Tafsir dan Hikmah Surah Al-Isra' Ayat 12

Al-Isra' (Perjalanan Malam) - Ayat 12
Simbol Cahaya dan Pengetahuan Representasi visual dari ayat yang berkaitan dengan perintah untuk mencari rezeki di siang hari dan bertawakal.
۞ وَلِنَبْتَغِيَ مِن فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
"Dan agar kamu mencari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur." (QS. Al-Isra' [17]: 12)

Konteks Ayat dan Makna Mendalam

Ayat 12 dari Surah Al-Isra' ini adalah bagian integral dari serangkaian ayat (ayat 9 hingga 14) yang membahas tata krama Islam dalam kehidupan sehari-hari, khususnya berkaitan dengan manajemen waktu antara ibadah dan urusan duniawi. Ayat sebelumnya (Ayat 11) memerintahkan manusia untuk tidak tergesa-gesa meminta keburukan sebagaimana mereka meminta kebaikan. Kemudian, Ayat 12 hadir sebagai penyeimbang yang memberikan justifikasi ilahiah mengapa waktu siang hari harus dimanfaatkan secara optimal.

Secara eksplisit, ayat ini menyatakan dua tujuan utama mengapa Allah SWT menciptakan siang hari dan memerintahkan manusia untuk beraktivitas di dalamnya: (1) Untuk mencari karunia-Nya (rizki), dan (2) Agar manusia menjadi golongan yang bersyukur.

1. Mencari Karunia Allah (Pencarian Rizki)

Islam bukanlah agama yang menganjurkan kemalasan atau pasifisme dalam mencari nafkah. Ayat ini menegaskan bahwa mencari rezeki adalah bagian dari ibadah, asalkan dilakukan dengan cara yang halal dan penuh tanggung jawab. Kata "Fadhl" (فضل) dalam konteks ini berarti keutamaan, kemurahan, atau karunia dari Allah. Ini menyiratkan bahwa segala usaha yang dilakukan manusia adalah atas dasar anugerah dan izin-Nya.

Manusia diperintahkan untuk memanfaatkan waktu siang yang terang benderang, yakni waktu di mana pergerakan fisik lebih mudah dilakukan, untuk bekerja, berdagang, bertani, atau menjalankan profesi apa pun yang bermanfaat bagi diri, keluarga, dan masyarakat. Mengabaikan waktu siang untuk bekerja dan hanya beribadah di malam hari (meski ibadah malam sangat dianjurkan) dapat dianggap sebagai bentuk ketidakseimbangan dalam menjalani kehidupan duniawi yang telah disediakan Allah. Ini adalah panggilan untuk aktif, produktif, dan mencari rezeki dengan etos kerja yang Islami.

2. Tujuan Agar Bersyukur

Tujuan kedua dan yang lebih tinggi adalah agar manusia mampu bersyukur. Syukur (Syukur) bukanlah sekadar ucapan "Alhamdulillah", melainkan sebuah manifestasi tiga dimensi: pengakuan dalam hati, pengucapan lisan, dan pembuktian melalui perbuatan.

Ketika seseorang bekerja keras mencari karunia Allah di siang hari, kemudian ia berhasil memperolehnya, maka kesempatan untuk bersyukur menjadi lebih besar. Jika seseorang hanya bergantung pada mukjizat tanpa usaha, rasa syukurnya mungkin dangkal. Namun, ketika ia melihat bahwa hasil kerja kerasnya setimpal dengan izin Allah, maka rasa terima kasihnya akan lebih mendalam dan otentik. Syukur di sini terkait erat dengan kesadaran bahwa kemampuan untuk berusaha dan hasil yang didapat berasal dari Sumber yang sama: Allah SWT.

Hikmah Penyeimbangan Dunia dan Akhirat

Ayat 12 Al-Isra' mengajarkan prinsip keseimbangan fundamental dalam Islam. Malam hari diperuntukkan untuk refleksi diri, shalat malam (Qiyamul Lail), dan mendekatkan diri kepada Allah dalam suasana hening. Sebaliknya, siang hari adalah waktu untuk melaksanakan amanah duniawi, yakni mencari penghidupan.

Allah SWT menciptakan siang dan malam sebagai dua siklus yang saling melengkapi. Barangsiapa yang menyalahgunakan siang untuk bermalas-malasan dan menyalahgunakan malam untuk maksiat, ia telah gagal memahami hikmah dari penciptaan alam semesta ini. Surah ini mengarahkan umat Islam untuk menjadi pribadi yang seimbang: tekun beribadah di malam hari, dan giat bekerja mencari rezeki di siang hari, selalu dengan niat agar mendapat keridaan dan karunia-Nya, sehingga lisan dan amal perbuatannya selalu dihiasi rasa syukur. Keseimbangan ini adalah kunci menuju keberkahan hidup yang sejati.

🏠 Homepage