sebuah ikon yang merepresentasikan peningkatan kualitas publikasi ilmiah melalui sistem peringkat terpusat. SINTA Science and Technology Index

Di tengah hiruk pikuk dunia akademik dan penelitian di Indonesia, istilah akreditasi SINTA adalah sebuah penanda penting yang sering dibicarakan. SINTA, singkatan dari Science and Technology Index, bukan sekadar sistem pemeringkatan biasa; ia adalah tulang punggung utama dalam menilai dan memetakan kinerja ilmiah institusi, jurnal, serta peneliti di Indonesia.

Bagi para akademisi dan peneliti, memahami apa itu akreditasi SINTA adalah kunci untuk memastikan bahwa hasil kerja keras mereka diakui secara nasional. SINTA dikelola oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) dan berfungsi sebagai portal tunggal yang mengintegrasikan data kinerja penelitian dari berbagai sumber.

Apa Sebenarnya Akreditasi SINTA Itu?

Secara formal, SINTA adalah sistem informasi yang mengukur performa ilmu pengetahuan dan teknologi di Indonesia. Sistem ini melakukan agregasi data dari berbagai sumber terkemuka, termasuk Scopus, Google Scholar, dan data Ristekdikti. Tujuannya adalah menciptakan transparansi dan mendorong peningkatan mutu penelitian.

Ketika kita membicarakan akreditasi SINTA adalah proses validasi dan pemberian peringkat, ini berlaku untuk tiga entitas utama: Jurnal Ilmiah, Institusi (Universitas/Politeknik), dan Peneliti (Dosen/Mahasiswa).

1. Akreditasi Jurnal SINTA

Salah satu fokus utama SINTA adalah akreditasi jurnal ilmiah. Jurnal yang terakreditasi SINTA akan mendapatkan peringkat berdasarkan kualitas penerbitannya. Peringkat ini berkisar dari SINTA 1 (tertinggi) hingga SINTA 6 (terendah). Jurnal SINTA 1 umumnya memiliki standar kualitas yang mendekati jurnal internasional bereputasi, sementara jurnal SINTA 6 masih dalam tahap pengembangan mutu.

Pentingnya akreditasi jurnal ini terletak pada bobot nilai yang diberikan untuk publikasi. Dosen yang mempublikasikan karya di jurnal SINTA tertentu akan mendapatkan poin kredit yang sesuai dengan peringkat jurnal tersebut. Tanpa akreditasi SINTA, sebuah jurnal dianggap tidak memiliki bobot resmi dalam penilaian kinerja akademik nasional.

2. Profil Peneliti dan Institusi

SINTA juga mengukur capaian kumulatif para peneliti. Data yang diinput meliputi jumlah publikasi, sitasi (kutipan) yang diterima, kekayaan intelektual, dan partisipasi dalam hak paten. Semakin tinggi skor SINTA seseorang atau institusinya, semakin baik citra dan kinerja riset mereka di mata pemerintah dan komunitas ilmiah.

Manfaat Memahami dan Terlibat dalam SINTA

Mengapa pemahaman mendalam mengenai akreditasi SINTA adalah suatu keharusan bagi ekosistem riset Indonesia? Manfaatnya sangat luas dan langsung berhubungan dengan karir serta pendanaan.

Proses dan Tantangan dalam Sistem SINTA

Proses pembaruan data SINTA biasanya dilakukan secara berkala. Integrasi data dari berbagai basis data sering kali menjadi tantangan. Terkadang, terjadi inkonsistensi data atau keterlambatan sinkronisasi antara Scopus/Google Scholar dengan database SINTA. Inilah mengapa peneliti harus proaktif memastikan bahwa profil mereka terhubung dengan benar di portal SINTA.

Perlu ditekankan kembali bahwa akreditasi SINTA adalah sebuah sistem yang dinamis. Peringkat jurnal dapat turun atau naik seiring waktu berdasarkan evaluasi berkala terhadap metrik sitasi dan kualitas editorial. Oleh karena itu, menjaga konsistensi publikasi berkualitas tinggi adalah strategi jangka panjang yang harus diterapkan oleh seluruh pemangku kepentingan riset di Indonesia.

Kesimpulannya, SINTA telah bertransformasi menjadi bahasa universal dalam mengukur produktivitas ilmiah di Indonesia. Bagi siapa pun yang berkecimpung dalam pendidikan tinggi dan penelitian, memahami seluk-beluk akreditasi SINTA adalah suatu langkah fundamental menuju pengakuan dan kesuksesan akademik yang terukur.

🏠 Homepage