Kekuatan dan Kebesaran Allah dalam Al-Hijr Ayat 14

Pengantar Surah Al-Hijr

Surah Al-Hijr (Batu Karang) adalah surah ke-15 dalam Al-Qur'an yang kaya akan pelajaran mengenai tauhid, kisah para nabi, dan bukti-bukti kebesaran Allah SWT. Salah satu ayat yang menyoroti kekuasaan Allah dalam menciptakan dan memelihara segala sesuatu adalah ayat ke-14. Ayat ini seringkali dibahas dalam konteks keajaiban penciptaan dan peringatan bagi mereka yang menolak kebenaran.

Dalam konteks ayat-ayat sebelumnya, kaum musyrikin Mekkah seringkali menuntut mukjizat yang kasat mata atau menertawakan ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Mereka meragukan kebangkitan dan kekuasaan Allah yang Maha Pencipta. Menanggapi keraguan ini, Allah SWT memberikan jawaban melalui ayat-ayat yang menegaskan bahwa keajaiban penciptaan-Nya sudah terhampar di hadapan mata mereka.

Teks dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 14

Ayat 14 dari Surah Al-Hijr secara spesifik membahas tentang bagaimana Allah menciptakan makhluk, termasuk membangkitkan kembali mereka, tanpa diragukan oleh orang-orang kafir sekalipun.

وَلَوْ فَتَحْنَا عَلَيْهِم بَابًا مِّنَ السَّمَاءِ فَظَلُّوا فِيهِ يَعْرُجُونَ
"Dan seandainya Kami bukakan kepada mereka pintu dari langit, lalu mereka naik terus ke pintu itu,"

Ayat ini adalah bagian dari serangkaian ayat (ayat 12-15) yang menjelaskan bagaimana orang-orang yang menolak wahyu akan terus mencari alasan untuk tidak beriman. Meskipun Allah memberikan bukti yang sangat nyata—seperti membukakan pintu dari langit—mereka akan tetap mencari dalih.

Ilustrasi Kekuatan yang Tidak Terbantahkan

Bayangkan jika Allah benar-benar membuka lubang atau pintu langsung ke langit, dan orang-orang kafir tersebut diizinkan untuk naik melaluinya. Apa yang akan mereka lihat? Mereka akan melihat keagungan, keteraturan, dan kekuasaan tak terbatas yang tidak mungkin diciptakan oleh manusia. Mereka akan menyaksikan alam semesta dalam skala yang tidak terbayangkan.

Namun, ironisnya, respons mereka bukanlah iman, melainkan penolakan yang lebih dalam. Mereka akan tetap bersikeras bahwa apa yang mereka lihat hanyalah ilusi visual ("pandangan kami terhalang") atau bahkan sihir ("kami adalah kaum yang kena sihir"). Ini menunjukkan bahwa masalah penolakan mereka bukan terletak pada kurangnya bukti, melainkan pada kesombongan, hawa nafsu, dan kekerasan hati.

Ilustrasi Pintu Langit yang Terbuka Manusia di hadapan Bukti Nyata

Pelajaran Tentang Hati yang Tertutup

Pelajaran utama dari Al-Hijr ayat 14 adalah bahwa iman sejati berasal dari hati yang lapang dan mau menerima kebenaran, bukan semata-mata dari pembuktian fisik. Jika bukti yang paling luar biasa sekalipun (seperti membuka gerbang langit) tidak mampu menembus kekerasan hati, maka tidak ada ayat lain yang akan berhasil.

Ini mengingatkan kita bahwa tugas dakwah adalah menyampaikan kebenaran. Hidayah, atau kemampuan untuk menerima kebenaran itu, sepenuhnya berada di tangan Allah SWT. Walaupun kita diperintahkan untuk berusaha dan menunjukkan dalil, kita harus menyadari bahwa penolakan keras seringkali berakar pada kesombongan spiritual, bukan ketidaktahuan.

Ketika ayat-ayat Allah dibacakan, seharusnya hati bergetar dan jiwa tunduk. Sebaliknya, bagi mereka yang sudah terbiasa menolak, logika mereka akan bekerja mundur, berusaha menafsirkan ulang keajaiban agar sesuai dengan kerangka pemikiran menolak mereka. Mereka menuduh pandangan mereka kabur (halusinasi) atau menyalahkan kekuatan gaib lain (sihir) daripada mengakui kebenaran wahyu Ilahi.

Konteks Keseluruhan Ayat 12-15

Ayat 14 harus dibaca bersama dengan ayat-ayat di sekitarnya (Ayat 12-15) untuk mendapatkan pemahaman utuh. Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa orang-orang yang menolak rasul dan ajaran tauhid adalah mereka yang dulunya meminta azab disegerakan, seolah-olah mereka yakin bahwa Allah tidak akan mengazab mereka.

Allah kemudian memperingatkan mereka, "Seandainya Kami turunkan kepadamu Kitab yang tertulis di atas kertas, lalu mereka menyentuhnya dengan tangan mereka sendiri, niscaya orang-orang yang kafir itu berkata: 'Ini tidak lain hanyalah sihir yang nyata!'" (Al-Hijr: 15).

Ini menunjukkan pola penolakan yang konsisten: jika bukti datang dalam bentuk tulisan, itu sihir. Jika bukti datang dalam bentuk fenomena alam yang dahsyat (membuka pintu langit), itu adalah ilusi mata. Sikap ini menunjukkan penutupan diri yang total dari kebenaran, terlepas dari bagaimana kebenaran itu disajikan.

Oleh karena itu, Al-Hijr ayat 14 menjadi pengingat kuat bagi umat Islam untuk merenungkan sejauh mana kebenaran telah dihadapkan kepada kita dan bagaimana respons hati kita. Apakah kita mencari alasan untuk menolak, ataukah kita mencari jalan untuk menerima dan tunduk pada kekuasaan Allah yang Maha Kuasa atas segala ciptaan, baik yang terlihat maupun yang tak terbayangkan di balik pintu-pintu langit.

🏠 Homepage