Ilustrasi Konsep Kepatuhan dan Penolakan
Surat Al-Hijr (ayat ke-15 dalam Al-Qur'an) menceritakan kisah penting mengenai penciptaan Nabi Adam AS dan penolakan iblis untuk bersujud kepadanya. Ayat 32 dari surat ini adalah titik puncak dari dialog antara Allah SWT dengan Iblis, yang secara gamblang menunjukkan kesombongan dan pembangkangan entitas tersebut terhadap perintah langsung dari Sang Pencipta. Memahami Al-Hijr ayat 32 adalah memahami akar permasalahan keangkuhan dan konsekuensinya.
قَالَ يَا إِبْلِيسُ مَا مَنَعَكَ أَن تَكُونَ مَعَ السَّاجِدِينَ
(Allah) berfirman, "Hai Iblis, apakah yang menghalangimu sehingga engkau tidak termasuk (di antara) mereka yang bersujud (kepada Adam)?"
Ayat ini mengandung beberapa poin penting yang perlu direnungkan. Pertama, adalah **panggilan langsung** dari Allah kepada Iblis ("Yā Iblīs"). Panggilan ini menunjukkan bahwa Iblis tadinya berada dalam lingkaran perintah ilahi, bahkan mungkin berada di antara barisan malaikat, sebelum ia melanggar perintah. Ini bukan sekadar teguran, melainkan sebuah kesempatan terakhir untuk klarifikasi.
Kedua, adalah inti pertanyaannya: "Mā mana‘aka an takūna ma‘as-sājidīn?" (Apakah yang menghalangimu hingga engkau tidak bersujud bersama mereka?). Pertanyaan ini bukanlah pertanyaan karena Allah tidak mengetahui jawabannya. Allah SWT Maha Tahu segalanya. Pertanyaan ini bersifat retoris, berfungsi sebagai pengadilan, memberikan kesempatan kepada Iblis untuk mengakui kesalahannya, serta membuka pintu bagi Iblis untuk menyampaikan alasannya.
Respons Iblis (yang disebutkan pada ayat berikutnya, Al-Hijr: 33) menunjukkan bahwa penghalangnya adalah **kesombongan dan pembenaran diri**. Iblis merasa dirinya lebih unggul karena diciptakan dari api, sementara Adam dari tanah. Inilah pelajaran krusial dari ayat 32: penolakan untuk tunduk datang dari rasa superioritas yang diciptakan oleh pemikiran sempit, mengabaikan sumber otoritas yang mutlak, yaitu Allah SWT.
Sujud dalam konteks ini memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar gerakan fisik. Sujud adalah puncak dari pengakuan keesaan (tauhid) dan penyerahan diri total (Islam) terhadap kehendak Allah. Ketika Iblis menolak bersujud kepada Adam, ia sejatinya menolak kedaulatan Allah untuk menentukan siapa yang layak dihormati dalam tatanan ciptaan-Nya. Adam diangkat derajatnya sebagai khalifah, dan perintah bersujud adalah penghormatan terhadap mandat ilahi tersebut.
Bagi umat manusia, ayat ini menjadi peringatan keras. Rasa sombong, dengki, atau merasa diri lebih baik dari orang lain—meskipun dalam hal ilmu, status, atau keturunan—adalah potensi jebakan yang sama yang menjerat Iblis. Ketika kita merasa bahwa perintah tertentu dari syariat atau moralitas tidak sepadan dengan ego kita, kita secara tidak sadar sedang menempatkan hawa nafsu kita di atas perintah Tuhan.
Kehadiran "bersama orang-orang yang bersujud" (ma‘as-sājidīn) menekankan pentingnya komunitas yang taat. Ibadah yang ideal adalah ibadah yang dilakukan dalam kerangka ketaatan kolektif kepada Allah. Kegagalan Iblis adalah kegagalan individual yang terisolasi dari rahmat jamaah yang patuh.
Kepatuhan sejati tidak memerlukan justifikasi rasional yang memuaskan ego. Kepatuhan hanya membutuhkan keyakinan bahwa Yang memerintah adalah Maha Benar dan Maha Bijaksana. Al-Hijr ayat 32 menyoroti momen krusial di mana logika Iblis yang terdistorsi oleh kesombongan mengalahkan logika iman yang mengharuskan penerimaan tanpa syarat terhadap perintah ilahi.
Ketika kita dihadapkan pada perintah agama atau etika yang terasa berat, kita harus mengingat Iblis. Apakah penolakan kita berakar dari keengganan untuk menundukkan superioritas palsu yang kita ciptakan sendiri? Refleksi dari ayat ini mendorong kita untuk membersihkan hati dari noda keangkuhan, agar kita senantiasa dapat bergabung bersama barisan orang-orang yang bersujud, baik dalam shalat formal maupun dalam penyerahan diri total terhadap kehendak Allah dalam setiap aspek kehidupan.