Ilustrasi Penciptaan Manusia dari Tanah Liat Gambar abstrak yang menunjukkan tangan ilahi membentuk sosok dari tanah liat merah. Proses Penciptaan

Memahami Firman Allah: Al-Hijr Ayat 28

Al-Qur'an penuh dengan ayat-ayat yang tidak hanya berisi perintah dan larangan, tetapi juga mengungkapkan hikmah mendalam tentang penciptaan, alam semesta, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan para mufassir adalah surat Al-Hijr ayat ke-28. Ayat ini secara eksplisit menceritakan dialog agung antara Allah SWT dengan para malaikat mengenai rencana penciptaan manusia.

Teks dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 28

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي خَالِقٌ بَشَرًا مِّن صَلْصَالٍ مِّنْ حَمَإٍ مَّسْنُونٍ
"(Ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: 'Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.'"

Ayat ini, yang merupakan pembuka dari sebuah rangkaian wahyu yang sangat penting, menandai momen krusial dalam sejarah kosmos. Ini adalah saat Allah memberitahukan kepada para malaikat mengenai kehendak-Nya untuk menempatkan khalifah-Nya di bumi.

Kandungan Hakikat Penciptaan

Fokus utama dari Al-Hijr ayat 28 terletak pada dua frasa kunci yang menjelaskan asal-usul manusia: "shalshalin min hamain masnun".

1. Shalshalin (Tanah Liat Kering)

Kata shalshal mengacu pada tanah liat yang sudah melalui proses pengeringan, yang ketika diketuk akan menghasilkan bunyi gemerincing atau berdering. Ini menunjukkan tahapan awal pembentukan fisik manusia yang berbeda dari penciptaan sebelumnya. Proses ini menyiratkan bahwa materi dasar kehidupan manusia adalah unsur bumi yang rapuh, kering, dan mudah pecah jika tidak diperhatikan.

2. Hamain Masnun (Lumpur Hitam yang Diberi Bentuk)

Lalu, ayat ini menyebutkan sumbernya, yaitu hamain masnun, yang diterjemahkan sebagai lumpur hitam yang sudah melalui proses pembentukan atau pengolahan. Dalam konteks tafsir, ini merujuk pada proses awal di mana tanah liat bercampur dengan air dan kemudian diolah (ditenun atau dicampur hingga merata) oleh Kekuatan Ilahi sebelum akhirnya dibentuk menjadi rupa manusia.

Perpaduan antara tanah liat kering (yang rapuh) dan lumpur hitam (yang sudah diolah) memberikan gambaran materialitas manusia. Ini adalah pengingat bahwa meskipun manusia akan dihembuskan Ruhullah dan diberikan akal budi yang mulia, asal-usulnya sangatlah rendah dan fana. Kehinaan asal materi ini seringkali digunakan sebagai landasan untuk menjelaskan sifat dasar manusia yang cenderung lupa diri dan sombong.

Dialog dengan Malaikat dan Hikmahnya

Reaksi para malaikat terhadap pemberitahuan ini tertera pada ayat-ayat selanjutnya (ayat 29 dan 30), di mana mereka menunjukkan kekhawatiran. Malaikat bertanya, "Apakah Engkau hendak menjadikan (makhluq) yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"

Dialog ini mengajarkan beberapa hal penting:

Oleh karena itu, Al-Hijr ayat 28 bukan sekadar deskripsi proses penciptaan fisik, tetapi juga sebuah fondasi teologis tentang status manusia di bumi sebagai khalifah. Ia mengingatkan kita akan dualitas keberadaan kita: materi yang berasal dari debu bumi, namun mengandung potensi spiritual yang sangat tinggi karena hembusan Ruh Ilahi.

Memahami ayat ini berarti kita harus selalu menempatkan diri di posisi yang tepat: menghargai karunia akal dan potensi kebaikan, sambil senantiasa mengingat keterbatasan dan kelemahan materi asal kita. Ini adalah pelajaran abadi tentang keseimbangan antara potensi kemuliaan dan ancaman kehinaan dalam diri manusia.

🏠 Homepage