Memahami Kekuatan Alam dalam Al-Hijr Ayat 19

Pembukaan tentang Kekuasaan Allah

Al-Qur'an adalah sumber petunjuk ilahi yang tak terbatas, memuat ayat-ayat yang menjelaskan sifat-sifat Allah SWT, terutama keagungan-Nya dalam menciptakan dan memelihara alam semesta. Salah satu surat yang sangat menekankan aspek penciptaan ini adalah Surah Al-Hijr (Surat ke-15). Di dalamnya, terdapat ayat-ayat yang mengajak manusia merenungkan bagaimana Allah mengatur setiap detail kehidupan, mulai dari yang terkecil hingga bentangan jagat raya.

Fokus kita hari ini adalah pada salah satu ayat kunci yang sering direnungkan oleh para mufassir mengenai keseimbangan dan keberlangsungan hidup di bumi. Ayat tersebut adalah Al-Hijr ayat 19. Ayat ini bukan sekadar deskripsi visual, melainkan sebuah janji dan sebuah instruksi fundamental mengenai bagaimana bumi dipersiapkan untuk menopang kehidupan makhluk-Nya.

Bumi Terbentang & Dibuat Kokoh

Ilustrasi bumi yang kokoh dan subur sebagai manifestasi kekuasaan-Nya.

Teks dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 19

Ayat ke-19 dari Surah Al-Hijr ini secara eksplisit membahas proses persiapan bumi untuk kehidupan. Bunyi ayat tersebut dalam bahasa Arab adalah:

وَإِلَى ٱلْأَرْضِ كَيْفَ سُطِحَتْ

Terjemahan yang paling umum dan dipahami secara luas adalah:

"Dan kepada bumi (bagaimana ia) dihamparkan?" (Al-Hijr: 19)

Kata kunci di sini adalah "suthihat" (سُطِحَتْ), yang berasal dari kata dasar "sath" yang berarti meratakan, membentangkan, atau membuat datar. Frasa ini mengajak perenung untuk melihat bumi bukan sebagai objek statis yang kasar, melainkan sebagai hamparan luas yang telah diatur sedemikian rupa agar dapat dihuni.

Makna 'Dihamparkan' dalam Perspektif Sains dan Iman

Meskipun dalam konteks awal ayat ini berbicara tentang keajaiban pemandangan di sekitar Makkah dan wilayah Hijr (yang saat itu terlihat luas terhampar), makna ayat ini meluas hingga mencakup fakta alamiah yang baru terungkap belakangan. Konsep "dihamparkan" (suthihat) sering kali menjadi titik temu antara tafsir Al-Qur'an dan pengetahuan modern.

Secara harfiah, bumi bukanlah piringan datar sempurna, melainkan berbentuk oblate spheroid (agak pepat di kutub). Namun, bagi mata manusia yang hidup di permukaannya, bumi tampak terhampar luas dan datar. Ayat ini mengajarkan bahwa dari sudut pandang yang relevan bagi penghuni (yaitu, di mana kita bisa hidup, bertani, dan melakukan perjalanan), bumi telah diformat menjadi permukaan yang fungsional. Ia menyediakan landasan yang stabil untuk berpijak dan mengalirkan air.

Lebih lanjut, para ulama menafsirkan penghamparan ini juga mencakup proses geologis: pembentukan dataran luas, lembah, dan pegunungan (yang ditegaskan dalam ayat selanjutnya, Al-Hijr: 15). Pegunungan berfungsi sebagai pasak (awtadan) yang memancangkan dan menstabilkan kerak bumi agar tidak berguncang sewaktu-waktu—sebuah konsep yang sangat sejalan dengan ilmu tektonik lempeng modern. Penghamparan bumi adalah prasyarat bagi keberlangsungan ekosistem dan peradaban. Tanpa "penghamparan" ini, air tidak akan mengalir dengan baik, dan sumber kehidupan tidak dapat tersebar merata.

Implikasi Filosofis dan Spiritual

Ketika Al-Hijr ayat 19 menanyakan "bagaimana ia dihamparkan?", ini adalah panggilan untuk bersyukur. Setiap jengkal tanah yang kita pijak, setiap sumber air yang mengalir, adalah hasil dari pengaturan ilahi yang presisi. Keberadaan hamparan bumi yang mendukung kehidupan adalah bukti nyata dari sifat Allah yang Maha Pemurah (Ar-Rahman) dan Maha Mengatur (Al-Muddabbir).

Ayat ini mendorong kita untuk keluar dari rutinitas sempit dan mulai merenungkan cakrawala yang lebih besar. Ketika seseorang merenungkan hamparan padang pasir yang luas, atau dataran hijau yang membentang, kesadaran bahwa semua itu adalah hasil "penghamparan" yang terencana oleh Sang Pencipta akan menumbuhkan rasa takzim dan ketenangan batin. Manusia seharusnya memanfaatkan hamparan bumi yang telah disediakan ini dengan penuh tanggung jawab, bukan dengan perusakan yang merusak keseimbangan yang telah ditetapkan.

Keseimbangan antara tekstur bumi yang datar untuk permukiman dan pegunungan yang kokoh untuk menstabilkan, menunjukkan kebijaksanaan yang melampaui pemahaman manusia biasa. Oleh karena itu, merenungkan Al-Hijr ayat 19 adalah langkah awal untuk mengakui bahwa setiap aspek alam semesta adalah tanda-tanda kebesaran Allah yang patut kita pelajari dan syukuri.

🏠 Homepage