Menyingkap Rahasia Al-Hijr Ayat 8: Hikmah Penciptaan Langit dan Bumi

Surah Al-Hijr, yang terletak di Juz ke-14 Al-Qur'an, membawa banyak pelajaran penting mengenai keesaan Allah, kekuasaan-Nya, dan pentingnya mengambil pelajaran dari kisah umat terdahulu. Salah satu ayat yang sering menjadi perenungan mendalam adalah ayat ke-8, yang secara ringkas namun padat menyampaikan salah satu tujuan utama penciptaan alam semesta.

Teks dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 8

وَمَا خَلَقْنَا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ ۖ فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ

"Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya melainkan dengan tujuan yang benar (Al-Haqq). Dan sesungguhnya saat itu (Hari Kiamat) pasti akan datang. Maka berikanlah pemaafan yang baik." (QS. Al-Hijr: 8)

Ayat ini mengandung dua inti besar: **tujuan penciptaan** dan **perintah untuk bersabar serta memaafkan** menjelang kedatangan Hari Kiamat.

Makna Hakiki "Dengan Tujuan yang Benar (Al-Haqq)"

Frasa "إِلَّا بِالْحَقِّ" (illa bil haqq) adalah kunci utama ayat ini. Al-Haqq berarti kebenaran, keadilan, dan tujuan yang pasti. Allah SWT menegaskan bahwa penciptaan langit, bumi, dan segala isinya bukanlah suatu kebetulan atau permainan sia-sia. Semuanya diciptakan dengan ukuran, perhitungan, dan tujuan mulia.

Tujuan utama tersebut, sebagaimana dijelaskan dalam ayat-ayat lain, adalah untuk menjadi sarana ibadah dan pengabdian kepada-Nya, serta sebagai tempat bagi manusia untuk diuji. Langit dengan segala tata suryanya yang teratur, bumi dengan ekosistemnya yang seimbang, semuanya menunjukkan kesempurnaan Sang Pencipta dan menunjukkan bahwa ada hikmah besar di balik eksistensi ini.

Ketika seorang mukmin merenungkan ayat ini, ia akan menyadari bahwa kehidupan dunia ini memiliki batasan dan pertanggungjawaban. Keteraturan kosmos mencerminkan keteraturan syariat yang harus diikuti manusia.

Langit Bumi Al-Haqq

Ilustrasi visualisasi keteraturan penciptaan menuju tujuan yang benar.

Kepastian Hari Kiamat dan Sikap Pemaafan

Setelah menegaskan dasar penciptaan, ayat 8 melanjutkan dengan peringatan keras: "وَمَا بَيْنَهُمَا إِلَّا بِالْحَقِّ ۗ وَإِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ". Kedatangan Hari Kiamat (As-Saa'ah) adalah sebuah kepastian yang tidak terbantahkan, yang juga diciptakan berdasarkan Al-Haqq.

Menyadari bahwa segala sesuatu akan berakhir dan akan ada pertanggungjawaban mutlak, Allah kemudian memberikan perintah yang sangat relevan dalam konteks interaksi sosial sehari-hari: "فَاصْفَحِ الصَّفْحَ الْجَمِيلَ" (Fashfahish-shafhal jamil) — maka berikanlah pemaafan yang baik.

Pemaafan yang baik (Ash-Shafhul Jamil) di sini bukan sekadar melupakan kesalahan tanpa perasaan, tetapi memaafkan dengan ketulusan hati, tanpa ada rasa benci yang tersisa, dan tanpa mengharapkan balasan duniawi. Mengapa perintah ini diletakkan setelah peringatan kiamat?

Karena kesadaran akan Hari Perhitungan seharusnya mendorong seorang Muslim untuk membersihkan hati dari dendam dan permusuhan. Jika kita akan segera kembali kepada Tuhan yang menciptakan segala sesuatu dengan kebenaran, bukankah lebih baik jika kita menyambut kepulangan itu dengan hati yang lapang dan bersih dari konflik dengan sesama?

Pelajaran Praktis dalam Kehidupan

Al-Hijr ayat 8 mengajarkan kita untuk hidup dengan tujuan (bukan sembrono). Setiap tindakan, baik besar maupun kecil, harus mengarah pada kebenaran dan kebaikan.

  1. Refleksi Tujuan: Selalu tanyakan: Apakah aktivitas saya sejalan dengan tujuan penciptaan saya sebagai hamba Allah?
  2. Kesadaran Akhirat: Mengingat bahwa kiamat pasti datang membantu menempatkan masalah duniawi pada proporsinya yang sebenarnya.
  3. Kemuliaan Memaafkan: Memaafkan orang lain adalah bentuk ketaatan langsung kepada perintah Allah, sekaligus persiapan diri untuk menghadapi pertanggungjawaban. Pemaafan yang tulus adalah cerminan jiwa yang telah memahami kebenaran hakiki (Al-Haqq) penciptaan alam semesta.

Dengan demikian, ayat yang tampak singkat ini merangkum filosofi hidup seorang Muslim: hidup terarah menuju kebenaran, mempersiapkan diri untuk pertanggungjawaban, dan membersihkan hati melalui kebaikan memaafkan sesama.

🏠 Homepage