"Sesungguhnya Jahanam itu adalah tempat yang dijanjikan bagi mereka semua,"
(QS. Al-Hijr: 43)
Surah Al-Hijr, yang berarti 'Batu Karang' atau 'Lembah Batu', adalah surah Makkiyah yang kaya akan peringatan dan penguatan iman. Ayat 43 datang sebagai penutup dari serangkaian ayat yang membahas tentang bagaimana kaum musyrikin Mekah menolak dakwah Nabi Muhammad SAW. Ayat-ayat sebelumnya telah menceritakan kisah kaum Nabi Luth, Tsamud, dan kaum lainnya yang diazab karena mendustakan kebenaran yang dibawa oleh para rasul mereka.
Ayat 43 ini berfungsi sebagai penegasan final dan peringatan keras (tahdid) bagi mereka yang berpaling dari ajaran tauhid. Frasa "tempat yang dijanjikan bagi mereka semua" mengacu pada neraka Jahanam. Kata "dijanjikan" (ma'ad) di sini bukanlah janji kebaikan, melainkan janji hukuman yang pasti akan ditepati oleh Allah SWT bagi siapa pun yang memilih jalan penolakan, kesombongan, dan kekufuran terhadap ayat-ayat-Nya.
Dalam terminologi Al-Qur'an, janji Allah SWT selalu terwujud, baik itu janji rahmat maupun janji siksa. Bagi orang-orang beriman, janji itu adalah Surga Firdaus. Namun, bagi mereka yang menolak petunjuk dan memilih untuk menentang keras ayat-ayat Allah, janji itu adalah Jahanam. Ini menekankan sifat keadilan Allah yang tidak pernah meleset dalam memberikan konsekuensi atas perbuatan manusia di dunia.
Jahanam digambarkan bukan sekadar tempat penyiksaan acak, melainkan sebuah "tempat tujuan" (ma'ad) yang telah dipersiapkan dan dijanjikan bagi para penolak kebenaran. Ini menimbulkan rasa urgensi bagi setiap pendengar ayat tersebut untuk segera memperbaiki pijakan spiritual mereka, karena konsekuensinya adalah final dan abadi. Peringatan ini ditujukan kepada kaum Quraisy pada masa itu, tetapi maknanya bersifat universal dan berlaku sepanjang masa bagi siapa pun yang mengikuti jejak penolakan mereka.
Tafsir atas Al-Hijr ayat 43 memberikan beberapa pelajaran mendalam. Pertama, konsekuensi dari pilihan hidup kita adalah nyata. Allah SWT tidak membiarkan kekufuran dan pendustaan ayat-Nya tanpa pertanggungjawaban. Kesombongan yang membuat mereka berkata, "Mengapa Allah menurunkan wahyu kepada kita?" (seperti disebutkan di ayat sebelumnya) berujung pada ketetapan neraka.
Kedua, ayat ini mengajarkan tentang pentingnya memahami konsep *al-ghayb* (hal gaib). Meskipun Jahanam adalah hal gaib, keimanannya harus menuntun perilaku di dunia. Kepercayaan bahwa azab itu nyata mendorong seorang mukmin untuk menjauhi maksiat dan mendekati ketaatan. Peringatan ini membantu menyeimbangkan harapan akan rahmat Allah dengan ketakutan akan keadilan-Nya (*khauf* dan *raja'*).
Ketiga, ayat ini menegaskan bahwa jalan menuju kebahagiaan akhirat bukanlah melalui penolakan atau ejekan terhadap risalah, melainkan melalui ketundukan dan penyerahan diri. Setelah serangkaian kisah kaum terdahulu yang diazab karena kesombongan mereka, Allah menutup dengan penegasan bahwa hukuman itu sudah dipastikan bagi mereka yang memilih jalan kesesatan.
Teks Al-Qur'an seringkali memaparkan kontras antara nasib orang beriman dan orang kafir. Bagi orang beriman, janji Allah adalah Surga, sebuah tempat yang penuh kenikmatan abadi. Bagi orang yang mendustakan, janji Allah adalah Jahanam. Kontras ini sangat penting untuk memotivasi umat Islam agar senantiasa waspada terhadap godaan dunia yang sementara dan mengejar balasan akhirat yang kekal.
Para mufassir menjelaskan bahwa kesombongan kaum Quraisy adalah akar dari penolakan mereka. Mereka merasa lebih layak menerima wahyu daripada Nabi Muhammad SAW. Penolakan inilah yang membuat mereka terlempar dari rahmat Allah dan dikategorikan sebagai pihak yang dijanjikan Jahanam.
Al-Hijr ayat 43 adalah sebuah titik akhir retoris yang kuat. Ia memaksa pembaca untuk berhenti sejenak dan merenungkan posisi spiritual mereka. Apakah kita termasuk dalam kelompok yang dijanjikan rahmat, ataukah kita sedang berjalan di jalur yang menuju pada janji siksa? Ayat ini bukan sekadar ancaman, tetapi sebuah undangan terakhir untuk bertaubat dan kembali ke jalan yang lurus sebelum batas waktu yang telah ditentukan Allah SWT tiba. Dengan memahami keseriusan janji azab ini, seorang Muslim seharusnya semakin giat melaksanakan perintah agama dan menjauhi segala larangan-Nya.