Menggali Hikmah di Balik Al-Hijr Ayat 87

Ilustrasi Ayat Al-Qur'an Gambar abstrak yang mewakili ketenangan dan keagungan wahyu. 87

Surat Al-Hijr, surat ke-15 dalam susunan mushaf Al-Qur'an, penuh dengan kisah para nabi, peringatan tentang azab, dan janji kemudahan. Di tengah ayat-ayat yang membahas penciptaan dan keesaan Allah, terdapat satu ayat yang seringkali menjadi fokus perenungan mendalam: Al-Hijr ayat 87. Ayat ini, meskipun ringkas, mengandung makna yang sangat substansial terkait dengan kedudukan Al-Qur'an di sisi Allah.

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِّنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ
"Dan sungguh, Kami telah memberikan kepadamu tujuh (ayat) yang diulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung."

Memahami Tujuh Ayat yang Diulang-ulang (As-Sab’ul Matsani)

Frasa kunci pertama dalam ayat 87 Al-Hijr adalah "Sab'an Minal Matsani", yang diterjemahkan sebagai "tujuh ayat yang diulang-ulang". Mayoritas ulama tafsir sepakat bahwa yang dimaksud dengan "tujuh ayat yang diulang-ulang" ini adalah Surat Al-Fatihah. Surat Al-Fatihah adalah pembuka Al-Qur'an dan merupakan inti dari setiap rakaat salat kita.

Mengapa disebut "Matsani" (yang diulang-ulang)? Karena ayat-ayatnya dibaca berulang kali dalam salat fardhu maupun sunnah. Keutamaan Al-Fatihah sangatlah besar; ia adalah kunci komunikasi langsung antara hamba dengan Tuhannya. Dalam sebuah hadis Qudsi, Allah SWT berfirman bahwa Dia membagi salat menjadi dua bagian antara Diri-Nya dan hamba-Nya, dan bagi hamba-Nya adalah apa yang ia minta. Ini menunjukkan kedekatan dan pentingnya pengakuan hamba melalui pembacaan Al-Fatihah ini.

Penekanan pada Al-Fatihah di sini berfungsi sebagai pengingat kepada Nabi Muhammad SAW (dan umatnya) bahwa meskipun beliau menerima wahyu yang luas dan agung, pondasi spiritual dan ibadah harian terletak pada tujuh ayat yang ringkas namun padat makna ini. Ia adalah penegasan akan ritual ibadah yang paling fundamental.

Janji Agung: Al-Qur'an yang Agung

Bagian kedua dari ayat tersebut adalah pengakuan akan status kemuliaan kitab suci itu sendiri: "Wal Qur’anal ‘Azhim" (dan Al-Qur’an yang agung). Kata "Al-‘Azhim" (yang agung) menekankan bahwa Al-Qur'an bukan sekadar kumpulan kata, melainkan Kalamullah yang memiliki kedudukan tertinggi.

Ayat ini turun sebagai bentuk penghormatan dan apresiasi Allah kepada Rasul-Nya. Setelah mengingatkan tentang kemuliaan Al-Fatihah, Allah menegaskan bahwa karunia terbesar yang dianugerahkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah keseluruhan Al-Qur'an. Ini adalah sebuah penegasan janji kenabian—bahwa beliau adalah penerima risalah pamungkas yang berisi petunjuk sempurna bagi seluruh umat manusia hingga akhir zaman.

Konsekuensi dari keagungan Al-Qur'an ini menuntut tanggung jawab besar dari umat Islam untuk mempelajari, merenungkan, dan mengamalkan isinya. Keagungan ini juga mengimplikasikan bahwa Al-Qur'an adalah mukjizat yang tak tertandingi, baik dari segi bahasa, hukum, maupun hikmah yang terkandung di dalamnya.

Konteks Ayat dalam Surat Al-Hijr

Surat Al-Hijr banyak membahas tentang bagaimana kaum musyrik Makkah menolak keras kenabian Muhammad SAW dan menuntut mukjizat material. Ayat 87 ini turun sebagai jawaban ilahiah yang elegan. Allah tidak perlu mendatangkan mukjizat berupa hujan batu atau gempa bumi untuk membuktikan kebenaran risalah tersebut, karena mukjizat terbesar sudah ada di tangan Nabi: tujuh ayat yang diulang-ulang (Al-Fatihah) dan Al-Qur'an yang Agung.

Ini mengajarkan kita bahwa validitas risalah Islam tidak terletak pada tontonan sesaat, melainkan pada kebenaran abadi yang termuat dalam wahyu. Jika seseorang mampu melihat keagungan dalam Al-Fatihah yang dibaca setiap hari, maka ia akan mampu menerima keagungan seluruh Al-Qur'an.

Refleksi Kehidupan Sehari-hari

Bagi seorang Muslim, perenungan terhadap Al-Hijr 87 harus menghasilkan dua tindakan utama:

  1. Memperbaiki Kualitas Salat: Dengan menyadari bahwa Al-Fatihah adalah "tujuh ayat yang diulang-ulang" yang dianugerahkan secara khusus, kita harus meningkatkan kekhusyuan dan pemahaman kita saat membacanya dalam salat. Salat kita adalah cerminan seberapa dalam kita menghargai anugerah ini.
  2. Menghormati Al-Qur'an: Menempatkan Al-Qur'an pada posisi tertinggi dalam kehidupan, menjadikannya pedoman utama, dan berusaha keras untuk tidak meninggalkannya dalam keadaan terhina atau terbengkalai. Keagungannya menuntut penghormatan total.

Kesimpulannya, Al-Hijr ayat 87 adalah penegasan surgawi mengenai dua pilar utama dalam ibadah seorang Muslim: fondasi ibadah (Al-Fatihah) dan sumber hukum serta petunjuk paripurna (Al-Qur'an). Keduanya merupakan karunia agung yang harus selalu disyukuri dan dipegang teguh.

Semoga kita selalu termasuk golongan yang memahami dan mengamalkan petunjuk dari Kitabullah yang Agung ini.

🏠 Homepage