Surah Al-Hijr, yang merupakan surah ke-15 dalam Al-Qur'an, membawa pesan-pesan yang mendalam mengenai kebesaran Allah, kisah para nabi terdahulu, dan peringatan bagi mereka yang ingkar. Salah satu ayat kunci yang sering menjadi perenungan adalah ayat kelima, yaitu Al-Hijr Ayat 5.
(Tidaklah suatu umat dapat mendahului ajalnya, dan tidak pula dapat menundanya.)
Inti Pesan Tentang Ketetapan Waktu (Ajal)
Ayat ini secara tegas menegaskan prinsip fundamental dalam ajaran Islam: waktu adalah sepenuhnya di bawah kendali Allah subhanahu wa ta'ala. Kalimat "Tidaklah suatu umat dapat mendahului ajalnya" menekankan bahwa setiap peristiwa, termasuk kehancuran atau kebangkitan suatu kaum, telah ditetapkan waktunya oleh Sang Pencipta. Tidak ada kekuatan, sekecil apa pun, yang mampu mempercepat atau menunda ketetapan ilahi tersebut.
Dalam konteks historis saat ayat ini diturunkan, kaum musyrikin Mekkah sering kali menantang Nabi Muhammad SAW untuk segera menurunkan azab yang dijanjikan jika beliau benar-benar seorang rasul. Mereka menuntut bukti yang instan. Namun, Al-Hijr ayat 5 memberikan jawaban yang lugas: proses kenabian dan periode penangguhan azab memiliki jadwal yang telah ditentukan Allah. Keimanan sejati terletak pada penerimaan terhadap jadwal ilahi ini, bukan pada mendikte kapan azab atau pertolongan itu harus datang.
Keterkaitan dengan Ayat Sebelumnya dan Sesudahnya
Untuk memahami kedalaman Al-Hijr 5, penting untuk melihat konteksnya. Ayat-ayat sebelumnya (Al-Hijr 1-4) berbicara tentang bagaimana Al-Qur'an adalah kebenaran yang diwahyukan, dan betapa seringnya umat-umat terdahulu mendustakan rasul-rasul mereka. Ayat 5 berfungsi sebagai jembatan penegasan bahwa penundaan hukuman atau pembinasaan bukanlah karena keraguan Allah, melainkan karena hikmah dan batas waktu yang telah ditetapkan.
Sementara ayat sesudahnya (Al-Hijr 6 dan seterusnya) melanjutkan dengan kisah kaum Luth dan Samud, ayat 5 ini menjadi pengingat universal bahwa siklus kehidupan, kehancuran, dan kebangkitan selalu terikat pada ketetapan waktu yang tidak bisa diganggu gugat oleh manusia.
Implikasi Teologis dan Psikologis
Pemahaman akan makna Al-Hijr ayat 5 memberikan beberapa implikasi penting bagi kehidupan seorang Muslim:
- Tawakkal yang Sejati: Ketika manusia mengetahui bahwa hasil akhir dan waktunya berada di luar kendalinya, maka sikap terbaik adalah berusaha maksimal (ikhtiar) kemudian berserah diri sepenuhnya (tawakkal) kepada Allah.
- Kesabaran dalam Dakwah: Bagi para dai dan penyeru kebenaran, ayat ini menjadi penyejuk hati. Proses menegakkan kebenaran membutuhkan waktu. Penundaan respons atau penerimaan dari masyarakat tidak boleh mematahkan semangat, karena waktu akhir telah ditetapkan oleh Sang Maha Kuasa.
- Keteguhan Iman terhadap Kematian: Ayat ini juga berlaku pada ajal individu. Setiap manusia akan mati pada waktu yang telah ditentukan. Ini seharusnya mendorong manusia untuk mempersiapkan diri tanpa rasa takut yang berlebihan terhadap kapan ajal itu tiba.
Hikmah di Balik Penundaan
Mengapa Allah menunda atau menetapkan waktu tertentu bagi peristiwa besar, seperti janji kemenangan atau azab? Jawabannya seringkali terletak pada kata "rahmat" dan kesempatan untuk bertaubat. Penundaan memberikan kesempatan bagi sekelompok orang untuk merenung, menyadari kesalahan mereka, dan kembali ke jalan yang benar. Jika azab datang seketika atas setiap pelanggaran kecil, mungkin tidak akan ada lagi yang tersisa di muka bumi.
Al-Hijr ayat 5 mengajarkan kesabaran kosmik. Ia mengingatkan bahwa kesabaran kita harus sebanding dengan kesabaran Allah terhadap kekhilafan manusia. Dalam setiap penundaan, tersembunyi hikmah yang mungkin baru bisa kita pahami sepenuhnya saat waktu ketetapan itu tiba.
Kesimpulannya, Al-Hijr ayat 5 adalah pondasi keimanan terhadap Qada dan Qadar (ketentuan dan ketetapan Allah), khususnya yang berkaitan dengan dimensi waktu. Ia membebaskan kita dari kecemasan untuk mengontrol hasil akhir dan mengarahkan fokus kita pada kepatuhan dan keteguhan hati saat ini, sambil percaya penuh bahwa segalanya berjalan sesuai rencana Yang Maha Sempurna.