Memahami Kekuatan dan Pesan Surah Al-Hijr

الْحِجْر Hikmah

Ilustrasi simbolis dari lanskap dan pesan Al-Hijr.

Pengantar Surah Al-Hijr

Surah Al-Hijr, yang merupakan surah ke-15 dalam susunan mushaf Al-Qur'an, terdiri dari 99 ayat dan tergolong dalam kelompok Makkiyah. Nama surah ini diambil dari ayat ke-80 yang menyebutkan kaum Tsamud, yang hidup di sebuah wilayah bernama Al-Hijr. Kisah kaum Tsamud yang diazab karena mengingkari kerasulan Nabi Shalih AS menjadi pelajaran penting mengenai konsekuensi dari kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran ilahi.

Meskipun ayat-ayatnya diturunkan di Makkah, fokus utama surah ini berkisar pada penguatan tauhid, peringatan keras bagi para pendusta, dan memberikan ketenangan hati kepada Rasulullah SAW di tengah tantangan dakwah yang berat. Surah ini menawarkan perspektif mendalam tentang penciptaan, kekuasaan Allah, dan janji balasan bagi orang yang beriman.

Pesan Utama: Pengakuan Kekuasaan Allah

Salah satu tema sentral yang kuat dalam Al-Hijr adalah penegasan keesaan Allah dan kekuasaan-Nya yang mutlak atas segala sesuatu. Allah SWT mengingatkan manusia bahwa segala yang ada di alam semesta diciptakan dengan ukuran dan tujuan yang pasti. Ayat-ayat seperti peringatan tentang penundaan hari kiamat (ayat 22-25) dan penciptaan air sebagai sumber kehidupan (ayat 26) menegaskan bahwa tidak ada satu pun yang diciptakan dengan sia-sia.

Pentingnya bersyukur dan tidak berpaling dari ajaran agama ditekankan melalui perbandingan antara nasib orang yang beriman dan orang yang ingkar. Ketika manusia diberikan kenikmatan, seringkali mereka lupa bahwa kenikmatan itu hanya bersifat sementara. Al-Hijr mendorong pembaca untuk merenungkan proses penciptaan, mulai dari penciptaan langit, bumi, hingga penciptaan manusia itu sendiri. Setiap elemen alam semesta menjadi bukti atas kebesaran Sang Pencipta.

Kisah Kaum Tsamud dan Iblis: Pelajaran dari Penolakan

Penceritaan kembali kisah kaum Tsamud (penduduk Al-Hijr) berfungsi sebagai peringatan historis yang sangat gamblang. Mereka adalah kaum yang diberkahi dengan kemampuan memahat rumah di gunung batu, namun karunia tersebut tidak membuat mereka bersyukur. Sebaliknya, mereka menyombongkan diri dan membunuh unta betina mukjizat yang diutus Nabi Shalih. Akibatnya, mereka dibinasakan oleh azab yang pedih. Kisah ini mengajarkan bahwa kemajuan teknologi atau kemakmuran materi tidak akan menyelamatkan dari hukuman ilahi jika disertai dengan kekufuran dan kedurhakaan.

Selain kaum Tsamud, Al-Hijr juga memuat dialog antara Allah dan Iblis mengenai perintah sujud kepada Adam AS. Penolakan Iblis karena kesombongan ("Aku tidak akan bersujud kepada manusia yang Engkau ciptakan dari tanah liat kering...") menegaskan bahwa kesombongan adalah akar dari setiap penolakan terhadap kebenaran. Ayat-ayat ini relevan hingga kini, mengingatkan umat Islam untuk senantiasa bersikap tawadhu (rendah hati) di hadapan perintah Allah.

Ketenangan Bagi Rasulullah dan Janji Perlindungan

Bagi Nabi Muhammad SAW yang saat itu menghadapi tekanan hebat dari kaum musyrikin Makkah, Surah Al-Hijr adalah sumber penghiburan. Allah berfirman, "Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat yang dibaca berulang-ulang) dan Al-Qur'an yang Agung." (Ayat 87). Frasa "tujuh yang dibaca berulang-ulang" secara luas diinterpretasikan sebagai Surah Al-Fatihah, yang merupakan inti dari setiap shalat. Ayat ini memberikan jaminan bahwa walaupun dakwah terasa berat, Allah telah memberikan kunci spiritualitas tertinggi.

Ayat terakhir surah ini (ayat 99) menutup dengan perintah tegas: "Maka sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu ajal (kematian)." Ini adalah penegasan bahwa misi seorang Muslim adalah beribadah dan mengabdi sepenuhnya kepada Allah hingga akhir hayat, tanpa terpengaruh oleh gangguan duniawi atau ejekan dari orang-orang yang menolak kebenaran. Surah Al-Hijr, dengan demikian, adalah paket lengkap antara peringatan, janji, dan motivasi spiritual yang abadi.

🏠 Homepage