Memahami Pesan Keadilan dalam Al-Isra Ayat 28

Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj (Perjalanan Malam dan Kenaikan Nabi Muhammad SAW), memuat banyak sekali ajaran moral dan etika penting bagi umat Islam. Salah satu ayat yang sering direnungkan karena relevansinya dengan kehidupan sosial adalah ayat ke-28.

Teks dan Terjemahan Surah Al-Isra Ayat 28

وَاِمَّا تُعْرِضَنَّ عَنْهُمُ ابْتِغَآءَ رَحْمَةٍ مِّن رَّبِّكَ تَرْجُوْهَا فَقُلْ لَّهُمْ قَوْلًا مَّيْسُوْرًا
"Dan jika engkau (Muhammad) terpaksa berpaling dari mereka untuk mencari rahmat dari Tuhanmu yang engkau harapkan, maka berbicaralah kepada mereka dengan perkataan yang lembut." (QS. Al-Isra [17]: 28)

Konteks Penurunan Ayat

Ayat ini diturunkan dalam konteks sosial dan ekonomi masyarakat Arab pra-Islam yang sering kali penuh dengan kesenjangan. Ayat-ayat sebelumnya dalam surah ini telah menekankan pentingnya menunaikan hak-hak fakir miskin, anak yatim, dan kerabat dekat. Ayat 28 secara spesifik membahas situasi ketika seorang Muslim, yang mungkin memiliki kemampuan finansial atau posisi sosial yang lebih baik, harus berinteraksi dengan mereka yang membutuhkan bantuan atau memiliki hak atas kebaikan.

Ayat ini memberikan panduan yang sangat praktis: jika karena suatu alasan (misalnya, keterbatasan sumber daya saat itu atau kondisi tertentu) kita tidak bisa memberikan apa yang diharapkan oleh mereka yang membutuhkan, kita tidak boleh menolak mereka dengan kasar atau mengabaikan mereka. Kunci utamanya adalah 'perkataan yang lembut' (qawlan maysuran).

Pentingnya Perkataan yang Lembut (Qawlan Maysuran)

Konsep "perkataan yang lembut" adalah inti dari ayat ini. Ini bukan sekadar tata krama berbicara, melainkan sebuah manifestasi dari empati dan rasa hormat yang mendalam terhadap sesama manusia. Dalam Islam, cara kita menyampaikan penolakan atau ketidakmampuan jauh lebih penting daripada penolakan itu sendiri.

Mengapa kelembutan begitu ditekankan? Karena orang yang membutuhkan sering kali sudah merasa rentan secara psikologis. Penolakan yang keras atau kata-kata yang menyakitkan dapat menambah luka batin mereka, bahkan jika pada akhirnya kita tidak dapat memberikan bantuan materi yang mereka harapkan. Perkataan yang lembut menunjukkan bahwa kita masih menghargai keberadaan mereka sebagai sesama ciptaan Allah.

Menjaga Martabat dalam Interaksi Sosial

Ayat ini mengajarkan bahwa martabat seseorang harus dijaga dalam setiap interaksi, terutama ketika berhadapan dengan mereka yang kurang beruntung. Ketika kita berbicara dengan lembut, kita mengakui hak mereka untuk diperlakukan dengan hormat, terlepas dari status ekonomi atau sosial mereka. Ini adalah cerminan dari ketaatan kita kepada Allah SWT, yang memerintahkan kita untuk mencari rahmat-Nya melalui tindakan kasih sayang dan kebaikan hati.

Dalam konteks modern, ayat ini relevan dalam berbagai situasi, mulai dari pelayanan pelanggan, interaksi di lingkungan kerja, hingga hubungan tetangga. Ketika kita harus menyampaikan berita yang tidak menyenangkan atau menolak permintaan, melakukannya dengan cara yang penuh kasih sayang adalah bentuk ibadah yang mulia. Hal ini menunjukkan bahwa kita mengutamakan akhlak mulia di atas kepentingan pribadi atau ego.

Ilustrasi Keadilan dan Kelembutan

Bayangkan sebuah skenario di mana seseorang datang meminta bantuan, namun Anda sedang dalam kondisi serba terbatas. Alih-alih mengatakan "Tidak ada!" dengan nada ketus, ayat ini mendorong kita untuk mengatakan, "Maaf, saat ini saya benar-benar tidak memiliki apa yang Anda butuhkan, namun saya sangat menghargai Anda telah datang menemui saya." Perbedaan antara kedua respons tersebut sangat signifikan dalam perspektif ilahiah.

Oleh karena itu, Surah Al-Isra ayat 28 bukan hanya pedoman bagi mereka yang mampu membantu, tetapi juga panduan etika universal tentang cara berkomunikasi dengan penuh empati dan menjaga kebaikan hati, bahkan ketika kita tidak dapat memenuhi ekspektasi orang lain.

Berbicara Lembut

Kesimpulan

Surah Al-Isra ayat 28 adalah pengingat kuat bahwa Islam sangat menjunjung tinggi etika dalam interaksi sosial. Keadilan bukan hanya tentang distribusi materi, tetapi juga tentang cara kita memperlakukan sesama, terutama mereka yang berada dalam posisi yang memerlukan kepekaan kita. Kelembutan dalam berbicara adalah jembatan yang menghubungkan hati, bahkan ketika sumber daya kita terbatas.

🏠 Homepage