Memahami Kekuatan Al-Hijr Ayat 3

Teks dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 3

Surah Al-Hijr, yang merupakan surat ke-15 dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran mendalam mengenai keesaan Allah, penciptaan, dan konsekuensi dari perbuatan manusia. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan adalah ayat ketiga.

رُبَمَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا لَوْ كَانُوا مُسْلِمِينَ (Ruba mā yawaddu alladhīna kafarū law kānū muslimīn)

Terjemahan: "Orang-orang yang kafir itu, (pada suatu saat) akan mengharapkan seandainya mereka dahulu adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)."

Ayat ini merupakan sebuah peringatan keras yang disampaikan Allah SWT kepada mereka yang menolak kebenaran saat ini, namun kelak, di akhirat, akan merasakan penyesalan yang mendalam.

Ilustrasi Penyesalan dan Cahaya Petunjuk Kekufuran (Penolakan) Penyesalan Petunjuk (Islam)

Konteks Penyesalan di Hari Akhir

Ayat Al-Hijr ayat 3 menyoroti sebuah momen dramatis di mana posisi akan dibalik secara total. Di dunia, mereka yang menolak risalah kenabian, merasa bangga dengan status sosial, harta, atau kekuatan mereka, kini akan mendapati bahwa semua itu tidak berarti apa-apa.

Kata kunci dalam ayat ini adalah "yauddu" (mengharap atau mendambakan) dan "law kānū muslimīn" (seandainya mereka menjadi orang-orang yang berserah diri).

Bayangkan keadaan ketika tirai kehidupan dunia telah ditutup, dan setiap jiwa berdiri tegak menunggu keputusan Ilahi. Pada saat itulah, realitas kebenaran yang dulu mereka tolak tampak begitu jelas dan begitu berharga. Keinginan mereka untuk berubah status dari kafir menjadi muslim saat itu sudah terlambat. Pintu taubat secara definitif telah tertutup bagi mereka yang telah menyaksikan kebenaran tanpa mengimaninya.

Perbedaan dengan Dunia

Di dunia, manusia memiliki kebebasan memilih. Mereka bisa memilih untuk mengikuti ajaran Islam atau menolaknya. Islam, yang berarti penyerahan diri total kepada kehendak Allah, menawarkan ketenangan dan jalan keluar dari kebingungan eksistensial. Namun, penolakan mereka didasari oleh kesombongan (sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat sebelumnya di Surah Al-Hijr, misalnya ayat 8 mengenai penciptaan jin dari api).

Ketika penyesalan itu muncul, ia bukan lagi penyesalan biasa, melainkan penyesalan eksistensial yang mencakup seluruh keberadaan mereka. Mereka menyadari bahwa kemuliaan sejati terletak pada kepatuhan, bukan pada penolakan yang didasari oleh keraguan dan ego.

Pelajaran Penting untuk Umat Saat Ini

Meskipun ayat ini berbicara tentang nasib orang-orang kafir di akhirat, ia mengandung pelajaran yang sangat relevan bagi setiap Muslim hari ini. Hikmahnya adalah tentang pentingnya bertindak cepat dalam kebaikan dan keimanan.

Jika orang yang telah melihat akibatnya sangat berharap bisa menjadi Muslim, betapa seharusnya kita—yang telah menerima petunjuk dan masih diberi waktu—memperkuat keislaman kita? Ayat ini menjadi cambuk motivasi agar kita tidak menunda-nunda ketaatan.

Penyerahan diri (Islam) seharusnya menjadi pilihan yang disyukuri dan dihidupi secara total, bukan sesuatu yang dianggap remeh atau sesuatu yang bisa ditunda hingga batas waktu yang tidak pasti. Kita harus memanfaatkan sisa usia kita untuk memperkuat ikatan dengan Allah, karena saat penyesalan tiba, tidak ada lagi kesempatan untuk membalikkan keadaan. Keinginan mereka untuk "berserah diri" adalah pengakuan bahwa itulah satu-satunya jalan yang benar, jalan yang seharusnya mereka tempuh sejak awal.

Oleh karena itu, merenungi Al-Hijr ayat 3 mengingatkan kita bahwa waktu di dunia ini adalah modal terbesar kita. Gunakanlah waktu ini untuk mewujudkan penyerahan diri yang tulus, sebelum penyesalan yang tak berujung menjadi satu-satunya realitas di hari perhitungan.

🏠 Homepage