Dalam ajaran Islam, pembentukan karakter dan akhlak merupakan pilar fundamental bagi seorang Muslim. Proses penyucian jiwa dan pengembangan diri sering kali dikategorikan ke dalam dua spektrum utama yang saling berlawanan namun saling melengkapi dalam pembinaan moral: Mazmumah dan Mahmudah. Memahami kedua konsep ini sangat penting untuk mencapai keridhaan Allah SWT dan menjalani kehidupan yang seimbang.
Secara sederhana, Mazmumah merujuk pada sifat-sifat tercela atau akhlak yang buruk yang harus dijauhi, sementara Mahmudah adalah sifat-sifat terpuji atau akhlak mulia yang wajib diupayakan dan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Apa Itu Sifat Mazmumah?
Sifat Mazmumah (yang tercela) adalah segala perilaku, watak, atau pandangan yang bertentangan dengan nilai-nilai luhur Islam. Sifat-sifat ini dianggap sebagai penyakit hati yang dapat merusak hubungan seorang hamba dengan Tuhannya, sesama manusia, bahkan merugikan dirinya sendiri di dunia dan akhirat. Tujuan utama perjuangan seorang mukmin (jihadun nafs) adalah membersihkan diri dari sifat-sifat ini.
Contoh Sifat Mazmumah
Beberapa contoh paling umum dari sifat mazmumah meliputi:
- Kesombongan (Kibr): Merasa diri lebih tinggi dari orang lain dan menolak kebenaran. Kesombongan adalah sifat yang pertama kali ditunjukkan oleh Iblis ketika menolak perintah sujud kepada Nabi Adam AS.
- Riya': Melakukan ibadah bukan semata-mata karena Allah, melainkan agar dilihat dan dipuji oleh manusia. Ini mengurangi nilai pahala amal tersebut.
- Hasad (Dengki): Merasa tidak senang atas nikmat yang diterima orang lain, bahkan berharap nikmat tersebut hilang dari mereka.
- Ghibah (Menggunjing) dan Namimah (Adu Domba): Menyebarkan keburukan orang lain di belakang mereka, yang dapat memecah belah persaudaraan.
- Kikir (Syuhh): Terlalu pelit untuk menafkahkan harta di jalan Allah atau membantu sesama.
Mengendalikan dan menghilangkan sifat mazmumah memerlukan kesadaran diri yang tinggi, introspeksi (muhasabah), dan permohonan ampun kepada Allah SWT secara terus-menerus. Sifat-sifat ini adalah penghalang utama menuju kedekatan spiritual.
Menggali Keindahan Sifat Mahmudah
Di sisi lain spektrum, terdapat Mahmudah (yang terpuji). Ini adalah karakter luhur yang dicintai Allah SWT dan Rasul-Nya, serta menjadi landasan tegaknya masyarakat yang harmonis dan beradab. Mengembangkan sifat mahmudah adalah bagian integral dari proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) dan menjadi ciri khas seorang hamba yang saleh.
Contoh Sifat Mahmudah
Mengadopsi sifat mahmudah berarti meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW. Beberapa sifat utama meliputi:
- Ikhlas: Melakukan segala perbuatan semata-mata karena mengharap ridha Allah, tanpa pamrih pujian duniawi. Ini adalah lawan langsung dari riya'.
- Tawadhu' (Rendah Hati): Mengakui kebenaran dan menerima nasihat dari siapapun, tanpa memandang status sosialnya. Ini adalah lawan dari kesombongan.
- Syukur: Mengucapkan terima kasih dan mengakui bahwa segala nikmat berasal dari Allah, baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
- Sabar (Shabr): Keteguhan hati dalam menghadapi ujian dan cobaan tanpa mengeluh atau berputus asa.
- Dermawan (Karam): Kemauan untuk berbagi dan memberi kepada yang membutuhkan, bahkan ketika diri sendiri masih dalam kekurangan.
Mahmudah bukan hanya sekadar konsep teoretis; ia harus termanifestasi dalam tindakan nyata. Seseorang yang memiliki sifat mahmudah akan membawa ketenangan bagi dirinya dan menjadi rahmat (rahmatan lil 'alamin) bagi lingkungannya. Proses penanaman sifat terpuji ini seringkali lebih menantang daripada sekadar menghindari keburukan, karena ia menuntut usaha aktif dan konsistensi.
Jalan Menuju Keseimbangan Akhlak
Perjalanan spiritual seorang Muslim adalah perjalanan dua arah: menjauhi kegelapan mazmumah dan mendekati cahaya mahmudah. Keduanya saling terkait erat. Ketika seseorang berhasil menyingkirkan sifat kikir (mazmumah), secara otomatis ia membuka ruang bagi sifat dermawan (mahmudah) untuk tumbuh subur di hatinya.
Tentu saja, manusia tidak luput dari kesalahan. Kesempurnaan adalah milik Allah semata. Oleh karena itu, ketika kita menyadari bahwa kita tergelincir ke dalam sifat mazmumah, pintu taubat selalu terbuka lebar. Hal terpenting adalah memiliki kesadaran untuk segera beristighfar dan berjanji untuk memperbaiki diri dengan memperkuat amalan-amalan yang mengandung nilai mahmudah.
Mengaplikasikan kedua prinsip ini secara seimbang—menghindari yang dilarang dan mengamalkan yang diperintahkan—adalah resep utama untuk meraih keberuntungan sejati, yaitu keridhaan Allah SWT di dunia dan keselamatan di akhirat. Integritas karakter, yang terwujud dari kombinasi penghilangan mazmumah dan penanaman mahmudah, adalah warisan terbaik seorang Muslim.