Surah Al-Hijr, yang namanya diambil dari nama sebuah lembah di Arab Saudi, mengandung banyak sekali ayat yang membahas tentang kebesaran Allah dalam menciptakan alam semesta, menghidupkan kembali manusia, dan mengatur rezeki bagi seluruh makhluk-Nya. Di antara ayat-ayat yang menonjol adalah ayat 19 dan 20, yang secara eksplisit menunjukkan kuasa Tuhan dalam mengatur bumi dan memberikan air sebagai sumber kehidupan.
Ayat-ayat ini merupakan pengingat fundamental bahwa segala sesuatu yang kita nikmati—dari udara yang kita hirup hingga makanan yang kita santap—adalah karunia langsung dari Allah SWT. Untuk memahami kedalaman pesan ini, mari kita telaah teks aslinya beserta terjemahannya.
Ilustrasi sumber daya alam dan air.
Ayat ke-19 dimulai dengan firman Allah: "Dan Kami telah menghamparkan bumi..." (وَالْأَرْضَ مَدَدْنَاهَا). Kata "madadnaha" (menghamparkan) memberikan gambaran bahwa bumi diciptakan sangat luas dan datar, cukup untuk dihuni dan dimanfaatkan oleh makhluk hidup. Penghamparan ini bukan sekadar kerataan, melainkan persiapan infrastruktur kosmik.
Selanjutnya, Allah menyebutkan pemasangan gunung-gunung sebagai pasak (رَوَٰسِىَ). Dalam ilmu geologi modern, kita memahami bahwa gunung berfungsi menstabilkan kerak bumi, mencegah guncangan besar yang dapat menghancurkan kehidupan. Mereka adalah jangkar yang menjaga keseimbangan planet kita. Ini menunjukkan bahwa setiap elemen alam, sekecil atau sebesar apapun, memiliki fungsi presisi yang telah ditentukan (مَّوْزُونٍ - menurut ukuran).
Puncak dari ayat ini adalah penegasan bahwa Allah menumbuhkan segala sesuatu di bumi menurut ukuran. Dari biji terkecil hingga pohon tertinggi, semuanya tumbuh sesuai rasio dan kebutuhan ekologis yang telah ditetapkan Allah, memastikan keberlanjutan ekosistem.
Memasuki ayat ke-20, fokus beralih dari struktur fisik bumi ke fungsi penghidupannya. Allah berfirman: "Dan Kami telah menjadikan untukmu di bumi itu (sumber-sumber) penghidupan (مَعَايِشَ)..." Kata "ma'ayish" mencakup segala bentuk mata pencaharian, mulai dari pertanian, perdagangan, peternakan, hingga sumber daya alam lainnya yang memungkinkan manusia bertahan hidup.
Namun, yang paling menarik dan mendalam adalah kelanjutan ayat tersebut: "...dan (Kami ciptakan pula) bagi mereka yang kamu sekali-kali bukanlah pemberi rezeki kepadanya." Siapakah yang dimaksud dengan "mereka"? Para mufassir sepakat bahwa ini merujuk pada makhluk-makhluk lain, termasuk hewan liar, serangga, dan tumbuhan yang tidak berada di bawah kendali langsung manusia, bahkan juga generasi manusia yang akan datang.
Ayat 20 adalah teguran keras terhadap kesombongan manusia. Meskipun manusia diberi kemampuan untuk berusaha mencari rezeki, hakikat pemberi rezeki yang sesungguhnya tetaplah Allah. Kekuatan manusia terbatas; kita tidak bisa menjamin rezeki bagi tetangga kita, apalagi bagi seluruh makhluk tak terlihat yang hidup berdampingan dengan kita.
Kombinasi Al-Hijr 19 dan 20 mengajarkan kita tawakal yang sejati. Karena bumi telah dipersiapkan secara sempurna (Ayat 19) dan karena kita menyadari bahwa rezeki datang dari sumber yang lebih besar dari usaha kita (Ayat 20), maka sikap seorang mukmin haruslah selalu bersyukur dan tidak berputus asa.
Pertama, kita harus menghargai setiap jengkal bumi yang Allah hamparkan, menjaganya dari kerusakan, karena ia adalah wadah rezeki yang terukur. Kedua, kita harus berupaya dalam mencari penghidupan (ikhtiar), namun hasil akhirnya harus diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Keyakinan bahwa Allah Maha Pemberi Rezeki, bahkan untuk makhluk yang tidak kita kenal dan kelola, menumbuhkan rasa damai dan menghilangkan ketamakan berlebihan.
Surah Al-Hijr ayat 19 dan 20 adalah cetak biru ilahiah tentang keteraturan alam semesta dan jaminan pemeliharaan Ilahi. Memahami ayat ini secara mendalam akan membebaskan hati dari kekhawatiran yang tidak perlu dan mengarahkan jiwa untuk selalu tunduk pada Sang Pencipta yang mengatur segala ukuran kehidupan.