Dalam ajaran Islam, keimanan sejati tidak cukup hanya dibuktikan dengan ritual ibadah formal seperti shalat, puasa, atau zakat. Fondasi yang menopang seluruh bangunan iman tersebut adalah akhlak (karakter moral). Inilah sebabnya mengapa penekanan bahwa setiap muslim harus berakhlak begitu kuat tertanam dalam sumber-sumber ajaran Islam. Rasulullah Muhammad SAW pernah bersabda, "Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." Hadis ini secara gamblang menunjukkan bahwa tujuan utama kerasulan adalah pembentukan karakter yang luhur.
Akhlak bukan sekadar sopan santun permukaan; ia adalah manifestasi internal dari keyakinan seseorang terhadap Allah SWT. Seseorang yang memiliki keimanan yang kuat akan secara otomatis memancarkan perilaku yang baik, jujur, rendah hati, dan penuh kasih sayang, bahkan ketika tidak ada yang mengawasinya. Inilah ujian sesungguhnya dari kualitas keislaman seseorang.
Ilustrasi: Akhlak sebagai buah dari keimanan yang ditebar.
Terdapat beberapa alasan mendasar mengapa setiap muslim harus berakhlak luhur. Pertama, akhlak adalah faktor penentu kedekatan dengan Rasulullah SAW di akhirat. Beliau menegaskan bahwa di antara amal yang paling berat timbangannya di Hari Kiamat adalah husnul khuluq (akhlak yang baik). Ini menunjukkan bahwa kualitas moral lebih berharga daripada kuantitas ibadah ritual semata.
Kedua, akhlak yang baik adalah alat dakwah yang paling efektif. Manusia modern mungkin tidak tertarik pada retorika yang panjang, namun mereka sangat terpengaruh oleh keteladanan. Ketika seorang muslim bersikap jujur dalam bisnis, sabar menghadapi musibah, dan ramah kepada tetangga yang berbeda keyakinan, ia telah melakukan dakwah yang sunyi namun kuat. Akhlak adalah wajah Islam di mata dunia.
Ketiga, akhlak mempengaruhi kualitas hubungan interpersonal. Masyarakat yang dibangun oleh individu-individu yang berakhlak mulia—saling menghormati, tidak menipu, menepati janji—akan menjadi masyarakat yang harmonis, stabil, dan penuh berkah. Ini adalah fondasi dari 'ummah yang madani'.
Untuk mewujudkan tuntutan bahwa setiap muslim harus berakhlak, ada beberapa pilar utama yang harus diperhatikan dan dilatih secara berkelanjutan:
Pengembangan akhlak ini adalah proses seumur hidup (tadzkiratun nafs). Tidak ada seorang pun yang lahir dengan kesempurnaan moral. Ia harus diasah melalui muhasabah (introspeksi diri) harian dan menjadikannya bagian tak terpisahkan dari setiap aktivitas, mulai dari bangun tidur hingga kembali beristirahat.
Pada akhirnya, Islam menuntut kesatuan antara keyakinan (aqidah) dan praktik (syariah), yang berpuncak pada penampilan luar biasa (akhlak). Jika ritual ibadah kita sempurna namun akhlak kita buruk—berbohong, menyakiti orang lain, atau sombong—maka nilai ibadah tersebut terancam hangus. Oleh karena itu, mari kita jadikan penekanan bahwa setiap muslim harus berakhlak mulia sebagai komitmen utama dalam perjalanan keimanan kita, meneladani Nabi Agung Muhammad SAW dalam setiap ucapan dan perbuatan.