Surah Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat terpanjang dalam Al-Qur'an dan sarat dengan berbagai hukum, kisah, serta petunjuk penting bagi umat Islam. Di antara ayat-ayatnya, terdapat konteks yang sangat mendalam pada ayat ke-83, yang seringkali dibahas dalam kaitannya dengan kerendahan hati dan pengakuan terhadap kebenaran wahyu Allah.
Ilustrasi Ketenangan dan Keterbukaan Hati
Teks dan Terjemahan Surah Al-Maidah Ayat 83
"Wa idza sami’ulla ladziina samiu’u al-laghwa 'an al-sam'i wa qaalou robbanaa aamanna fa-ktubnaa ma'a asy-syahidiin"
(Dan apabila mereka mendengarkan apa yang diturunkan kepada Rasul, kamu lihat mata mereka mencucurkan air mata disebabkan kebenaran yang telah mereka ketahui (dari Kitab-kitab mereka); mereka berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka catatlah kami termasuk orang-orang yang menjadi saksi.")
Konteks Historis dan Hikmah Ayat
Ayat ke-83 dari Surah Al-Maidah ini secara spesifik menceritakan reaksi dari sekelompok ahli kitab (biasanya merujuk pada kaum Nasrani di masa Rasulullah SAW) ketika mereka mendengarkan ayat-ayat Al-Qur'an yang dibacakan oleh Nabi Muhammad SAW. Reaksi ini sangat kontras dengan sikap keras kepala sebagian kaum musyrikin pada masa itu.
Poin utama yang disorot oleh ayat ini adalah **kejujuran intelektual dan spiritual**. Ketika kebenaran sejati—yang bersumber dari wahyu yang sama dengan yang mereka yakini namun diperkuat dan disempurnakan dalam Al-Qur'an—disampaikan, hati mereka tergerak. Air mata yang menetes bukan hanya tanda kesedihan, melainkan manifestasi dari kesadaran bahwa apa yang mereka dengar adalah kebenaran mutlak yang telah lama mereka nantikan atau setidaknya, yang cocok dengan fitrah kebenaran yang mereka miliki.
Pelajaran Penting dari Kerendahan Hati
Ayat ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya memiliki hati yang terbuka (istiqamah) dalam menerima wahyu. Ada dua lapisan penerimaan yang digambarkan:
- Pengakuan Kebenaran: Mereka langsung mengenali bahwa apa yang disampaikan adalah kebenaran, bahkan jika itu berarti harus meninggalkan tradisi atau dogma yang selama ini mereka pegang teguh. Ini menunjukkan bahwa kebenaran sejati akan selalu menemukan jalannya pada jiwa yang bersih.
- Permohonan Penyertaan (Doa): Setelah mengakui iman ("Ya Tuhan kami, kami telah beriman"), mereka segera memohon agar dicatat bersama orang-orang yang menjadi saksi. Ini adalah bentuk pertobatan dan komitmen total. Mereka tidak hanya mengakui secara lisan, tetapi berharap tercatat dalam golongan orang-orang yang membela dan menyaksikan kebenaran tersebut di hadapan Allah.
Dalam konteks yang lebih luas, Surah Al-Maidah ayat 83 mengingatkan kita bahwa iman yang sejati harus dibarengi dengan respons emosional dan tindakan nyata. Iman yang hanya sebatas pengetahuan tanpa dampak pada perilaku atau emosi hati seringkali dianggap lemah. Sebaliknya, ketika seseorang benar-benar tersentuh oleh ayat-ayat Allah, reaksinya adalah kerendahan hati dan permohonan agar dimasukkan ke dalam golongan orang-orang yang teguh (asy-syahidiin).
Perbandingan Sikap Dalam Menghadapi Kebenaran
Seringkali, kita menemukan dalam narasi Al-Qur'an mengenai reaksi yang berbeda terhadap dakwah. Ada yang menolak karena kesombongan, ada yang meragukan karena kebodohan, namun ayat 83 ini menyoroti golongan yang justru memiliki dasar pengetahuan (ahli kitab) namun memilih untuk tunduk dan menangis haru ketika kebenaran final datang. Tindakan mereka ini menjadi teladan bahwa ilmu yang dimiliki harus menjadi jembatan menuju keimanan, bukan penghalang.
Perenungan mendalam terhadap Surah Al-Maidah ayat 83 ini mendorong setiap muslim untuk senantiasa introspeksi: Sudahkah kita bereaksi dengan hati yang mencucurkan air mata, penuh rasa syukur dan pengakuan, ketika kebenaran Ilahi terungkap dalam kehidupan kita? Atau, justru kita termasuk golongan yang menutup diri meskipun mendengar kebenaran tersebut?
Memahami ayat ini bukan hanya sekadar menghafal teks Arab dan terjemahannya, tetapi meresapi semangat pengakuan tulus yang tersembunyi di baliknya. Semoga kita semua selalu termasuk dalam golongan yang disebutkan oleh Allah sebagai orang-orang yang menjadi saksi atas keesaan-Nya.