Refleksi atas Kekuatan Ilahi: Al-Hijr Ayat 11

Al-Qur'an adalah sumber petunjuk yang tak pernah kering, dan setiap ayatnya menyimpan hikmah mendalam yang relevan sepanjang masa. Salah satu ayat yang seringkali menjadi titik renung mendalam bagi para ahli tafsir adalah Surah Al-Hijr ayat 11. Ayat ini, meskipun singkat, mengandung peringatan keras sekaligus janji ketetapan ilahi mengenai cara Allah memperlakukan para rasul-Nya dan bagaimana Dia menghadapi penolakan terhadap risalah-Nya.

وَمَا تَأْتِيهِم مِّنْ آيَةٍ مِّنْ آيَاتِ رَبِّهِمْ إِلَّا كَانُوا عَنْهَا مُعْرِضِينَ

"Dan tidak datang kepada mereka suatu tanda (ayat) dari tanda-tanda Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling darinya." (QS. Al-Hijr: 11)

Konteks Penolakan Kaum Musyrik

Ayat 11 dari Surah Al-Hijr ini diletakkan setelah ayat sebelumnya (ayat 10) yang menjanjikan kebahagiaan dan ketenangan bagi orang-orang yang mengikuti seruan kenabian. Kontrasnya, ayat 11 menyoroti sikap nyata kaum musyrik Mekkah pada masa Nabi Muhammad SAW diutus. Mereka adalah kelompok yang secara terang-terangan menolak kebenaran yang dibawa.

Ketika Nabi membacakan ayat-ayat Allah, menunjukkan mukjizat, atau menjelaskan pertanda-pertanda keesaan Allah—baik yang bersifat tekstual (ayat Al-Qur'an) maupun yang bersifat alamiah (tanda-tanda di cakrawala dan diri mereka sendiri)—respons yang mereka berikan selalu sama: berpaling. Ini bukan sekadar ketidakpedulian, melainkan penolakan aktif terhadap kebenaran yang disajikan di hadapan mata kepala mereka.

Makna Berpaling (I'rad)

Kata kunci dalam ayat ini adalah 'i'rad (إِعْرَاض), yang berarti berpaling, memalingkan muka, atau mengabaikan dengan sengaja. Sikap ini jauh lebih berbahaya daripada ketidaktahuan murni. Berpaling menunjukkan adanya kesadaran penuh bahwa yang disampaikan adalah kebenaran, namun ada penghalang ego, kesombongan, atau kepentingan duniawi yang membuat mereka memilih untuk menutup diri.

Dalam konteks sejarah kenabian, penolakan ini seringkali terwujud dalam bentuk permintaan akan mukjizat yang spesifik dan seringkali tidak masuk akal. Mereka tidak puas dengan keindahan dan kejelasan Al-Qur'an itu sendiri sebagai mukjizat abadi. Setiap mukjizat yang diperlihatkan, alih-alih mengarahkan mereka pada iman, justru menjadi bahan cemoohan atau alasan baru untuk menolak.

Konsekuensi dari Penolakan Berulang

Ayat ini menegaskan sebuah pola perilaku. Ketika kebenaran terus ditawarkan dan terus ditolak, Allah menetapkan hukumannya. Pola ini terlihat jelas dalam sejarah kenabian terdahulu. Setiap kaum yang mendustakan rasul mereka dan berpaling dari ayat-ayat yang dibawa, pada akhirnya akan mendapatkan azab yang setimpal.

Al-Hijr ayat 11 adalah peringatan keras bagi siapa pun, termasuk umat di masa kini, yang mungkin merasa dirinya sudah cukup tercerahkan namun tetap memilih untuk mengabaikan petunjuk Ilahi. Fenomena berpaling ini bisa terjadi dalam bentuk enggan membaca tadabbur Al-Qur'an, menunda-nunda amal saleh karena kesibukan duniawi, atau meremehkan peringatan agama. Allah tidak memaksa hati manusia beriman, tetapi ketika hati itu secara aktif menolak cahaya, maka konsekuensi logisnya adalah kegelapan yang mereka pilih sendiri.

Pelajaran untuk Umat Islam Kontemporer

Bagi seorang Muslim, ayat ini mengajarkan pentingnya menghargai setiap kesempatan untuk menerima wahyu. Kita harus selalu memeriksa hati kita: Apakah kita benar-benar merenungkan ayat-ayat yang kita dengar, ataukah telinga kita hanya mendengarnya tanpa menyentuh jiwa?

Kesesuaian ayat ini dengan realitas modern sangat menonjol. Di era banjir informasi, di mana ajaran-ajaran yang menyesatkan mudah menyebar, kecenderungan untuk "berpaling" dari ajaran pokok agama menjadi sangat tinggi. Al-Hijr 11 mengingatkan bahwa kemudahan akses terhadap ilmu agama tidak menjamin keselamatan; yang dibutuhkan adalah kerendahan hati untuk menerima dan mengamalkan.

Oleh karena itu, tafsir dan perenungan terhadap ayat ini harus mendorong kita untuk selalu membuka hati, menjauhi kesombongan intelektual, dan bersyukur atas setiap 'tanda' (ayat) yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita, sekecil apapun itu, agar kita tidak termasuk golongan yang berpaling dan akhirnya menuai penyesalan di kemudian hari.

🏠 Homepage